Gamers, kini gaming atau bermain game tidak bisa lagi dipandang hanya sebatas hobi atau salah satu sarana stress release. Gaming berkembang menjadi industri besar yang menjanjikan pemasukan yang luar biasa besar, baik bagi pemain, sponsor, produser game, atau penyedia layanan internet.

Coba bayangkan! Berdasar survey yang dilakukan oleh newzoo.com, pada 2013 kejuaraan dunia League of Legend berhasil menyedot penonton hingga 32 juta orang. Luar biasanya, pada 2014, kejuaraan gaming ini berhasil dipelototi oleh lebih dari 205 juta penonton!

Pada 2016, angka itu naik lagi jadi 292 juta orang. Dan, diprediksi pada 2019, sekitar 427 juta orang bakal menyaksikan pertandingan gaming. Artinya, itu berarti hampir dua kali jumlah penduduk Indonesia menonton tayangan gaming online. Gila, bukan?

Ada gula ada semut. Semakin banyak perhatian massa yang tersedot, semakin banyak uang yang mengalir ke industri ini. Milyaran Dollar AS lalu lalang di ceruk pertandingan esport. Sebagai contoh, pada Juli 2014, lebih dari 11.000 fans menonton pertandingan esports yang digelar di stadium basket Seattle Arena.

Pertandingan itu menawarkan hadiah fantastis, yaitu 11 Milyar Dollar atau sekitar 14,3 trilyun. Jumlah itu jauh di atas bujet kejuaraan golf USPGA Championship yang saat ini terkenal menawarkan uang yang sangat besar. Bahkan, tak tanggung-tanggung, raksasa media Amerika, ESPN, menyiarkannya secara live.

Polemik E-sport
Seiring berkembangnya industri gemerlap uang itu, gaming pun kemudian mulai digolongkan dalam salah satu cabang olahraga yang disebut sebagai e-sport, elektronik sport atau olahraga elektronik. Tentu hal ini menjadi perbincangan yang cukup menarik. Ada yang pro, namun banyak pula yang kontra.

Mengapa? Dalam pengertian konvensional, olahraga identik dengan sebuah aktivitas fisik yang dilakukan secara intensif, ritmik, berkesinambungan, serta bertujuan untuk meningkatkan sistem kardiovaskuler, kekuatan otot, dan sistem koordinasi tubuh. Gampangnya, berolahraga itu identik dengan berkeringat. Kamu pun pasti akan berpikir seperti itu.

Tapi, jika ditelusuri lebih lanjut secara terbuka, ternyata gaming memang bisa dikategorikan sebagai salah satu cabang olahraga. Secara mudah, kamu bisa membandingkannya dengan olahraga catur yang hingga saat ini pun sudah dan tetap diakui sebagai salah satu cabang olahraga.

Agar lebih mudah dimengerti, yuk kita bandingkan antara esport dengan olahraga konvensional berdasarkan komponen-komponennnya. Secara garis besar ada tiga komponen utama dalam olahraga, yaitu Strategi, Kebugaran (Fitness), dan Koordinasi tubuh.

1. Strategi
Olahraga konvensional: Hampir semua olahraga membutuhkan strategi, apalagi olahraga pertandingan dan olahraga tim. Bahkan, olahraga personal seperti joging ataupun renang pun membutuhkan strategi.

Esport: Semua game membutuhkan strategi. Bahkan beberapa game seperti League of Legends dan StarCraft termasuk mempunyai tingkat kesulitan tinggi sehingga membutuhkan kemampuan strategis yang bagus dari pemainnya. Menurut beberapa peneliti, game bahkan membutuhkan strategi lebih kompleks daripada catur.

2.  Kebugaran
Olahraga konvensional: Tentu, kebugaran adalah kunci dari semua olahraga. Kebugaran berperan langsung pada stamina sehingga seorang atlet bisa melakukan gerakan olahraga secara benar dan tepat.

Esport: Memang, seorang atlet esport profesional tak harus mempunyai kebugaran sekelas Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. Tapi, kebugaran fisik juga menjadi kunci dalam esport. Seorang atlet esport profesional dituntut untuk kuat duduk di depan komputer selama sekitar 14 jam sehari.  Itu hanya bisa diperoleh dari makanan bernutrisi tinggi dan olahraga teratur, layaknya atlet olahraga konvensional.

3.  Koordinasi tubuh
Olahraga konvensional: Kecepatan dan reaksi tubuh saat berolahraga dibutuhkan untuk memenangkan pertandingan. Koordinasi itu meliputi reaksi mata melihat obyek, ketepatan menghindar, dan kemampuan memetakan ruang. Itu hanya bisa diperoleh dari latihan secara teratur dan terus menerus. Sebagai contoh, untuk melakukan servis dengan kecepatan lebih dari 140 km/jam, seorang Serena Williams harus bereaksi kurang dari setengah detik.

Esport: Buat para gamers, koordinasi tubuh juga sangat penting. Mereka harus punya refleks dan kemampuan berpikir yang sangat cepat. Seorang gamer profesional dapat melakukan 300 aksi per menit, baik dalam kelompok maupun saat beraksi sendiri. Studi membuktikan kemampuan refleks seorang gamer lebih baik daripada orang kebanyakan.

Pantaskah Digolongkan Sebagai Cabang Olahraga?
Michal Blicharz, seorang mantan atlet judo timnas Polandia, setuju esport digolongkan sebagai salah satu cabang olahraga. Menurutnya, olahraga tak bisa dinilai dari seberapa banyak keringat yang mengucur, tapi dari ketiga komponen olahraga di atas. Jika ketiga komponen tersebut sudah terpenuhi, maka suatu aktivitas dapat digolongkan sebagai olahraga.

Blicharz mengatakan bahwa esport membutuhkan ketahanan fisik yang hanya diperoleh dari latihan fisik secara teratur, di samping latihan game yang bisanya menghabiskan waktu sekitar 2 – 7 jam per hari. Sam Mathews, mantan atlet esport yang kini menjadi pendiri Fnatic, mengatakan bahwa agar secara khusus bisa menembak target secara tepat, kita harus latihan berjam-jam tiap hari.

Latihan fisik bagi atlet esport dapat dilakukan dengan latihan kardiovaskuler, seperti joging, berenang, atau HIIT (High Intensity Interval Training). Selain itu, atlet esport juga harus mendapatkan asupan makanan bernutrisi tinggi.

So, sudah mantapkah kamu jadi atlet esport?

 

 

1 reply

Trackbacks & Pingbacks

  1. […] bisa esports jadi mata pelajaran? Jadi gini, menurut pihak kemenpora, esports masuk dalam kategori olahraga yang memerlukan kesiapan pemainnya, baik secara fisik maupun […]

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *