Review kali ini kami ambil utuh dari portal gamedaim.com  yang mengulas salah satu mouse Rexus keluaran terbaru, Rexus Xierra G5. Dalam “primbon” Rexus, inisial “G” digunakan untuk menggolongkan seri mouse yang masuk dalam kelas entry level atau mouse gaming standar yang cocok untuk pengguna pemula, tapi fiturnya mulai “mencicipi” gaming mouse kelas pro.

Berikut review media game ini…

Rexus, salah satu brand lokal ikut memperkenalkan produk mouse gaming mereka. Dan salah satunya ialah Rexus Xierra RGM-G5 yang sudah RGB, dengan desain yang cukup ergonomis. Seperti yang kita ketahui, Rexus memang lebih dikhususkan untuk gamer pada tingkatan entry-level, karena harganya yang terjangkau. Hal itu-pun menyesuaikan tagline mereka yaitu “Made for Everyone”.

Di kesempatan kali ini, Gamedaim akan mengulas produk Mouse Rexus Xierra RXM-G5 dari Rexus untuk Gamedaim. Apakah worth it untuk gaming? Atau sekedar pemakaian kasual saja?

Desain Simpel 

Kesan saat melihat mouse ini pertama kali terlihat biasa, dilengkapi warna-warni RGB light di sepanjang pinggiran mouse secara keseluruhan. Desain pada Rexus Xierra RXM-G5 bisa dibilang mirip dengan seri lainnya yaitu Xierra X9, hanya saja penggunaan warna pada RXM-G5 ini bercampurkan silver dan black.

Memang simple, namun desain pada mouse ini cukup ergonomis dengan rancangan yang dibuat sedemikian rupa agar para gamer nyaman untuk memakainya.

Di bagian samping kanan dan kiri mouse ada sedikit desain yang unik, yaitu menggelombang bagaikan ombak. Hal ini-pun juga dibuat demi kenyamanan jari para gamer saat melakukan aktivitas gaming.

Selain itu, seri RXM-G5 ini memiliki berat tambahan yang berguna agar gamer bisa memposisikan dengan tepat akurasi bermain mereka untuk game-game FPS.

Performa Cukup untuk Main Game FPS

Mouse seri RXM-G5 ini memiliki tingkat Dpi antara 800 hingga 3200 DPI. Hal ini sangat berguna saat berhadapan dengan game dengan tingkat gameplay yang sangat hiperaktif. Tentunya, kecepatan DPI ini dapat diubah sesuai kenyamanan para pengguna.

Mouse ini-pun dirancang dengan high precision atau tingkat presisi/akurasi yang tinggi sehingga memang cocok untuk game-game bergenre FPS.  Gamedaim sendiri telah mencoba langsung mouse ini untuk game-game FPS seperti Point Blank dan Apex Legends, alhasil performa gaming cukup meningkat daripada menggunakan mouse non-gaming (tidak didesain untuk penggunaan gaming).

Spesifikasi

  • Kecepatan Rata-rata per frame: 60ips
  • Resolusi: 4 tingkat DPI 800 I 1600 I 2400 I 3200
  • Tingkat polling: 125Hz
  • Jumlah tombol: 6 tombol
  • Merek switch: Huano
  • Daya tahan switch: 5.000.000
  • klik Sensor: INSTANT A704
  • LED: 4 mode pencahayaan
  • Panjang kabel: 1,8 meter
  • Dimensi: 124 x 67 x 37mm
  • Berat: 90gr / 115gr
  • Koneksi: USB
  • Platform: Win7/ Win8/ Win 10/ Window Vista/ Window XP/Mac OS 8.6 ke atas

Kesimpulan

Dibandrol dengan harga sekitar 99 ribuan lewat official store Rexus di sini, Mouse Rexus Xierra G5 ini cukup dan worth it untuk pengguna gaming entry-level atau gamer kasual yang tidak terlalu mementingkan kompetisi.

Sumber: Gamedaim.com

Gamers, headset gaming terbaru Rexus, Thundervox HX 10, tampaknya menjadi idola baru di kalangan gamer, terutama pengguna produk Rexus. Setelah beberapa lama di-sounding melalui kanal sosial media Rexus, akhirnya headset ini pun dipasarkan.

Tanggapan konsumen tak main-main. Menurut keterangan pihak sales Rexus, penjualan headset ini termasuk tinggi. Bahkan, Capital Gaming, sebuah warnet di kawasan timur Jakarta, memutuskan untuk meminang puluhan headset ini untuk mengganti semua perangkat pengeras suara yang ada di warnetnya.

Sebagai pengguna produk Rexus dan pencinta audio, kami juga sangat tertarik untuk mencoba peranti ini. Rasa penasaran kami dimulai saat mendengar angka 10 yang disematkan dalam seri headset ini. Dalam urutan bilangan – dan penilaian dasar, angka 10 merupakan angka sempurna. Rexus tentu tak sembarangan menggunakan angka itu.

Setidaknya, mereka punya “beban moral” tinggi saat memilih angka 10. Mereka tentu takkan mengecawakan para konsumen. Rexus memang agak aneh dengan memilih seri angka 10 karena headset advanced mereka paling baru menggunakan seri “2”, HX2. Jika sekarang langsung lompat ke angka “10”, tentu bakal ada “wow experience” yang ditawarkan.

Ekspektasi para konsumen dengan angka 10 tentu adalah headset gaming yang sempurna dan ekspektasi ribuan konsumen itulah yang menjadi “beban” Rexus. Bagaimana jika ternyata HX10 tidak sesuai harapan? Bagaimana jika HX10 ternyata hanya headset kelas “kacang” yang biasa-biasa saja? Bagaimana jika para konsumen kecewa?

Headset Masif dalam Kemasan Eksklusif
Jangan Hanya Berandai-andai. Kini saatnya mencoba. Demi menjawab hasrat penasaran, kami ikhlas untuk merogoh kocek senilai Rp359.000, – untuk memboyong produk ini. Harga segini kami rasa masih masuk akal untuk sebuah headset gaming kelas menengah yang berkualitas. Harganya tak begitu jauh dengan pendahulunya, HX2.

Dan seperti biasa, proses pengiriman toko online Rexus tak pernah butuh waktu lama untuk menyampaikan paket ke depan pintu konsumen. Paket kemasan HX10 pun langsung kami dapatkan. Kemasannya berbeda dengan beberapa headset Rexus lainnya, lebih eksklusif. Ada label “Rexus Premium Gaming Quality” di kemasan luarnya. Ini menunjukkan bahwa produk ini masuk dalam jajaran produk premium Rexus.

Saat membuka kemasannya, tampaklah sebuah headset dengan kesan “macho” yang sangat kental. Dominasi warna hitam solid berpadu dengan model head-band atau bando kokoh yang berwarna hitam pula. Tak ada warna lain pada headset ini selain hitam. Bentuk dan warnanya memberi kesan solid dan masif pada headset ini.

Bentuk “Ora Neko-neko”, Utamakan Fungsional
Meski tampil sederhana, headset Rexus HX10 ini mengusung aspek fungsionalitas yang tinggi. Salah satunya tampak dengan dengan penggunaan bando atau head-band sebagai sebagai pendukung penyangga telinga.

Saat di mana banyak headset melupakan fungsi headband, dengan tampil hanya mengandalkan penyangga telinga yang diberi bantalan busa agar nyaman saat dikenakan di atas kepala, HX10 tetap mempertahankan penggunaan headband yang dilengkapi dengan besi penyangga yang kokoh nan fleksibel.

Apa keuntungannya? Jelas, headband tersebut akan mengikuti bentuk kepala tiap orang yang berbeda-beda bentuk dan ukurannnya. Alhasil, tentu saja model ini menjadi sangat nyaman digunakan, terutama dalam penggunaan jangka panjang.

Earcup, Donat Peredam Bising
Cukup membahas mengenai bentuk, kami pun tertarik dengan bentuk speaker dome atau earcup headset ini. Sepasang peranti ini merupakan peranti paling penting pada sebuah headset karena peranti inilah yang berfungsi untuk memproduksi suara sekaligus mengkondisikan telinga agar bisa mendengarkan suara semaksimal mungkin.

Jika kalian perhatian, bentuk earcup headset ini agak sedikit aneh. Apa yang aneh? Tebal dan berbentuk seperti donat. Ya, HX10 memang punya earcup dengan ketebalan di atas rata-rata. Ketebalan totalnya mencapai sekitar 6cm yang terdiri dari 2 cm ketebalan busa earpad dan 4 cm speaker dome.

