Posts

Gamers, ada beberapa hal penting yang menentukan kualitas gaming headset. Sebenarnya, kualitas tersebut dapat dilihat dalam spesifikasi produk elektronika pasti dituliskan agar memudahkan pengguna mengetahui karakteristik dan kualitas produk yang hendak dibelinya.

Buat kalian yang tidak terlalu paham dengan istilah teknis untuk sebuah gaming headset, jangan kuatir. Berikut beberapa istilah mudah yang bisa dan wajib kamu ketahui sebelum membeli headset.

1. Range frekuensi

Kemampuan driver headset untuk menangkap frekuensi, baik rendah maupun tinggi. Biasanya, gaming headset mempunyai range frekuensi 20Hz – 20.000HZ. Artinya, headset itu bisa menangkap suara rendah (bas) di kisaran frekuensi 20Hz dan suara tinggi (trebel) di 20 ribu Hertz. Untuk audio headset berkelas biasanya mempunyai range 16 – 20.000Hz. Bahkan, ada yang memiliki range 15 – 20.000Hz, yang dibanderol dengan harga relatif mahal.

2. Sensitivitas speaker

Ini merupakan ukuran sensitivitas driver pada headset untuk mengenali sinyal elektronik yang berguna untuk menggetarkan membran di dalamnya. Biasanya, sensitivitas ini diukur berdasarkan ukuran desibel (dB). Semakin tinggi nilai desibel-nya, semakin sensitif headset. Gaming headset Rexus seri Thundervox mempunyai sensitivitas hingga 120 dB.

3. Sensitivitas mikrofon

Perbedaan headphone dengan headset adalah mikrofon. Headset mempunyai microphone yang bisa digunakan untuk berkomunikasi antar pemain saat bermain gim online. Secara mudah, carilah headset dengan nilai sensitivitas tinggi. Itu bisa dilihat dari angka ukuran sensitivitas yang diukur dengan desibel (dB). Secara lebih lengkap, selain sensitivitas, kalian juga perlu mempertimbangkan mengenai keseimbangan antara level noiseclipping point, dan distorsi.

Headset dengan mikrofon yang dilengkapi fitur omni-directional microphone, seperti Rexus Thundervox f35 atau Vonix F22, biasanya mempunyai angka sensitivitas tinggi karena dimampukan untuk menerima suara dari berbagai sumber.

4. Impedansi

Dalam mekanisme sebuah driver, terdapat magnet yang dilengkapi resistor untuk menghambat arus listrik mikro yang masuk ke dalamnya. Itu diukur menggunakan ukuran Ohm (?). Semakin rendah nilai Ohm-nya, semakin besar arus listrik mikro yang mengalir ke magnet driver dan kemampuan volume headset pun makin kencang. Untuk headset gaming, rata-rata impedansinya berada di kisaran 32 Ohm.

5. Diameter speaker

Yang dimaksud diameter di sini adalah ukuran lingkar driver speaker, bukan ukuran dome earpad. Semakin lebar diameter speaker-nya, biasanya suara yang dihasilkan juga makin luas. Rata-rata gaming headset dilengkapi dengan speaker berdiameter 50mm, seperti produk Rexus Vonix F19, Thundervox F35, Thundervox HX1, ataupun Thundervox HX2.

6. Earcup

Jangan sepelekan soal busa bundar ini ya, Gaess. Ngga cuma untuk membuat kuping nyaman, earcup atau bantalan busa telinga juga berfungsi penting sebagai pembentuk suara dan peredam bising dari luar. Jadi, suara yang dihasilkan oleh headset membutuhkan ruang resonansi agar produksi suara terbentuk dengan sempurna. Nahearcup tersebut berfungsi sebagai “ruang resonansi” itu. Earcup juga berfungsi sebagai passive noise reduction system atau peredam bising berteknologi pasif yang akan menghambat suara dari luar masuk ke dalam kuping saat kamu mendengarkan musik atau bermain game.

 

Gamers, seperti kalian ketahui, gaming headset didukung oleh beberapa model colokan konektor. Yang pertama adalah model konektor dengan tiga colokan yang terdiri dari colokan headphone (berwarna hijau), colokan untuk mikrofon (pink), dan colokan untuk daya (USB). Model ini dapat ditemukan di gaming headset Rexus seri Vonix, seperti Vonix F19, F22, F26, ataupun F55.

Yang kedua adalah model konektor USB yang bisa digunakan untuk ketiga fungsi di atas. Biasanya, headset keluaran terbaru sudah mengaplikasikan model ini, seperti pada Rexus Thundervox F35, HX1, HX2, ataupun HX10.

Saat menyambungkannya dengan komputer atau laptop, tentu colokan tersebut takkan membuat masalah yang memusingkan kepala. Komputer atau laptop memiliki port yang dapat sekaligus dapat disambungkan dengan masing-masing colokan bawaan headset.

Artikel terkait: Cara Koneksi Keyboard, Mouse, dan Gamepad Android

Kendala baru muncul saat kalian ingin mengoneksikan gaming headset ke ponsel, baik untuk bermain mobile gaming, mendengarkan musik, atau untuk menerima telepon, layaknya headset lainnya. Kenapa? Karena di pada ponsel hanya ada satu port audio 3,5mm dan colokan mikro USB.

Bagaimana cara mengakalinya? Yuk, ikuti beberapa tips berikut.

  1. Gunakan converter 3,5mm

Buat gaming headset yang mempunyai tiga colokan, kamu bisa menggunakan audio mic converter. Converter tersebut banyak dijual di toko-toko elektronik. Murah, kok.

 

Tapi yang perlu diperhatikan adalah memilih audio mic converter, bukan sekedar audio converter, agar microfon headset tetap bisa berfungsi.

Apa yang membedakan?

  • Coverter audio stereo hanya mempunyai dua sekat.
  • Converter audio mikrofon mempunyai tiga sekat (lihat gambar).

Foto: Howtogeek

Kamu bisa memilih converter yang menggunakan kabel atau berupa dongle, sesuaikan dengan selera dan bujet kamu.

Catatan: Dengen menggunakan converter ini, kabel USB headset bisa dicolokkan atau tidak. Jika dicolokkan, lampu headset akan menyala. Untuk mencolokkannya, dibutuhkan converter USB.

  1. Konverter USB On The Go (0TG)

Buat kalian yang memiliki headset gaming yang punya single USB connector, maka agar bisa terhubung dengan ponsel adalah dengan menggunakan converter USB On The Go (OTG). Converter ini akan membuat tiga fungsi (headphone, mikrofon, ataupun sumber daya) bisa diaktifkan.

Syaratnya, ponsel kamu sudah mendukung fitur USB OTG dan USB 3.1. Saat ini, beberapa ponsel yang masih menggunakan USB 2.0 belum capable dengan konektivitas ini.

Buat ponsel yang mempunyai konektivitas USB Type C, maka cara di atas bisa digunakan. Bedanya, kalian harus membeli converter USB type C.

  1. Koneksi Bluetooth

Cara lain yang bisa digunakan untuk mengoneksikan headset gaming kalian dengan ponsel adalah dengan menggunakan koneksi Bluetooth. Syaratnya tentu headset gaming yang dimiliki harus tipe nirkabel dan punya konektivitas Bluetooth, seperti Rexus M1, Rexus X1, atau produk baru Rexus S3 Pro.

Dengan Bluetooth, fungsi mikrofon maupun audio dapat sekaligus aktif saat Bluetooth headset dengan ponsel terkoneksi.

Gamers, kini gaming atau bermain game tidak bisa lagi dipandang hanya sebatas hobi atau salah satu sarana stress release. Gaming berkembang menjadi industri besar yang menjanjikan pemasukan yang luar biasa besar, baik bagi pemain, sponsor, produser game, atau penyedia layanan internet.

Coba bayangkan! Berdasar survey yang dilakukan oleh newzoo.com, pada 2013 kejuaraan dunia League of Legend berhasil menyedot penonton hingga 32 juta orang. Luar biasanya, pada 2014, kejuaraan gaming ini berhasil dipelototi oleh lebih dari 205 juta penonton!

Pada 2016, angka itu naik lagi jadi 292 juta orang. Dan, diprediksi pada 2019, sekitar 427 juta orang bakal menyaksikan pertandingan gaming. Artinya, itu berarti hampir dua kali jumlah penduduk Indonesia menonton tayangan gaming online. Gila, bukan?

Ada gula ada semut. Semakin banyak perhatian massa yang tersedot, semakin banyak uang yang mengalir ke industri ini. Milyaran Dollar AS lalu lalang di ceruk pertandingan esport. Sebagai contoh, pada Juli 2014, lebih dari 11.000 fans menonton pertandingan esports yang digelar di stadium basket Seattle Arena.

Pertandingan itu menawarkan hadiah fantastis, yaitu 11 Milyar Dollar atau sekitar 14,3 trilyun. Jumlah itu jauh di atas bujet kejuaraan golf USPGA Championship yang saat ini terkenal menawarkan uang yang sangat besar. Bahkan, tak tanggung-tanggung, raksasa media Amerika, ESPN, menyiarkannya secara live.

