Posts

Foto : REXUS BT5

Gamer, penasarankah berapa lama  headset Bluetooth atau produk yang menggunakan baterai tanam lainnya harus di-charge untuk pertama kali? Pertanyaan tersebut tentu berlaku ngga hanya buat headset Bluetooth, mouse nirkabel, speaker Bluetooth, ataupun peralatan lain yang menggunakan baterai tanam.

Banyak yang menganjurkan sebelum digunakan pertama kali, peralatan elektronik yang menggunakan baterai tanam atau  built in battery diharuskan untuk diisi ulang dulu dayanya. Tujuannya agar baterai dapat awet dan bekerja menyimpan daya secara optimal.

Memang, saat pertama kali dibuka dari kemasannya, produk elektronik tersebut sudah diisi baterainya, tapi belum dalam kondisi penuh. Pengisian sebagian itu bertujuan agar produk dapat dicoba dan tentu saja, karena faktor keamanan, yaitu untuk menghindari baterai meledak kelebihan daya saat pengiriman.

Nah, untuk itu produk yang habis di-unboxing harus diisi lagi daya baterainya ya, Gaess. Berapa lama? Yuk, kita pelajari untuk tahu jawabannya.

Baterai Lithium VS NimH

Hingga saat ini, ada dua macam jenis baterai tanam yang kerap digunakan di produk elektronik kecil, seperti headset nirkabel, mouse nirkabel, ponsel, laptop, atau produk lainnya. Dua jenis baterai tersebut adalah jenis Lithium ion (Li-ion) atau Lithium Polymer (Li-poly) dan jenis NiMH (Nikel-Metal Hydride). Dua-duanya dinamai berdasar bahan pembuatnya. Jenis baterai Li-ion atau Li-poly banyak kita temukan sekarang karena merupakan penerus dari baterai NiMH yang sudah jadul.

Baterai jenis NiMH mempunyai perawatan khusus. Dulu, pengguna baterai jenis ini wajib mengosongkan dulu sisa daya yang ada di dalam baterai sebelum diisi untuk pertama kali. Pengisiannya pun harus selama sekitar 8 jam. Itu karena baterai jenis NiMH mempunyai memory effect yang akan menyimpan kapasitas pertama yang masuk ke dalam baterai tersebut.

Saat ini, baterai jenis NiMH sudah mulai tergusur oleh penerusnya, baterai Li-ion yang menggunakan bahan sejenis lithium yang dibungkus dalam polymer. Baterai ini diklaim lebih moderen teknologinya. Salah satu keunggulannya, Li-ion tidak lagi ada memory effect seperti yang biasa terjadi di baterai type Ni-MH. Hampir semua produk elektronik saat ini menggunakan baterai kering jenis Li-ion.

Rexus Travello BT121

Perlu Tidak Perlu

Dengan perkembangan teknologi baterai tersebut, maka sebenarnya baterai saat ini tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengisi daya untuk pertama kalinya. Biasanya, beberapa buku petunjuk  produk menganjurkan untuk mengisi daya sampai penuh saja.

Pengisian pertama kali untuk baterai Li-ion atau Li-poly tidak harus sampai 8 jam. Tapi, tipe baterai ini justru tidak dianjurkan dalam keadaan kosong sama sekali karena bisa mempengaruhi umur cycling baterai yang akan menjadi lebih pendek.

Meski tidak perlu di-charge hingga berjam-jam, tapi kalian perlu ingat bahwa tiap produk mempunyai karakteristik masing-masing. Karenanya, biasakan untuk selalu membaca buku panduannya untuk mengetahui kapasitas baterai dan berapa lama pengisian daya untuk pertama kali.

Ada beberapa produk yang walaupun menggunakan baterai jenis Li-Ion tetap dianjurkan untuk diisi dayanya selama 4 jam untuk pertama kali. Bahkan, untuk produk dengan baterai tanam dengan kapasitas besar, seperti laptop, produsen menganjurkan untuk tetap mengisi daya pertama kali selama sekitar 8 jam.