Earpad headset ini masuk dalam golongan over ear earcup. Artinya, earcup-nya melingkupi telinga secara keseluruhan. Mode seperti ini tentu mempunyai beberapa keuntungan, yaitu nyaman digunakan untuk waktu yang lama dan efektif meredam suara.

Dengan diameter lingkar dalam 6cm, hampir semua ukuran telinga – kecuali telinga kaum Hobbit – bisa masuk secara sempurna. Nyaman banget. Busanya pun sangat nyaman, terlebih dilapisi dengan kulit sintetis PU leather yang lembut.

Dengan ketebalan busa 2cm, earpad ini juga sekaligus berfungsi untuk meredam suara dari luar. Inilah yang dinamakan sebagai teknologi passive noise reduction. Dengan cara ini, suara dari luar bakal tak terdengar, bahkan saat kalian belum menyalakan musik sama sekali.

Uniknya, earpad headset ini dapat dilepas-pasang sehingga dapat dibersihkan secara teratur dan diolesi dengan lotion agar tak mudah pecah-pecah dan sobek. Rexus juga menyediakan suku cadang earpad untuk tipe ini jika suatu saat nanti mengalami kerusakan. Pemasangannya sangat mudah.

Suara Apik, Rapi, Tertata, Manis Manja
Seperti biasa, kami takkan mengeluarkan hasil review tanpa mencobanya mendengarkan suaranya. Supaya lebih afdol dan fair, kami pun mencoba headset ini dalam dua fungsi, yaitu dalam mode audio dan mode game.

Dalam mode audio, kami memilih menggunakannya untuk mendengarkan musik bergenre EDM yang menyemburkan bass dengan beat yang cepat namun dituntut untuk tetap bisa mengeluarkan frekuensi suara dan treble secara bersamaan dan seimbang.

Lagu legendaris “Never Fade Away” kreasi John O’ Callaghan versi Andy Duguid pun kami geber. Tak tanggung-tanggung, kami pilh yang berformat FLAC. Hasilnya? Suara bas yang disemburkan terdengar menggelegar dan dalam. Suara bas tersebut tidak menutup keluaran frekuensi lainnya. Beberapa suara perkusi melodis yang bernada tinggi tetap terdengar sempurna.

Seperti jenis lagu progressive vocal trance, lagu itu menyajikan suara vocal yang berada di frekuensi mid-range. Hasilnya, featuring vocal milik Lo-Fi Sugar yang manis manja itu terasa tetap empuk terdengar di tengah dentuman bas yang ritmik rapi.

Efek Surround dengan Virtual 7.1
Biasanya, game headset “kurang” pada segmen nada rendah akibat mengutamakan efek surround-nya. Tapi, sepertinya HX10 ini tetap sadar dengan nada bawah meski mengusung efek surround. Seperti HX2, efek surround HX10 dipercayakan pada software yang berfungsi untuk “memanipulasi” suara stereo sehingga menjadi surround 7.1 secara virtual.

Virtual 7.1 menggunakan perangkat lunak yang akan mengolah suara sehingga memberikan kesan sinematik dan kedalaman. Hasilnya, pengguna headset 7.1 seakan-akan berada di dalam suasana yang ditampilkan dalam game. Untuk mendapatkan efek itu, unduh software-nya di rexus.id/dukungan dan instal di komputer.


Bas Tetap Menggelegar
Meski masuk dalam dimensi surround, produksi bas HX10 tetap tidak ketinggalan kok. Kita masih bisa mendengar efek nada rendah secara sempurna. Jika ditambah dengan vibrasi, efek itu akan menjadi makin sensasional.

Masih kurang yakin dengan kemampuan bas-nya? Kami pun mencobanya dengan aplikasi Ultimate Headphone Test yang diunggah oleh HiHAKER di laman Youtube-nya. Hasilnya, headset ini mencapai suara bas di angka sekitar 15 -16Hz. Angka ini tentu melebihi jangkauan kebanyakan headset yang rata-rata hanya mampu berkutat di frekuensi rendah sekitar 20Hz.

Bas yang besar itu tak lepas dari kapasitas driver. Dengan driver berdiameter 50mm dengan impedansi 32?, HX10 mempunyai potensi untuk dimaksimalkan power output-nya. Besarnya diameter driver itu, semakin besar membran yang bisa digerakkan oleh  kumparan dan magnet di dalamnya sehingga suara yang keluar bisa penuh daya.

Power besar memang tidak serta merta menentukan kualitas suara. Tapi, dalam headset ini, kualitas suara yang mumpuni dan ditambah dengan daya keluaran suara yang besar, maka akan menghadirkan pengalaman mendengarkan yang sensasional.

Getarannya Sampai ke Ubun-ubun

Nah, ini dia yang bikin kami makin jatuh cinta dengan headset HX10. Ya, fitur getar atau vibrasi yang bisa dikontrol.  Dengan  adanya fitur ini, suara bas jadi terasa sensasional karena tambahan fitur vibrasi yang membantu tendangan bas makin terasa ke telinga. Getarannya pun sampai ke ubuh-ubun. Geli-geli gimana gitu… .

Fitur ini tidak dimiliki oleh pendahulunya, HX2. Dan, yang lebih menyenangkan, vibrasi di headset ini dapat dikontrol seperti mengontrol volume. Tentu hal ini sangat membantu karena tanpa kontrol vibrasi, getaran yang tujuannya untuk menambah sensasi justru mengganggu dan membosankan.

Setelah mencoba dengan mode audio, kami pun mencobanya dalam mode game, sesuai takdirnya sebagai headset game. Gim yang kami pilih adalah Point Blank. Game tersebut menyajikan beragam suara yang membutuhkan perangkat dengar yang mumpuni untuk dapat memproduksinya secara sempurna.

Bagaimana hasilnya? Jika dinilai dalam skala 1 – 10, kami tak ragu memberi angka 8. Tembakan dan letusan senapan terasa menggelegar. Dengan karakteristik headset secara keseluruhan yang warm dan full bass, tentu suara ledakan bisa terakses secara sempurna. Tapi, untuk suara detil seperti tapak kaki, meski tetap terdengar, suara tapak kaki di HX10 sedikit tertutup oleh suara ledakan yang bombastis. Karakteristik ini sedikit berbeda dengan HX2 yang lebih clear dan bright.

Flexible Microphone Stick
Sebagai headset game, selain kualitas driver speaker, kualitas mikrofon pun harus tetap diperhitungkan. Nah, HX10 sudah dilengkapi dengan mikrofon kecil yang fleksibel dan dapat ditarik hingga ke samping mulut.

Dengan mikrofon yang focus-directional tersebut, suara pengguna akan terdengar secara jelas meski banyak teriakan di sekitarnya. Hal ini tentu akan sangat membantu gamer saat bermain di turnamen. Komunikasi antar tim pun akan mudah diterima oleh sesama anggota tim.

Dengan beragam fitur yang ada di dalamnya dan tentu saja, kualitas suara yang mendekati sempurna – tentu saja, tak ada yang sempurna di dunia ini – headset ini pantas untuk diajak berkompetisi di turnamen berkelas.

Setelah me-review-nya, kami bisa mengerti alasan Rexus Indonesia menyematkan angka 10 pada headset ini.

Gamers, setelah selama ini banyak mencoba untuk me-review produk single, kami akhirnya tertarik untuk mencoba produk gaming kombinasi alias combo. Setelah beberapa waktu berpikir dan menimbang – layaknya memikirkan jodoh – kami pun memutuskan untuk memboyong produk Rexus VR3.

Jujur, pertimbangan kami untuk memilih produk kombo ini memang lumayan alot. Pertama, karena memang kami tidak terbiasa menggunakan produk kombo. Kedua, dalam otak kami, terdoktrinasi bahwa produk kombo dengan yang dijual dengan sistem bundling biasanya merupakan produk yang mengejar segi ekonomis, bukan kualitas. Kedua alasan itulah yang membuat kami sedikit ragu-ragu.

Suudzon sih… Tapi, logis jika kami berpikir, masak ada produsen produk yang menjual produk relatif murah, berkualitas, dan terdiri dari beberapa item sekaligus. Hmm… daripada kelamaan di kubangan asumsi, lebih baik kami coba saja sendiri Rexus VR3.

Hingga saat ini, produk VR3 masih dijual secara eksklusif di Tokopedia. Cari saja di tokopedia.com/rexus. Di sana, produk ini dibanderol dengan harga resmi Rp259.000. Kebetulan, kami memperolehnya hanya dengan harga Rp195.000 di Flash Sale Tokopedia. Lumayan loh turunnya. Buat kalian yang minat dengan produk ini, kami sarankan untuk menunggu Flash Sale Tokopedia saja. Tapi setelah menyimak review kami ini ya.

“Politik” Baik Hati
Yuk, sedikit belajar mengingat sejarah. Pada sekitar tahun 1900-an, ada seorang tokoh parlemen Belanda bernama Douwes Dekker yang juga dikenal dengan nama Multatuli, mendesak Kerajaan Belanda untuk berbaik hati terhadap rakyat jajahannya sebagai bentuk balas budi atas hasil bumi yang dikeruknya. Langkah politis tersebut kemudian dikenal dengan istilah politik etis atau politik balas budi.

Sejarah itu teringat begitu saja saat kami membuka paket produk gaming berisi tiga item sekaligus. Ketiga item tersebut tidak bisa digolongkan sebagai produk murahan. Muncul anggapan produk ini sebagai sebuah “tanda terima kasih” Rexus kepada para pelanggan setianya.

Untuk membuktikan anggapan itu, tentu kita harus membuktikannya dengan melihat tiap produk satu per satu. Jika terbukti produk ini mempunyai kualitas setara atau justru di atas estimasi harganya, mungkin saja ini merupakan salah satu strategi Rexus dalam “membalas budi” para pelanggan setianya. Mungkin saja… Who knows…

Keyboard
Model
. Keyboard VR3 kental dengan pakem simplicity: sederhana, praktis, dan fungsional. Desainnya tidak neko-neko. Penambahan cover atas berupa plat aluminium tebal berfungsi untuk melindungi PCB dan komponen lain di dalam papan ketik. Cukup itu. Tak ada fungsi sebagai aksesoris karena tak ada ornamen ataupu aksen kosmetikal yang disertakan.

Material. Bahan yang digunakan oleh keyboard ini tak bisa digolongkan murahan. Dominasi plastik ABS membentuk badan keyboard dan cukup melindungi bagian dalam keyboard dari benturan. Benturan ya… bukan hantaman ataupun lindasan.

Switch. Apalah arti keyboard tanpa switch. Keyboard ini digolongkan dalam golongan keyboard semi-mekanikal. Masing-masing switch-nya menggunakan sistem electro-captative yang menggabungkan sistem rubber dengan pegas berbentuk kumparan. Sensasi saat mengetik tentu berbeda dengan saat mengetik di atas blue mechanical switch. Jika kalian pernah menggunakan keyboard Rexus KX2, seperti itulah rasanya. Mirip. Meski demikian, diklaim tombol keyboard ini mempunyai lifespan hingga 20 juta klik.

LED. Mana ada sih, gaming keyboard tanpa dilengkapi LED? Ntar dikira mesin ketik Broth*r. Meski minimalis, keyboard ini juga membenamkan LED di dalam papan – bukan di masing-masing switch ya. Fitur LED pun tergolong minimalis. Pengguna hanya bisa mengatur dua mode pencahayaan (breathing dan static) serta tingkat kecepatannya. Keyboard VR3 didukung 3 warna, merah, hijau, biru. Cukup untuk diklaim sebagai rainbow backlit.

Mouse
Ini produk VR3  yang jadi “kesayangan” para penggunanya. Setidaknya, itu terlihat dari beberapa review yang kami tonton. Beralasan sih, dengan harga bundling, mouse VR3 dilengkapi dengan sistem macro software. Not bad…

Model. Model mouse ini tak kalah dengan model gaming mouse lainnya. Dengan ukuran yang tak terlalu besar, mouse ini enak digenggam. Justru di keyboard ini dibenamkan aksen aksesoris yang menarik. Di samping keyboard, terdapat aksen layaknya running RGB.

Fitur. Mouse ini mempunyai programable macro berkat software bawaannya. Pengaturan kemudian tersimpan di komputer, bukan di mouse, karena tidak dilengkapi memory on board alias chipset. Dengan software yang sama, pengguna bisa mengatur konfigurasi (3 konfigurasi) untuk media dan gim.

Resolusi. Secara manual, mouse VR3 mempunyai resolusi DPI 800 -2400 DPI, dengan kecepatan pemrosesan sinyal rata-rata 6.000 per detik. Tapi, dengan macro software, resolusinya bisa didongkrak di angka 200 – 4800.

Mousepad
Bisa dikatakan produk terakhir ini sebagai bonus pembelian. Meski demikian, jangan langsung menarik kesimpulan mousepad bawaan ini tak berharga. Jika dicermati, bahan mousepad ini sama atau mirip dengan mousepad keluaran Rexus, yaitu Rexus Kevlar yang harganya Rp59.000 – 79.000.

Material. Bahan mousepad VR3 adalah serat nilon yang dirajut kemudian dikombinasikan dengan busa jenis Eva Foam yang kuat dan tak licin.

Dimensi. Ukuran mousepad yang disertakan adalah 29cm x 24cm x 0,5cm. Buat kami, ukuran tersebut justru lebih pas dibandingkan mousepad yang terlalu lebar sehingga keyboard pun harus “nongkrong” di atasnya.


Bicara Kinerja
Cukup membahas mengenai fitur dan kelengkapannya. Saatnya mencoba kinerjanya. Saat dicolokkan, keyboard dan mouse VR3 yang dilengkapi sistem plug and play langsung bisa dikenali oleh komputer sehingga bisa langsung digunakan.

Saat mencoba keyboardnya, seperti yang kami ungkap di atas, keyboard ini memang belum bisa dibandingkan dengan keyboard mekanikal Rexus yang menggunakan switch mekanikal independen. Tapi, saat digunakan mengetik, kami justru merasa nyaman menggunakan keyboard ini. Mungkin karena ketikannya yang terasa lembut ya.

Untuk mouse-nya, kami akui, mouse VR “beda kelas” dibandingkan para mouse seri VR sebelumnya. Mouse VR3 lebih paten. Mousenya pun nyaman digunakan. Dan, yang lebih penting, banyak fitur yang dibenamkan dalam mouse 6 tombol ini.

Segalanya jadi mudah saat menggunakannya. Termasuk saat kami mengatur program macro untuk Shotgun di Point Blank, seperti yang diulas di tutorial berikut ini. Buat gaming, mouse VR3 sama sekali tak ada kendala. Kami merasa produk ini tetap pantas digunakan untuk bermain gim.

Dan, kesimpulannya…
Setelah melihat, merasakan, dan mengoprek produk ini, kami berkesimpulan bahwa produk ini masuk dalam kategori produk untuk kalangan gamer yang sedang berlatih gim. Untuk ikut turnamen, apalagi turnamen pro, fitur macro dalam mouse yang hanya bisa tersimpan di komputer tentu akan membuatnya tidak praktis.

Untuk pemakaian sehari-hari, keyboard ini bisa kami rekomendasikan. Terlebih karena ada fitur media dan gim yang sudah diusungnya  sehingga memudahkan penggunaan.

Apakah produk ini adalah kebaikan hati produsennya? Pertanyaan ini tentu hanya bisa dijawab oleh pihak Rexus. Tapi, dari hasil review yang dilakukan, kami menyimpulkan bahwa produk ini sedikit di atas harganya. Di luar bonus mousepad, kalian bisa mendapakan mouse yang sudah dilengkapi software macro.

Tertarik? Terus pantengin www.tokopedia.com/rexusid karena produk kombo ini hanya dijual eksklusif melalui Tokopedia untuk sementara waktu ini.

Gamers, jika kalian perhatikan, ada yang baru diekspos di media sosial Rexus. Apa itu? Label Rexus Premium Gaming Quality.  Menurut pihak Rexus, label ini merupakan pengakuan internal dari Rexus bahwa beberapa produk Rexus sudah memenuhi standar gaming professional sehingga dapat dan layak digunakan untuk bertanding di turnamen gim.

Pengakuan dan rekomendasi tersebut tentu tidak diberikan untuk sembarang produk. Hanya produk-produk gaming yang mempunyai spesifikasi tinggi, material berkualitas, dan didukung komponen berkelas yang masuk di dalamnya.

Salah satu produk yang masuk dalam kategori Rexus Premium Gaming Quality adalah gaming mouse Rexus Titanix TX9. Mouse yang satu ini memang salah satu produk keluaran Rexus yang ikonik dan ditujukan untuk para gamer profesional.