Polemik E-sport
Seiring berkembangnya industri gemerlap uang itu, gaming pun kemudian mulai digolongkan dalam salah satu cabang olahraga yang disebut sebagai e-sport, elektronik sport atau olahraga elektronik. Tentu hal ini menjadi perbincangan yang cukup menarik. Ada yang pro, namun banyak pula yang kontra.

Mengapa? Dalam pengertian konvensional, olahraga identik dengan sebuah aktivitas fisik yang dilakukan secara intensif, ritmik, berkesinambungan, serta bertujuan untuk meningkatkan sistem kardiovaskuler, kekuatan otot, dan sistem koordinasi tubuh. Gampangnya, berolahraga itu identik dengan berkeringat. Kamu pun pasti akan berpikir seperti itu.

Tapi, jika ditelusuri lebih lanjut secara terbuka, ternyata gaming memang bisa dikategorikan sebagai salah satu cabang olahraga. Secara mudah, kamu bisa membandingkannya dengan olahraga catur yang hingga saat ini pun sudah dan tetap diakui sebagai salah satu cabang olahraga.

Agar lebih mudah dimengerti, yuk kita bandingkan antara esport dengan olahraga konvensional berdasarkan komponen-komponennnya. Secara garis besar ada tiga komponen utama dalam olahraga, yaitu Strategi, Kebugaran (Fitness), dan Koordinasi tubuh.

1. Strategi
Olahraga konvensional: Hampir semua olahraga membutuhkan strategi, apalagi olahraga pertandingan dan olahraga tim. Bahkan, olahraga personal seperti joging ataupun renang pun membutuhkan strategi.

Esport: Semua game membutuhkan strategi. Bahkan beberapa game seperti League of Legends dan StarCraft termasuk mempunyai tingkat kesulitan tinggi sehingga membutuhkan kemampuan strategis yang bagus dari pemainnya. Menurut beberapa peneliti, game bahkan membutuhkan strategi lebih kompleks daripada catur.

2.  Kebugaran
Olahraga konvensional: Tentu, kebugaran adalah kunci dari semua olahraga. Kebugaran berperan langsung pada stamina sehingga seorang atlet bisa melakukan gerakan olahraga secara benar dan tepat.

Esport: Memang, seorang atlet esport profesional tak harus mempunyai kebugaran sekelas Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. Tapi, kebugaran fisik juga menjadi kunci dalam esport. Seorang atlet esport profesional dituntut untuk kuat duduk di depan komputer selama sekitar 14 jam sehari.  Itu hanya bisa diperoleh dari makanan bernutrisi tinggi dan olahraga teratur, layaknya atlet olahraga konvensional.

3.  Koordinasi tubuh
Olahraga konvensional: Kecepatan dan reaksi tubuh saat berolahraga dibutuhkan untuk memenangkan pertandingan. Koordinasi itu meliputi reaksi mata melihat obyek, ketepatan menghindar, dan kemampuan memetakan ruang. Itu hanya bisa diperoleh dari latihan secara teratur dan terus menerus. Sebagai contoh, untuk melakukan servis dengan kecepatan lebih dari 140 km/jam, seorang Serena Williams harus bereaksi kurang dari setengah detik.

Esport: Buat para gamers, koordinasi tubuh juga sangat penting. Mereka harus punya refleks dan kemampuan berpikir yang sangat cepat. Seorang gamer profesional dapat melakukan 300 aksi per menit, baik dalam kelompok maupun saat beraksi sendiri. Studi membuktikan kemampuan refleks seorang gamer lebih baik daripada orang kebanyakan.

Pantaskah Digolongkan Sebagai Cabang Olahraga?
Michal Blicharz, seorang mantan atlet judo timnas Polandia, setuju esport digolongkan sebagai salah satu cabang olahraga. Menurutnya, olahraga tak bisa dinilai dari seberapa banyak keringat yang mengucur, tapi dari ketiga komponen olahraga di atas. Jika ketiga komponen tersebut sudah terpenuhi, maka suatu aktivitas dapat digolongkan sebagai olahraga.

Blicharz mengatakan bahwa esport membutuhkan ketahanan fisik yang hanya diperoleh dari latihan fisik secara teratur, di samping latihan game yang bisanya menghabiskan waktu sekitar 2 – 7 jam per hari. Sam Mathews, mantan atlet esport yang kini menjadi pendiri Fnatic, mengatakan bahwa agar secara khusus bisa menembak target secara tepat, kita harus latihan berjam-jam tiap hari.