 

 

 

Kendala yang kerap dialami oleh pengguna headset dengan konektor Bluetooth  adalah headset tidak terkoneksi ke HP atau ponsel. Jika sudah tersambung, Bluetooth tiba-tiba putus. Biar ngga bingung, coba 11 cara mengoneksikan headset dengan ponsel.

1. Pastikan fitur Bluetooth pada perangkat-perangkat yang ingin disambungkan menyala. Pada ponsel, akan muncul logo Bluetooth, sedangkan pada headset Rexus, misalnya, akan muncul notifikasi khusus.

2. Ikuti proses pairing yang diminta oleh sistem komputer. Sebagai contoh, beberapa sistem meminta kode atau password agar bisa tersambung dengan gadget. Tapi, ada pula yang hanya meminta untuk meng-klik tombol dan kedua perangkat langsung tersambung.

3. Nyalakan “discoverable mode” pada perangkat sehingga secara otomatis perangkat tersebut akan mencari perangkat berkoneksi Bluetooth yang ada di sekitarnya.

4. Jika Bluetooth belum juga aktif, reset perangkat. Cara termudah adalah dengan mematikan kemudian menghidupkan kembali perangkat tersebut. Buat ponsel, untuk mereset-nya, kalian bisa mengaktifkan mode pesawat kemudian mematikannya kembali.

 

5. Matikan perangkat Bluetooth lain yang ada di sekitar untuk mempermudah pencarian dan penyambungan perangkat Bluetooth yang ingin disambung dengan sebuah perangkat.

6. Pastikan kedua perangkat yang ingin disambungkan dengan Bluetooth berada dalam kondisi daya baterai yang cukup. Bluetooth takkan tersambung jika salah satu perangkat yang ingin disambungkan lemah daya baterainya.

7. Jika ponsel kamu mendapat konfirmasi adanya perangkaT Bluetooth tapi tetap tidak mau menerima (receiving) atau mengirim (sending) data atau lagu dari/ke perangkat tersebut, hapus nama perangkat tersebut. Cara ini berfungsi untuk menyegarkan sistem. Dalam sistem iOS, kamu bisa meng-klik nama perangkat dan “Forget This Device”. Di pengaturan Android, klik nama perangkat dan kemudian “Unpair”.

8. Unduh driver perangkat yang ingin disambungkan dengan ponselmu. Perbarui firmware perangkat. Beberapa perangkat belum mendukung Bluetooth versi terbaru sehingga perlu diperbarui.

9. Batasi pengiriman data antar perangkat. Untuk perangkat Android, masuk ke Settings > Bluetooth dan pilih Device. Jika ada pilihan, batas pengiriman data, maka akan muncul notifikasi. Untuk Windows, masuk ke Control Panel > Hardware and Sound > Devices and Printers dan klik kanan pada perangkat Bluetooth.

10. Untuk perangkat Android, bersihkan Bluetooth cache secara teratur karena beberapa aplikasi akan mengganggu operasional Bluetooth. Caranya, masuk ke Settings > Backup and restart > Reset network settings.

11. Khusus untuk produk Rexus Bluetooth Headset Thundervox FX1, kalian memang harus menekan tombol >II selama 10 detik hingga muncul warna kelap kelip lampu biru dan merah sebagai tanda headset siap dikoneksikan dengan perangkat.

Gamers, salah satu jenis headset yang paling cocok  untuk mendukung mobile gaming adalah jenis  headset wireless atau nirkabel. Jenis headset ini membenamkan teknologi Bluetooth di dalamnya agar bisa pairing dengan source divice dengan menggunakan frekuensi radio. Seperti kita ketahui, Bluetooth beroperasi dalam pita frekuensi barengan 2,4 GHz.

Seperti kita ketahui, tampaknya mobile gaming makin tak terbendung. Makin banyak penggemar gim yang mulai tertarik dengan permainan gim dengan menggunakan peranti ponsel pintar.  Bisa dimengerti sih karena banyak gamer yang “mobile” sehingga membutuhkan media permainan yang bisa dimainkan di manapun dan kapan pun.