Ultra Comfort Gaming Experience
Mouse ini memang “ultra” alias superior. Pertama kali itu bisa terlihat dari kardusnya. Jika diperhatikan, kardus TX9 jauh berbeda dari beberapa “saudara”-nya meski sama-sama dalam keluarga Titanix, seri mouse Rexus yang dikhususkan untuk advanced gamer.

Kardus TX9 tampil elegan dan mewah. Aksen embos gold makin mematrikan bahwa mouse ini bukan sembarang mouse. Pada kardus itu tertulis jelas  fitur yang pasti sangat diminati para gamer: Ultra Comfort Gaming Experience.

Betul, kan? Sekeren dan secanggih apapun mouse kamu, jika tidak nyaman digunakan tentu saja takkan mendukung perfoma permainan. Pertanyaan selanjutnya, senyaman apakah mouse ini?

Bicara soal kenyamanan bisa saja sangat relatif. Seorang cewek cakep yang mau berpacaran dengan cowok yang – maaf – seadanya, bisa saja beralasan, “Aku nyaman kok dengan cowokku ini.” Gubrakk… kalau sudah begitu siapa yang bisa menentang?

Tapi, kenyamanan menjadi sesuatu yang pasti jika sudah berhubungan dengan common sense. Artinya, sesuatu itu sudah diakui oleh banyak orang dan dinilai mempunyai nilai kenyamanan. Nah, begitu pula dengan mouse Titanix TX9 ini. Banyak orang yang mengakui bahwa mouse ini mempunyai bentuk yang ergonomis dan didukung dengan fitur yang lengkap sehingga sangat membuat nyaman.

Dengan dimensi 124mm x 67mm x 40mm, ukuran mouse ini tak terlalu besar, tak pula terlalu kecil. Pas. Beratnya pun pas, yaitu 115 gram. Ukuran dan berat tersebut sangat memengaruhi pergerakan dan kontrol saat digunakan bermain gim.


Komponen Unggulan
Berkualitas atau tidaknya sebuah mouse tergantung dari beberapa komponen pendukung di dalamnya. Dari banyak komponen, ada beberapa komponen yang sangat menentukan kualitas sebuah mouse. Komponen tersebut meliputi chipset sensor, tombol, serta sistem konektivitasnya.

  • Chipset Sensor Avago
    Mouse ini menggunakan teknologi optik sinar infra merah yang dipindai oleh sistem sensor. Seperti telah dibahas di artikel yang mengupas mengenai ragam sensor, Avago merupakan salah satu chipset sensor yang banyak digunakan oleh gaming mouse terkenal. Seri A3050 adalah salah satu seri sensor Avago yang mempunyai tingkat pemetaan frame yang presisi, handal, dan irit daya.

Baca juga: Empat Merek Sensor yang Paling Sering Digunakan di Mouse Gaming

Dalam chipset tersebut, gerakan tangan diolah menjadi sinyal yang menggerakkan kursor di komputer. Avago A3050            memiliki frekuensi pemindaian sekitar 6600 fps, kecepatan gerakan hingga 60 inch/detik, dan kecepatan mentransfer informasi ke komputer hingga 1000Hz.

  • Tombol Omron
    Tombol sebuah mouse juga merupakan komponen yang sangat menentukan. Sebagai gaming mouse, TX9 harusnya mempunyai tombol yang bisa diajak kerja keras, tangguh, dan tetap nyaman.Oleh karenanya, TX membenamkan tombol Omron. Seperti kita ketahui bersama, Omron adalah nama sebuah perusahaan Jepang yang sudah terpercaya sebagai produsen semi-konduktur, alat kesehatan, dan panel elektronik.

    Dengan mempercayakan pada tombol dari Omron, kekuatan klik atau tekanan mouse ini mencapai 20 juta kali. Selain ketangguhan sistem mekanikal di dalamnya, Omron juga terkenal dengan daya hantar yang sangat sensitif sehingga sinyal ketikan takkan tertahan.

    Baca juga: Setangguh Apakah Tombol Mouse Gaming Rexus

  • Sistem Konektivitas
    Jangan lupakan faktor konektivitas. Sinyal yang sudah diolah dalam chipset on board mouse harus “disampaikan” ke komputer tentunya. Untuk itu, dibutuhkan media yang berkualitas agar sinyal tak tertahan. TX9 menggunakan kabel berukuran lumayan besar, dengan balutan serat nilon yang membuatnya awet. Kabel besar tersebut tentu berfungsi agar hambatan sinyal sangat minimal.Sebagai konektor, TX9 menggunakan kepala USB gold plated. Disebut gold plated bukan berarti USB tersebut dilapisi emas, tapi pin USB tersebut menggunakan campuran emas. Emas merupakan bahan konduktor yang dapat menyalurkan sinyal listrik secara optimal. Selain itu emas juga tahan terhadap korosi dan oksigenasi.

 


Fitur Lengkap
Bicara soal kenyamanan, tak bisa dipungkiri soal  fitur atau kelengkapan manfaat produk mouse tersebut. Bisa dikatakan, mouse TX9 merupakan salah satu mouse Rexus yang mempunyai fitur yang lengkap. Yuk, kita bahas satu per satu, mulai dari fitur yang ada di dalam TX9.

  • Driver Software
    Fitur inilah yang sering dicari para gamer pada sebuah mouse. Dengan adanya software, pengguna dapat mengatur dan mempersonalisasikan bantuan saat bermain gim, seperti pengaturan macro, pengaturan DPI, dan lain sebagainya.
    Software TX9 dapat diperoleh dalam CD bawaan atau diunduh di www.rexus.id/dukungan/, sedangkan untuk tutorialnya dapat dilihat di sini.
  • 6D DPI
    Dengan software ini, DPI mouse dapat diatur dalam pilihan yang banyak, yaitu 250 – 4800. Tingkatan DPI dalam mouse ini terbagi dalam 6 tingkatan yang bisa secara mudah diatur dengan menekan tombol tengah.
  • LED Running RGB
    Meski LED tidak secara langsung mendukung performa, tapi fitur ini tetap menjadi daya tarik dalam sebuah gaming mouse. TX9 sudah “menganut” running RGB LED. Disebut “running” karena LED mouse ini akan berpendar mengitari body mouse dengan spektrum warna yang kaya.
  • Metal Scroll
    Scroll atau tombol beroda yang ada mouse ini sudah mengunakan material metal. Selain awet, scroll dari metal tersebut juga didesain dengan kontur yang kasar sehingga takkan slip saat digunakan. Tentu saja, roda besi tersebut juga akan menambah tampilan produk ini, menjadi makin garang.


Pengalaman Bertanding
Dari testimonial beberapa pengguna yang menggunakan mouse ini dalam turnamen, diperoleh pengakuan bahwa mouse gaming ini layak digunakan untuk mengikuti kompetisi ataupun turnamen.

Adi, kapten tim Rexus DragonZ LOL, yang menggunakan produk ini mengatakan bahwa mouse TX9 stabil saat digunakan, baik kestabilan klik-nya ataupun pergerakannya.

“Sensornya juga stabil dan presisi saat digunakan di atas mousepad,” tambahnya.  Saat ini, TX9 sedang digunakan untuk kualifikasi turnamen berskala Nasional, League of Legends Clubwar XI, dan Manila Conqureor Indonesia Qualifier.

 

Gamers, bagi kalian yang mengenal atau bahkan menggunakan produk Rexus, tentu perhatian kalian pernah melipir atau justru jatuh pada  sebuah headset ikonik milik brand kepala robot ini. Ya, kalian tentu kenal dengan headset headset Rexus Vonix F19.

Headset tipe ini memang termasuk salah satu headset yang unik di jagat pengeras suara kepala. Keunikannya tak lepas dari bentuk dome speaker-nya yang beraksen goresan bergaya gotik. Kombinasi goresan gotik bersatu dengan logo robot Rexus.


Mencuri Perhatian

Tampilan headset ini akan makin mencolok saat lampu LED yang berada di dalam dome speaker menyala dan berpedar sehingga ornamen gotik itu makin mewah.

Entah sadar atau tidak, pengguna headset ini akan masuk dalam konsep branding yang turut mempromosikan merek Rexus saat menggunakannya, entah di warnet atau saat mengikuti turnamen.

Bagaimana tidak? Saat di ruangan warnet dan turnamen yang cenderung gelap, headset itu akan menyala terang sehingga mencuri perhatian para penikmat permainan yang hadir. Buat penggunanya, headset ini tentu akan menjadi sebuah “fashion signature” yang dapat meningkatkan kepercayaan diri.

 


Golongan Headset Sejuta Warnet

Headset ini banyak menghiasi ruang warnet seantero Nusantara. Selain Vonix F22, Vonix F19 ini memang telah menjadi produk headset langganan para pengelola headset. Apa alasannya?


Segi kualitas suara.

Vonix F19 memiliki kualitas yang bisa diadu. Meski tidak masuk dalam kelas “Advanced”, headset ini tak tanggung-tanggung membenamkan driver berukuran 50mm. Ukuran driver besar tersebut membuat power yang dihasilkan besar.

Tak hanya kualitas suara yang keluar. Suara yang masuk melalui mikrofon pun termasuk jernih. Bahkan, New Vonix F19 tampil dengan flexible stick microphone, mikrofon bertangkai yang fleksibel. Alhasil, suara pengguna akan makin fokus dan jernih karena mikrofon dapat langsung diarahkan ke depan mulut sehingga suara-suara di sekitar tidak masuk.

Nyaman dipakai.

Faktor ini tak bisa disepelekan. Meski suaranya bagus, tapi jika tidak nyaman, maka sebuah headset tidak akan mempuyai daya tarik. Vonix F19 menggunakan sistem headband konvensional dengan mengaplikasikan dual layer headband.

Sebagai penyangga, F19 memasangkan plat baja yang kuat  sehingga daya cengkramnya kuat sehingga dome speaker dapat mencengkeram kepala secara pas. Sebagai bando, headset ini mempercayakan pada kulit imitasi elastis yang dapat mengikuti bentuk dan ukuran kepala penggunanya.

Kualitas material.
Material standar headset digunakan headset ini, mulai dari busa earpad yang tak mudah kempes, plastik ABS yang keras, plat baja untuk penyangga, hingga lapisan kabel yang tebal sehingga takkan mudah putus saat tanpa sengaja tertarik.

Terjangkau
Siapa sih yang mau membeli sebuah barang dengan membayar lebih? Semua orang tentu ingin mendapatkan barang dengan harga yang terjangkau, dengan kualitas setara. Dengan harga sekitar Rp180 ribu Rupiah, kalian bisa membawa pulang headset keren ini.


Tampilan Baru, Harga Sama
Berita bagus buat kalian belum memiliki headset ini dan ingin memilikinya. Kenapa? Rexus Vonix F19 kini hadir dengan tampilan baru yang lebih keren dan fungsional, yaitu dengan menambahkan mikrofon tangkai yang fleksibel.

Di model yang lama, mikrofon F19 hanya berupa tonjolan yang menyatu dengan dome speaker sebelah kiri.

Memang, walaupun hanya  berupa tonjolan, mikrofon yang ada cukup sensitif untuk menangkap suara dari mulut pengguna karena menggunakan sistem multi-directional voice source.

Sayangnya, sistem suara dari segala arah tersebut juga menangkap suara-suara yang ada di sekitar pengguna. Akibatnya, pengguna harus teriak agar suaranya lebih menonjol dibanding suara yang lain.

Nah, dengan flexible stick microphone system ini, F19 tampil satu langkah lebih maju dan makin mumpuni saat digunakan untuk bermain gim. Tongkat mikrofon itu terbuat dari bahan yang kuat namun fleksibel sehingga dapat diarahkan ke berbagai arah, sesuai keinginan pengguna.

Dan, yang lebih mengejutkan, konsumen takkan dikenai charge tambahan atas fitur baru ini alias harganya tetap sama. Hal ini tentu menjadi daya tarik lebih buat F19.

Yuk, siapkan bujet dan jadikan Rexus Vonix F19 jadi salah satu koleksi headset kerenmu!

 

Yep! seperti judul di atas, kali ini Lepasjenuh.com (LeJen) perdana akan me-review Mechanical Keyboard milik Rexus, yaitu Legionare MX5. Terang saja “Serba Minimalis” kata yang tepat untuk mewakili keyboard ini, selain body-nya yang bisa dibilang ramping karena versi TKL (Ten Keyless), Keyboard ini juga cocok untuk kamu yang lagi nabung untuk masa depan atau memang yang budgetnya tipis tapi ingin gaul, gak salah kan LeJen kasih label?

Walaupun memiliki tubuh yang ramping, Legionare MX5 cukup elegan dan sisi kokoh terlihat karena di balut dengan metalik Alumunium Alloy. Dua hal tersebut dapat di simpulkan bahwa keyboard ini juga memiliki bobot yang ringan atau tepatnya berkisar 750 gram. Bawa kemanapun kamu mau, tampil kece dengan fitur LED 6 warnanya. Sedikit dengan pep-talk kita review lebih dalam lagi.

rexus legionare mx5 tklLED 6 WARNA DAN TKL

Selain body ramping yang dilapisi aluminium alloy, fitur LED 6 warna pula membuat Keyboard Rexus Legionare MX5 terlihat semakin elegan. Walaupun bukan RGB, LeJen pikir untuk budget minim, LED 6 warna udah dibilang lebih dari cukup.

Fitur-fitur keren dengan 7 fixed dan 2 custom lighting mode membuat pengalaman gaming kamu lebih berasa. Ditambah dengan 8 jenis letter illumination mode transfer, mengetik akan terlihat lebih menyenangkan.

Kenapa TKL? mungkin selain untuk memangkas budget anggaran agar lebih ekonomis, LeJen tanya, numeric keypad untuk apa? kan ini keyboard gaming, mau main Ayo Dance? Trust me, you don’t need such a Tenkey.

 

JWH BLUE SWITCH?
Sama, LeJen juga baru denger tipe switch JWH Blue ini. Walaupun tergolong pendatang baru atau memang namanya baru sampai di telinga LeJen, dari jelajah internet dan praktik di tempat, LeJen menganggap switch ini cukup kompetitif dengan tipe Outemu atau Kaihl, bahkan Cherry MX. Dijamin sensasi clicky-nya tak kalah sugoi dengan para pesaing-nya.

Switch JWH biru (lepasjenuh.com)

Sebagai pengganti, kita bakal diberikan 4 buah switch dan dua buah alat untuk mengeksekusinya. Menggantinya pun cukup mudah, cukup melepas switch beserta rumahan-nya tanpa membongkar body keyboard.

Karena rumahan JWH Blue Switch ini berbentuk standalone, jika terjadi korsleting pada salah satu rumahan switch nya, maka tak ber-imbas ke switch lainnya.


KESIMPULAN
Garis besarnya, keyboard ini cukup sempurna untuk menemani kamu bermain game kompetitif, mengerjakan skripsi, atau hanya untuk sekedar gaya gaya-an dengan budget minim. Body yang ramping dan ringan membuatnya semakin praktis dan bisa di bawa ke mana-mana.

Spesifikasi singkatnya, keyboard Rexus Legionare MX5 memiliki total 87 tombol mekanikal anti-ghost, backlit LED 6 warna berbeda di setiap barisnya. Daya tahan tombolnya bisa dikatakan sangat durable hingga 10 juta kali klik, kalau gak percaya hitung sendiri tiap ketikan kamu ya. Bentuk keyboard Ten Keyless yang dilapisi alumunium alloy dan tak lupa gratis 4 buah switch tambahan beserta alat eksekusinya.

Sayangnya, Rexus Legionare MX5 tidak mendukung fungsi makro, tidak ada slot USB ataupun audio jack. Keyboard ini bahkan tidak didukung dengan driver untuk mengoptimalkan pengalaman bermain kamu. Jadi, ya jangan hilangkan kitab-nya, karena semua petunjuk penggunaan berbagai mode dan fitur terdapat di dalamnya, kecuali kamu sudah hapal yak.

Dari semua fitur dan spesifikasi yang LeJen jabarkan beserta pros & cons di dalamnya, Keyboard Legionare MX5 besutan Rexus ini di banderol harga Rp 445,000.-

Sumber: lepasjenuh.com

Baca juga:

Rexus Legionare MX2, Si Elegan yang Sering Terlupakan

Rexus Legionare MX6: Si Lembut Bertenaga Garang

Gamers, pernahkah mendengar istilah “eargasm”? Istilah slang tersebut sering digunakan untuk melukiskan suatu kondisi saat seseorang merasa sangat puas karena indera pendengarannya memeroleh sensasi yang sangat menyenangkan.