Latihan fisik bagi atlet esport dapat dilakukan dengan latihan kardiovaskuler, seperti joging, berenang, atau HIIT (High Intensity Interval Training). Selain itu, atlet esport juga harus mendapatkan asupan makanan bernutrisi tinggi.

So, sudah mantapkah kamu jadi atlet esport?

 

 

Gamers, saat bermain game, otomatis kita akan duduk berlama-lama di kursi. Tak hanya satu atau dua jam, kita bahkan bisa duduk hingga belasan jam.

Tak ayal, tubuh berada dalam posisi duduk dan diam dalam satu posisi untuk waktu yang lama. Kebiasaan inilah yang digolongkan dalam gaya hidup sedentary.

Gaya hidup sedentary adalah gaya hidup atau kebisaan berdiam diri dalam waktu lama, tanpa melakukan aktivitas fisik yang membakar kalori.

Tak hanya bermain game, gaya hidup sedentary juga dialami oleh para pekerja kantoran yang tiap hari harus bekerja selama 8 – 12 jam dengan duduk di depan komputer.

Bahaya Gaya Hidup Sedentary
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa saat Anda duduk dalam waktu yang lama maka yang terjadi adalah aktivitas otot akan berhenti, proses pembakaran kalori turun menjadi hanya 1 kcal per menit, dan enzim yang membantu membakar lemak berkurang.

Hasilnya, tubuh kamu bakal menumpuk lemak di dalam tubuh. Tak hanya buat orang yang sudah berumur, gaya hidup seperti ini juga bakal dialami oleh kita yang berusia muda.

Bisa dibayangkan, setelah kita makan satu porsi masakan Padang dengan lauk rendang, kemudian kita berdiam diri dengan bermain game, maka kalori hasil pemrosesan nasi Padang tersebut takkan terbakar sempurna dan akhirnya menumpuk.

Tak mau hal itu terjadi pada kamu? Berikut beberapa cara sederhana yang bisa kamu lakukan.

1. Minum air putih yang banyak.

Meski sedang bermain game, jangan lupa untuk selalu minum air putih. Jangan tunggu saat merasa haus. Air putih terbukti membantu membakar kalori karena berperan meningkatkan proses metabolisme tubuh.

2. Lakukan gerakan tubuh saat duduk.

Kegiatan duduk dan bekerja di meja kerja sebenarnya bukan tidak membakar kalori sama sekali. Tapi, jumlah kalori yang dibakar relatif kecil, hanya 10 kcal per jam. Kamu bisa memperbesar jumlah kalori yang dibakar oleh tubuh bila Anda melakukan peregangan ringan setiap satu jam, yang akan membakar 126 kcal per jam.

3. Hindari mengemil.

Hindari kebiasaan mengemil makanan berkalori tinggi seperti gorengan, keripik kentang, atau camilan berlemak. Kebiasaan tersebut bakal akan menambah berat badan kamu.

4. Tetap rutin berolahraga.

Meski digolongkan sebagai e-sport, bukan lantas dengan bermain game kamu kemudian mengesampingkan olahraga. Sempatkan untuk berolahraga seminggu 2 – 3 kali. Selain akan membakar kalori, olahraga akan meningkatkan stamina kamu saat bermain game.

5. Kurangi makanan berlemak.

Karena aktivitas bermain game tidak membutuhkan kalori dalam jumlah besar, sebaiknya kurangi makanan berlemak dan tinggi karbohidrat. Asupan nutrisi kedua jenis makanan tersebut hanya akan menumpuk jadi lemak dalam tubuh.

Gamers, jika kamu perhatikan baik-baik peralatan gaming Rexus, baik itu mouse, keyboard, dan headset-nya, menggunakan lapisan serat nilon sepanjang kabelnya. Sekilas, hal itu tentu membuat penampilannya makin garang. Tapi, ternyata tak hanya itu tujuan melapisi kabel gaming gear dengan serat nilon. Jadi, sebenarnya apa sih keistimewaan serat nilon?

Nilon adalah kain sintetis yang terbuat dari produk minyak bumi. Karena itu, nilon digolongkan sebagai kain sintetis. Itu berbeda dengan kain non sintetis yang seratnya didapatkan dari hewan atau tumbuhan, seperti wol yang berasal dari bulu domba, linen dan katun dari serat buah kapuk randu, atau sutra yang diperoleh dari serat yang dirajut ulat sutera.

Digunakan di Peralatan Perang
Nilon diciptakan dan dikembangkan pada tahun 1930-an oleh Wallace Carothers, seorang ahli kimia dari Amerika, yang bekerja di perusahaan Dupont Chemical. Perusahaan ini hingga saat ini tetap memproduksi berbagai bahan olahan minyak bumi.