Dengan makin banyaknya pemain mobile gaming, peralatan yang mendukung permainan tersebut pun makin beragam. Selain ponsel pintar dengan RAM dan OS yang mumpuni, bermain mobile gaming makin nyaman dengan menggunakan headset Bluetooth.

 

Alasan Menggunakan Headset Nirkabel: Praktis

Teknologi yang menggunakan frekuensi radio memang makin banyak digunakan dalam sistem konektivitas gadget atau gawai. Meski merupakan teknologi yang tak lagi baru, Bluetooth tetap salah satu teknologi koneksi yang masih banyak digunakan hingga saat ini.

Salah satu alasan kenapa banyak orang masih menggunakan teknologi si gigi biru ini adalah segi kepraktisannya. Dengan menggunakan frekuensi, kita tak perlu berurusan dengan kabel yang kerap kali membuat ribet, tak rapi, dan kurang sedap dilihat.

Untuk koneksi lokal dengan tingkat transfer data yang relatif rendah, Bluetooth bisa diandalkan. Transfer data besar pun tetap bisa dilayani oleh Bluetooth, meski dalam waktu yang tak cepat.  Untuk Bluetooth versi 4.0, rata-rata kecepatan transfer datanya adalah sekitar 25MB per detik.


Keterbatasan Umum Bluetooth: Delay

Bagaimana dengan aktivitas transfer data besar dan membutuhkan kecepatan “real time”? Apakah Bluetooth bisa dihandalkan? Pertanyaan ini sebenarnya mendasari permasalahan yang kerap terjadi saat kalian mengalami “delay” atau “lag” suara saat menggunakan headset Bluetooth saat bermain gim.

Delaying atau nge-lag kerap dialami oleh gamer yang menggunakan headset dengan konektivitas Bluetooth. Tidak hanya satu atau dua orang yang mengalaminya, kasus ini sudah dialami oleh sebagian besar gamer.  Delay itu menyebabkan suara yang keluar tidak “real time”, ada keterlambatan beberapa detik.

Selain delay, penggunaan koneksi Bluetooth untuk headset gaming juga terkadang menimbulkan sedikit suara “Nging” saat suara dari gim berhenti.  Bagi beberapa telinga pengguna yang peka, suara “nging” itu terasa mengganggu.

Bagaimana solusinya?

Dua masalah umum ini kerap terjadi pada headset dengan koneksi Bluetooth, terutama Bluetooth yang masih menggunakan teknologi A2DP (Advanced Audio Distribution Profle) yang tak diragukan lagi kemampuannya dalam menghantarkan sinyal audio, tapi masih agak terseok-seok saat berhadapan dengan sinyal audio yang dikombinasikan dengan suara mikrofon dan visual dengan grafis kelas dewa seperti dalam permainan gim.

Namun, sebelum menyalahkan headset Bluetooth kita, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yaitu:

  1. Pastikan saat bermain dengan menggunakan headset Bluetooth, tidak ada driver lain yang sedang aktif di ponsel kamu. Itu berpotensi menyebabkan crash atau corrupt yang berpengaruh pada suara
  2. Adakah kamu mengunduh perangkat lunak yang berpotensi memperberat beban RAM ponsel kamu? Jika ada, uninstall perangkat lunak tersebut.
  3. Pastikan RAM ponsel pintar kamu cukup besar untuk memainkan gim dengan permainan grafis yang butuh kerja keras dalam memprosesnya.
  4. Gunakan perangkat lunak terbaru yang dianjurkan. Untuk gim, kalian bisa meng-update versi terbaru dari gim yang kalian mainkan.
  5. Untuk menghindari suara “nging”, pastikan baterai headset dalam keadaan full saat digunakan.
  6. Seperti yang dilansir dari howtogeek.com, satu cara yang paling tepat adalah engan menggunakan headset yang sudah didukung teknologi APTX Bluetooth Protokol. Sayangnya, sangat jarang headset yang sudah menggunakan tipe Bluetooth ini. Jika headset kamu sudah mendukung teknologi Bluetooth APTX, maka software di ponsel atau komputer pun harus mendukung teknologi yang sama. Saat ini, Windows 10 dan Android Oreo 8.0 sudah mendukung fitur ini.


Solusi Akhir: Manfaatkan Kabel AUX
Jika solusi di atas masih terlalu sulit dipraktikkan, maka cara terakhir yang lebih sederhana adalah dengan menggunakan koneksi kabel AUX. Tak bisa dipungkiri, penggunaan koneksi kabel tetaplah yang paling paten dan terbukti stabil.

Menyadari hal itu, Rexus menyertakan kabel AUX dalam tiap headset wireless-nya, seperti dalam produk Rexus M1 keluaran baru, Rexus Thundervox FX1, dan Rexus S3 Pro. Kabel AUX yang disertakan pada produk wireless headset Rexus mendukung voice sehingga headset bisa digunakan juga untuk menelepon.

Gamers, saat hendak membeli gaming headset, kamu tidak bisa mengesampingkan perihal spesifikasi produk tersebut. Dalam tiap kemasan, spesifikasi produk elektronika pasti dituliskan agar memudahkan pengguna mengetahui karakteristik dan kualitas produk yang hendak dibelinya.

Buat kalian yang tidak terlalu paham dengan istilah teknis untuk sebuah gaming headset, jangan kuatir. Berikut beberapa istilah mudah yang bisa dan wajib kamu ketahui sebelum membeli headset.

1. Range frekuensi

Kemampuan driver headset untuk menangkap frekuensi, baik rendah maupun tinggi. Biasanya, gaming headset mempunyai range frekuensi 20Hz – 20.000HZ. Artinya, headset itu bisa menangkap suara rendah (bas) di kisaran frekuensi 20Hz dan suara tinggi (trebel) di 20 ribu Hertz. Untuk audio headset berkelas biasanya mempunyai range 16 – 20.000Hz. Bahkan, ada yang memiliki range 15 – 20.000Hz, yang dibanderol dengan harga relatif mahal.

2. Sensitivitas speaker

Ini merupakan ukuran sensitivitas driver pada headset untuk mengenali sinyal elektronik yang berguna untuk menggetarkan membran di dalamnya. Biasanya, sensitivitas ini diukur berdasarkan ukuran desibel (dB). Semakin tinggi nilai desibel-nya, semakin sensitif headset. Gaming headset Rexus seri Thundervox mempunyai sensitivitas hingga 120 dB.

3. Sensitivitas mikrofon

Perbedaan headphone dengan headset adalah mikrofon. Headset mempunyai microphone yang bisa digunakan untuk berkomunikasi antar pemain saat bermain gim online. Secara mudah, carilah headset dengan nilai sensitivitas tinggi. Itu bisa dilihat dari angka ukuran sensitivitas yang diukur dengan desibel (dB). Secara lebih lengkap, selain sensitivitas, kalian juga perlu mempertimbangkan mengenai keseimbangan antara level noise, clipping point, dan distorsi.

Headset dengan mikrofon yang dilengkapi fitur omni-directional microphone, seperti Rexus Thundervox f35 atau Vonix F22, biasanya mempunyai angka sensitivitas tinggi karena dimampukan untuk menerima suara dari berbagai sumber.


4. Impedansi

Dalam mekanisme sebuah driver, terdapat magnet yang dilengkapi resistor untuk menghambat arus listrik mikro yang masuk ke dalamnya. Itu diukur menggunakan ukuran Ohm. Semakin rendah nilai Ohm-nya, semakin besar arus listrik mikro yang mengalir ke magnet driver dan kemampuan volume headset pun makin kencang. Untuk headset gaming, rata-rata impedansinya berada di kisaran 32 Ohm.

5. Diameter speaker

Yang dimaksud diameter di sini adalah ukuran lingkar driver speaker, bukan ukuran dome earpad. Semakin lebar diameter speaker-nya, biasanya suara yang dihasilkan juga makin luas. Rata-rata gaming headset dilengkapi dengan speaker berdiameter 50mm, seperti produk Rexus Vonix F19, Thundervox F35, Thundervox HX1, ataupun Thundervox HX2.