Kami tidak tahu apakah pernyataan kami ini berlebihan atau tidak, tapi tampaknya kami juga merasakan sensasi “eargasm” saat mencoba produk headset Rexus Thundervox F35. Produk ini memang bukan produk unggulan dari merek produk gaming asli Indonesia itu.

Bahkan, sejauh pengamatan kami, produk ini kalah populer dibandingkan produk serumpunnya, Rexus Thundervox HX2, yang sudah digadang-gadang berfitur virtual 7.1. Tapi, kualitasnya dapat diadu dengan produk-produk lainnya.

Hadir hanya dengan satu pilihan warna, yaitu hitam, Thundervox F35 tampak tak semewah headset lainnya. Bentuknya simple dan memberikan aksen headset yang ortodok. Dome headset berbentuk bulat dengan sistem melingkupi seluruh telinga (over ear), penyangga kepala polos, dan tombol pengaturan volume masih dengan cara diputar jadi representasi begitu konservatifnya pelantang suara ini.

Model konvesional itu tentu membuat F35 justru lebih “nonjol” saat disandingkan dengan beberapa headset masa kini yang bentuknya futuristik dan didominasi dengan spasial heksagonal yang bentuk bersudut-sudut. Bandingkan saja dengan bentuk headset terbaru keluaran R**zer atau Strix punya A*us, yang membuat kamu seperti masuk dalam dunia robotik.


Bentuk Konvensional, Fungsi Maksimal

Thundervox F35

Meski tampil sederhana, headset Rexus F35 ini mengusung aspek fungsionalitas yang tinggi. Salah satunya tampak dengan dengan penggunaan bando atau headband sebagai sebagai pendukung penyangga telinga.

Saat di mana banyak headset melupakan fungsi headband, dengan tampil hanya mengandalkan penyangga telinga yang diberi bantalan busa agar nyaman saat dikenakan di atas kepala, F35 tetap mempertahankan penggunaan headband.

Apa keuntungannya? Jelas, headband tersebut akan mengikuti bentuk kepala tiap orang yang berbeda-beda bentuk dan ukurannya. Alhasil, tentu saja model ini menjadi sangat nyaman digunakan, terutama dalam penggunaan jangka panjang. Selain itu, model ini membuat dome speaker dapat secara sempurna melingkupi telinga sehingga secara tidak langsung menjadi passive noise reduction feature.

 

Bas Menggelegar, Detil Tak Pudar

Kami takkan mengeluarkan hasil review tanpa mencobanya mendengarkan suaranya. Supaya lebih afdol dan fair, kami pun mencoba headset ini dalam dua fungsi, yaitu dalam mode audio dan mode game.

Dalam mode audio, kami memilih menggunakannya untuk mendengarkan musik bergenre EDM yang menyemburkan bas dengan beat yang cepat namun dituntut untuk tetap bisa mengeluarkan frekuensi suara dan treble secara bersamaan.

Lagu terbaru “Unlock” milik Charlie XCX pun kami putar. Kualitasnya pun sebatas MP3, bukan FLAC. Hasilnya? Suara bas yang disemburkan terdengar menggelegar dan dalam. Suara bas tersebut tidak menutup keluaran frekuensi lainnya. Beberapa suara perkusi bernada tinggi tetap terdengar sempurna.

Selain itu, suara bas jadi terasa sensasional karena tambahan fitur vibrasi yang membantu tendangan bas makin terasa ke telinga. Untuk mengaktifkannya, silahkan memencet tombol kecil di dekat corong mikrofon. Tempatnya agak aneh sih, karena banyak orang mengira tombol itu untuk mengaktifkan mikrofon.

Masih kurang yakin dengan kemampuan bas-nya? Kami pun mencobanya dengan aplikasi Ultimate Headphone Test yang diunggah oleh HiHAKER di laman Youtube-nya. Hasilnya, headset ini mencapai suara bas di angka sekitar 15 -16Hz. Angka ini tentu melebihi jangkauan kebanyakan headset yang rata-rata hanya mampu berkutat di frekuensi rendah sekitar 20Hz.


Cuitan Burung di CSGO Tetap Terdengar

Setelah mencoba dengan mode audio, kami pun mencobanya dalam mode game, sesuai takdirnya sebagai headset game. Gim yang kami pilih adalah CS:GO. Game tersebut menyajikan beragam suara yang membutuhkan perangkat dengar yang mumpuni untuk dapat memproduksinya secara sempurna.

Bagaimana hasilnya? Jika dinilai dalam skala 1 – 10, kami tak ragu memberi angka 8. Derap langkah dan kokangan senjata tentu masih mudah diakses oleh kebanyakan headset.

Tapi, bagaimana dengan cuitan burung, gonggongan anjing, ataupun ringkikan kuda yang ada saat kita mulai masuk ke dalam kota dalam sebuah suasana city war?

Ternyata, F35 masih mampu menyajikan suara-suara lirih itu untuk Anda. Suasana city war pun terasa makin realistis dan mencekam.

Sebagai headset game, selain kualitas driver speaker, kualitas mikrofon pun harus tetap diperhitungkan. Sayang seribu sayang, F35 hanya dilengkapi mikrofon kecil yang ada di samping pipi kiri. Meski mengklaim menggunakan fitur multidirectional microphone, suara yang masuk ke mikrofon kurang fokus.

Dengan fitur multi-directonal tersebut, suara yang masuk ke mikrofon jadi makin banyak. Akibatnya, saat digunakan untuk bermain dalam suasana gim yang ramai atau sebuah turnamen offline, pemain jadi agak kesulitan untuk mendengar suara dari rekan satu tim.  Tapi, jika turnamen diadakan secara online, kami yakin pemain takkan kesulitan berkomunikasi.

 

Daya Keluaran Besar

Dengan driver berdiameter 50mm dengan impedansi 32?, F35 mempunyai potensi untuk dimaksimalkan power output-nya. Besarnya diameter driver itu, semakin besar membran yang bisa digerakkan oleh  kumparan dan magnet di dalamnya sehingga suara yang keluar bisa penuh daya.

Power besar memang tidak serta merta menentukan kualitas suara. Tapi, dalam headset ini, kualitas suara yang mumpuni dan ditambah dengan daya keluaran suara yang besar, maka akan menghadirkan pengalaman mendengarkan yang sensasional.

Dibanderol seharga Rp250.000,- , kami rasa itu harga yang sesuai dengan “eargasm” yang bakal Anda rasakan. Dan, yang lebih penting, kami  yakin bahwa gamer professional takkan ragu untuk mengunakan headset ini saat turnamen…

Dengan catatan, gamer professional itu mengedepankan kualitas ya, bukan sekedar adu gengsi dan penampilan luar. Pernyataan itu bukannya tanpa dasar. Terbukti, salah satu tim juara 1 Nasional Turnamen League of Legends, memilih menggunakan produk ini dibandingkan produk yang lain.

Jadi, apakah headset pilihanmu?

 

 

 

 

 

 

Rexus Vonix F22

Hanya mendengar komentar dan review orang lain tanpa mencoba sendiri seperti makan es kepal tanpa topping: hambar. Seperti itu pulalah yang kami rasakan saat melihat dan mendengar banyak pendapat pengguna produk headset Rexus Vonix F22.

Beberapa youtuber me-review produk ini dengan tema yang sama: headset murah meriah, headset low budget, headset murah tapi mewah, dan lain sebagainya. Intinya jelas, headset ini merepresentasikan sebuah headset yang berkualitas namun dapat dimiliki hanya dengan sedikit Rupiah.

“Itu kata orang,” pikir kami. Padahal, sejujurnya, kata beragam kata orang tersebut membuat kami makin penasaran untuk mencoba produk Vonix F22 yang konon katanya sudah berkali-kali restock. Artinya, produk ini sangat laris sehingga harus didatangkan terus stoknya.

Setelah menunggu beberapa waktu karena menurut Admin Rexus, produk ini baru hadir sekitar akhir April lalu, akhirnya produk ini pun sampai juga di tangan kami.

Tak seperti produk headset gaming yang bisa “blink-blink” karena dilengkapi LED, F22 tampil sederhana dengan tanpa LED. Karenanya, headset ini tidak dilengkapi colokan USB. Hanya ada colokan microphone dan headphone.

Bentuk Paten
Untuk harga kurang dari Rp120.000, produk ini memang tak tampak murahan. Itu tampak dalam bentuknya yang paten. Kedua housing atau dome speaker-nya terbuat dari plastik keras yang berbentuk heksagonal memanjang sehingga menangkup kuping secara sempurna.

Meski terbuat dari plastik, housing speaker produk ini menggunakan plastik ABS yang keras. Sebagai gambaran saja, plastiknya mirip dengan plastik yang digunakan sebagai material lego.

Fungsi plastik keras tersebut adalah untuk menciptakan ruangan resonansi yang baik buat driver yang ada di dalamnya. Semakin keras material yang digunakan, resonansi atau gaung yang tercipta akan semakin baik. Tak heran, saat ini ada beberapa produsen in earphones menggunakan material keramik yang keras untuk menciptakan resonansi yang sempurna.

Bentuk paten lainnya juga tampak dalam headband-nya. Headband F22 terbuat dari plastik fleksibel yang kuat dan dilapisi dengan karet lembut. Saat kami menekuknya secara ekstrem, headband-nya akan kembali pada posisi semula.

Untuk mengaitkan kedua housing speaker, digunakanlah besi chrome anti karat yang kuat. Besi ini bisa naik turun sehingga berguna untuk mengatur lebar headset.

Washable Earcup
Saat digunakan, telinga kita akan masuk secara sempurna dalam cakupan earcup F22. Earpad produk ini memang banyak dipuji oleh beberapa orang. Selain karena awet dan nyaman digunakan, earpad ini juga dapat dilepas dan dicuci.

Saat mencucinya, pastikan mencuci secara lembut. Tak perlu digosok atau dikeringkan dengan menggunakan mesin cuci.

Tinggal direndam sebentar di air sabun, gosok pakai tangan sebentar, dan keringkan dengan cara diangin-anginkan. Cara ini akan membuat earcup F22 awet.

Keawetan produk headset F22 juga tampak bentuk kabelnya. Kabel sepanjang 2 meter produk ini dibungkus oleh dua selubung sekaligus. Untuk pembungkus dalamnya, digunakanlah serat nilon yang menyelebungi kabel, sedangkan untuk pembungkus luarnya, selang karet fleksibel membungkus erat.

Dua lapisan pembungkus kabel itu membuat headset F22 makin tangguh dan kuat. Inilah salah satu alasan mengapa banyak warnet yang menggunakan produk ini sebagai perangkat wajib usahanya.

Baca juga: Cara Merawat Earcup Headset

Coba Kinerjanya
Cukup untuk membahas kekuatan dan keawetan F22. Saatnya untuk mencoba kualitas suaranya, baik mikrofon maupun headphone-nya. Untuk mencobanya, kami pun menggunakan produk ini dalam permainan Battlefield 3. Kenapa gim itu? Kami ingin mencoba kedalaman surround yang dihasilkan oleh dua speaker berdiameter 40mm yang ada di dalamnya.

Buat kami, yang membedakan antara headset dan headphone adalah karakteristik suara yang dihasilkan. Jika audio headphone mengandalkan suara stereo yang keluar dari dua kanal, maka headset gaming yang baik hendaknya dapat mengakomodasi suara surround yang menciptakan kedalaman ruang.

Dalam gim Battlefield 3, headset F22 dapat menangkap suara derap kaki dengan baik. Suara kokangan dan tembakan senapan Tommy Gun pun terasa meletus secara detil.

Secara surround, headset Vonix F22 lumayan mengakomodir suara-suara frekuensi tinggi. Bagaimana dengan frekuensi rendah? Dengan ambitus frekuensi 20 – 20.000 Hz yang dimilikinya, kita memang tak tak bisa berharap banyak dengan permainan suara rendahnya. Itu terasa saat suara dentuman ledakan yang terdengar kurang tebal.

Selain suara bawahnya yang kurang tebal, Vonix F22 juga menggunakan impedansi atau hambatan yang besar, yaitu 32?. Konsekuensinya, suara yang dihasilkan kurang powerfull. Untuk mendapatkan suara yang keras, kita harus memaksimalkan tombol volume, baik yang ada di headset maupun level volume di komputer.

Mikrofon Minimalis yang Sensitif
Bagaimana dengan sensitivitas microphone-nya? Dengan ukuran Ø 6.0 x 5.0mm, magnet mikrofon headset ini lumayan detil. Sensivitasnya berada di kisaran -58dB ± 3Db, dalam kondisi tak ada suara lainnya. Tanpa teriak, suara kita akan terdengar jelas oleh pemain lain.

Hal itu karena teknologi omni directional microphone. Teknologi ini menempatkan driver microphone berada di ruang bebas sehingga memungkinkan membran mic menangkap suara dari berbagai arah.

Sayangnya, model mic seperti ini rentan distorsi sehingga gangguan suara yang di sekitar sumber suara berpotensi mengacaukan sinyal suara kita.

Meski demikian, hal ini dapat diatasi dengan sedikit keras sehingga sinyal suara yang masuk ke dalam mic lebih jelas dibanding suara sekitar. Toh, saat bermain gim, kita pun terbawa untuk berteriak, bukan?

Kesimpulan
Kami yakin bahwa para Youtuber tidak asal memberikan review. Apalagi review yang diberikan pun mempunyai kesamaan inti, yaitu headset Vonix F22 adalah headset berkualitas dengan harga yang sangat terjangkau.

Untuk menghadirkan nuansa permainan gim, kami rasa headset ini sudah mumpuni. Detil dan batasan suaranya jelas. Meski belum dilengkapi teknologi virtual 7.1 seperti Rexus Thundervox HX2, driver stereo headset ini dapat mengeluarkan sensasi surround yang luas dan detil.

Dengan desain yang simple dan kualitas material yang bandel, tak mengherankan, headset ini jadi salah satu pilihan para pengelola warnet. Kendala yang sering dikeluhkan para pemilik warnet adalah tidak adanya suku cadang earcup yang dijual bebas. Tapi, kami yakin, pihak Rexus akan segera menawarkan solusinya. Kita tunggu.

Gamers, beberapa waktu lalu, kami pernah mereview keyboard gaming Rexus Fortress K9 TKL. Keyboard minimalis Ten Key Less ini menarik perhatian kami karena bentuknya minimalis dan modern. Nah, sekarang kami kembali tertarik untuk mencoba seri K9 dari Rexus.

Seri K9 sepertinya menjadi signature tersendiri buat Rexus. Setelah seri K9 pernah menjadi idola sekitar 2 tahun lalu, kemudian muncullah saudaranya ini, yaitu K9RGB. Saat kami cek di Youtube, Rexus K9RGB juga langsung booming.

Makin penasaran donk me-review produk ini. Setelah beberapa waktu, baru kali ini kami berkesempatan untuk mereviewnya. Alasannya sih sederhana banget, mumpung Rexus Fortress K9RGB sedang  diskon lumayan gede. Bisa dicek di shop.rexus.id.

Bentuk Kotak Minimalis

Saat memegang kotak ketik berukuran 44 x 136 x 40mm ini, kami merasa bentuknya tak begitu berbeda dengan produk K9 lain.

Seri K9 memang mengusung bentuk sederhana. Tidak ada pernak-pernik atau bentuk “sok” futuristik yang malah terkesan berlebihan.

Dibanding seri Rexus MX, tentu saja bobot keyboard ini tak terlalu berat, hanya sekitar 860g. Meski tak begitu berat, saat menapak di meja, keyboard ini terasa mantap. Bobot yang ringan itu beralasan karena keyboard ini tidak dilengkapi dengan materi metal sedikitpun.

Hampir 80 – 90% materialnya terbuat dari plastik. Namun, jangan kuatir, materi plastik yang digunakan pada keyboard ini juga bukan plastik sembarangan. Sesuai standar bahan pembuat komponen elektronik, plastik yang banyak digunakan adalah plastik jenis Acrylonitrile butadiene styrene (ABS).

Dari segi material, keyboard ini memang tak begitu istimewa. Tapi, begitu mencolokkan tombol USB-nya ke  komputer yang menyalakan lampu LED di dalamnya, tampak bahwa keyboard ini memang mau menonjolkan LED RGB yang dibenamkannya.

 

LED RGB Hingga 16 Juta Spektrum Warna

Battlefire K9 RGB

Apakah maksud LED RGB? Itu adalah singkatan dari Red, Green, dan Blue. Artinya, dalam satu lampu LED RGB, terdiri dari tiga warna, yaitu merah, hijau, dan biru.

Lampu LED RGB dapat membentuk ribuan hingga jutaan warna. Bahkan, diklaim bahwa lampu LED RGB dapat membentuk 16 juta spektrum warna! Kemampuan ini sering disebut dengan istilah videotron atau megatron.

Dengan kemampuan warna sebanyak itu, maka spektrumnya bisa dilihat dari berbagai sudut. Dengan 9 mode spektrum mode, warna yang dihasilkan dari deretan switch Fortress K9RGB akan lebih menarik.

 

Fitur Audio Mode Maksimalkan RGB

K9RGB

Sadar dilengkapi oleh deretan LED RGB, keyboard ini tak mau menyia-nyiakan kekuatannya itu. Karenanya, keyboard ini juga mengusung audio mode.

Audio mode yang dimaksud bukan berarti keyboard tersebut bisa mengeluarkan suara, tapi keyboard K9RGB mempunyai sensor audio yang bisa mendeteksi suara atau music yang sedang dimainkan di komputer sehingga pancaran LED RGB keyboard akan mengikuti ritme ketukan atau beat musik tersebut.

Saat kamu menyetel musik dengan beat cepat, seperti EDM, maka pendaran LED akan menyala cepat. Sebaliknya, jika yang diputar adalah musik dengan tempo yang lambat, maka pendaran cahaya akan jadi smooth dan menenangkan. Keren!

Kami pun mencoba dengan memainkan lagu mellow Desember, milik Efek Rumah Kaca. Efeknya, cahaya LED keyboard ini pun akan mengikuti alunan lagu yang melodik. Pas banget untuk menemani bekerja, apalagi saat hujan turun di luar.

 

Fitur Lengkap untuk Sebuah Keyboard “Kere Hore”

K9RGBTak hanya soal  LED RGB dan fitur Audio Mode, keyboard yang saat promo ini hanya dibanderol Rp255.000 ini, juga termasuk salah satu keyboard yang “murah hati”. Banyak fitur-fitur lain yang dibenamkan  di dalamnya.

Fitur tersebut antara lain adalah 19 tombol anti-ghosting yang dapat ditekan bersamaan dan tidak menimbulkan efek “sticky-keys”, fitur ultra polling-rate hingga 1000Hz yang dapat menyetorkan sinyal ketukan tombol secara sangat cepat ke komputer, dan daya tahan tombol hingga 6 juta kali ketukan.

Soal tombol, meski bukan real mechanic, tombol Rexus Fortress K9RGB mengadopsi tingkat ketukan berkekuatan 45 gram. Tingkat kekuatan kekuatan itu setara dengan yang diperlukan untuk mengetuk Cherry MX blue switch atau brown switch. Jadi, meski bukan Cherry MX blue switch atau brown switch, kalian bisa menemukan sensasi ketukan yang mirip saat bermain dengan keyboard mekanikal murni.

Dengan semua fitur yang dibenamkan di dalamnya, kami berkesimpulan bahwa adalah pantas dan selayaknya keyboard Rexus Fortress K9RGB  menjadi salah satu idola merek Rexus.

MX2

Gamers, kalian tentu sudah membaca beberapa review mengenai gaming keyboard mekanikal yang pernah tampil di website ini. Dari semua jajaran keyboard mekanikal Rexus, ada satu keyboard mekanikal Rexus yang jarang disebut atau diunggah dalam kanal informasi Rexus. Keyboard itu adalah Rexus Legionare MX2.

Apakah ada yang salah dari keyboard gaming ini sehingga jarang muncul? Ada dua kemungkinan jawaban pertanyaan itu. Pertama, karena keyboard ini sudah banyak fans-nya sehingga tak perlu dipromosikan lagi. Atau, yang kedua, keyboard ini justru “tidak laku” sehingga tak berguna untuk dipromosikan.

Hmm… untuk menjawabnya, kami pun sengaja memesan dan mencoba keyboard ini. Tak berapa lama, sebuah kotak paket datang ke kami. Isinya tak lain dan tak bukan adalah Rexus Legionare MX2.

Begitu membuka kemasannya, tampak papan ketik dengan tampilan yang menurut kami justru lebih elegan dan futuristik dibanding keyboard Rexus setipe.

Tampilan Elegan nan Maskulin
Dengan dimensi 44.9 x 15.9 x 4cm, keyboard ini tampil maskulin dengan cover full aluminium berwarna dark grey. Guratan aksen “tali air” di papan aluminiumnya merupakan aksen artistik futuristik dengan garis-garis heksagonal. Sekilas, guratan tersebut mengingatkan kami akan kubus All Spark yang menjadi sumber energon dalam film Transformers.

MX2

Dengan cover full metal seperti itu, berat MX2 pun lumayan. Saat kami timbang, beratnya sekitar 2 Kg. Tapi, justru dengan berat sebesar itu, pegangan jadi terasa mantap.

Setelah dicolokkan dengan komputer, keyboard yang bekerja secara plug and play alias langsung dicolok dan pakai ini terasa mantap menapak permukaan meja.

Saat dicoba untuk bermain game, keyboard ini tak mudah geser ke sana-sini sehingga tak perlu sering mengembalikan posisi. Begitu kalian ingin mempernyaman kontrol di tombol A,S,D, atau W, kalian tinggal sedikit memiringkan keyboard ini. Sangat enak dipakai.

“Independent Built Up Switch”
Cover aluminium beraksen tersebut sangat cocok berpadu dengan 1040 tombol switch berwarna hitam. Ke-104 tombol tersebut sudah dilengkapi dengan fitur anti-ghosting. Untuk membuktikannya, kami memencet sebanyak mungkin tombol secara bersamaan. Hasilnya, semuanya bekerja. Tak terjadi konflik sedikitpun.

MX2Selain fitur anti-ghosting, tombol keyboard ini juga dilengkapi dengan LED enam warna yang pancarannya bisa diatur dengan memencet tombol FN + Del, End, Ins dan lainnya.

Buat kami sih, tak perlu menyalakan LED warna-warni, yang penting LED yang menyinari huruf A,S,D,W dan tanda panah.

Masing-masing tombol Rexus MX2 menggunakan JWH switch berwarna biru yang masing-masing dapat dicopot secara utuh-utuh. Jadi, jika biasanya kita hanya bisa melepas tutup cap-nya, MX2 bisa diganti utuh satu switch. Kami mengistilahkan dengan istilah “independent built up switch”.

Keuntungannya, switch ini dapat diganti secara utuh jika salah satu switch-nya mengalami kerusakan. Karakteristik seperti ini juga dapat kalian temukan di gaming keyboard Rexus Legionare tipe MX3 ataupun MX5.

JWH Blue Switch
Jika di gaming keyboard Rexus MX6 dan MX7, switch-nya dipercayakan pada pabrikan Outemu. Rexus MX2 ini mempercayakan pada kehandalan switch JWH berwarna biru. Banyak keyboard mekanikal kelas medioker menggunakan switch ini.

mechbox.co.uk

Merek switch JWH memang tak terkenal layaknya merek Outemu ataupun Kaihl. Tapi, dari segi kehandalan dan sensasi klik yang dihasilkannya takkan kalah dengan dengan Outemu, Kaihl, atau bahkan Cherry MX. Sensasi tactile pada blue switch JWH tetap terasa clicky dengan tekanan sekitar 45 gram.

Kelebihannya, JWH switch biasanya dibuat secara kompak sehingga bisa diganti satu per satu secara mudah. Jika salah satu switch rusak, maka kalian tinggal mengambil switch beserta housing-nya tanpa membuka cover keyboard.

Kelebihan lainnya, merek JWH juga tahan terhadap air. Karena setiap housing switch berdiri sendiri maka saat terkena siraman air, takkan terjadi konsleting dengan tombol lain.

Kesimpulannya?
Kesimpulan? O iya, saking asyik bermain dengan menggunakan keyboard Rexus MX2, jadi lupa memberi kesimpulan… Secara keseluruhan, keyboard Rexus MX2 nyaman digunakan dan handal. Saat kami konfirmasikan dengan pihak resmi Rexus, penjualan Rexus MX2 juga lumayan kenceng.

Artinya, asumsi kedua terhadap pertanyaan di atas kurang bisa diterima. Jika demikian, jika Rexus MX2 kurang banyak dibahas di sosial media atau website resmi Rexus berarti keyboard ini memang kurang tinggal di-blow up semata. Jadi bukan karen keyboard ini kurang bagus atau hal lain.

Dengan kehandalan dan tampilannya, kami rasa dibanderol seharga Rp476.000 (berdasar harga shop.rexus.id), keyboard ini bisa mencuri perhatian para penggemar gim online. Kami pun terpincut untuk menggunakannya, baik untuk bermain gim atau untuk bekerja profesional.