Kekuatan serat nilon langsung diakui sejak diperkenalkan ke publik pada 1938. Banyak peralatan militer yang kemudian mengadopsi serat ini dalam peralatannya, seperti untuk membuat parasut, seragam militer, strap atau tali pada senapan, dan lain sebagainya. Nilon juga akhirnya digunakan sebagai serat pendukung dalam sebuah ban.

Selain kuat, ada beberapa karakteristik serat nilon, yaitu:
– Tidak menyerap air atau kelembapan sehingga melindungi bahan yang dibungkus di dalamnya.
– Mempunyai daya regang dan elastisitas yang bagus.
– Tahan terhadap air dan panas.
– Tidak mudah lecet atau terkoyak
– Tidak berjamur atau rusak karen terkena zat kimia.


Pembungkus Kabel yang Ideal

Dengan karakteristik seperti itu, banyak produk yang dikombinasikan dengan serat nilon. Sebut saja selang air. Banyak selang yang menggunakan jalinan serat nilon di dalamnya. Tali panjat dinding pun menggunakan produk serat nilon untuk mendapatkan durabilitas yang tinggi.

Tak hanya itu, kabel peralatan gaming Rexus pun menggunakan serat nilon untuk membungkus kabelnya. Jadi, di luar inti kabel terbuat dari tembaga, terdapat lapisan karet atau plastik dan kemudian dilapisi lagi dengan serat nilon.

Rexus-titanix-TX2

Cara melapisinya pun dengan cara dirajut sehingga antar rajutan tersebut akan saling mengikat sehingga memunculkan kekuatan yang luar biasa. Dengan dirajut, kabel juga takkan kehilangan fleksibilitasnya.

Jadi, masih beranggapan bahwa serat nilon di kabel produk Rexus hanya untuk menambah gaya penampilan?

Gamers, saat ini bermain game tak bisa dikategorikan sebagai pelampiasan hobi semata. Jauh lebih dari itu, bermain game menjadi salah satu karier profesional. Itu dikarenakan gaming mulai dikategorikan dalam cabang olahraga resmi dengan nama e-sport.

Makin banyak pertandingan game yang digelar dengan menawarkan hadiah milyaran Rupiah. Pemainnya pun disebut sebagai atlet e-sport. Hadiah menggiurkan dan dukungan dari sponsorial yang sangat kencang membuat banyak gamers yang mulai menekuni cabang olahraga ini secara serius.

Apakah hanya dengan jago bermain game kamu lantas bisa jadi atlet e-sport? Belum tentu. Dilansir dari detik.com, menurut Presiden serta Pendiri Asosiasi eSport Indonesia, Eddy Lim, untuk menjadi atlet eSport tak melulu jago bermain game. Ada hal lain yang perlu diperhatikan oleh para gamers yang ingin menjadi atlet e-sport.

Menurut Eddy Lim, ada dua syarat lain yang perlu dipenuhi oleh atlet e-sport, yakni tubuh yang sehat dan otak cerdas. Tubuh yang sehat hanya bisa diperoleh dengan cara mengonsumsi makanan bernutrisi, istirahat yang cukup, dan olahraga teratur. Jangan mentang-mentang ingin menjadi atlet e-sport terus bermain game berjam-jam sepanjang hari tanpa menghiraukan faktor kesehatan. Itu salah.

Porsi berlatih game justru jangan terlalu terforsir. Perbanyak waktu untuk olahraga fisik karena daya tahan dan kestabilan konstentrasi sangat tergantung pada kondisi tubuh. Olahraga seperti berenang, joging, atau olahraga kardiovaskuler adalah pilihan olahraga yang tepat.

Faktor kedua adalah atlet e-sport harus cerdas. Menurut Eddy, e-sport mengadu strategi dan logika. Makanya, biasanya atlet e-sport berlatar belakang mereka yang suka akan pelajaran eksak seperti matematika atau fisika. Mengapa? Belajar ilmu pasti diklaim lebih efektif menstimulus otak agar berpikir secara logis dan tepat.

Selain menjanjikan hadiah yang menggiurkan, profesi atlet e-sport tetap dapat berkiprah di dunia gaming. Banyak pemain veteran e-sport banyak yang menjadi announcer pertandingan, pelatih, atau pebisnis peranti gaming.

Gamers, pasti menyenangkan jika kamu bisa memboyong produk headset Rexus, seperti seri Thundervox atau Vonix yang keren. Kamu pun tak sabar untuk menggunakannya bermain game dan mendengarkan suara surround yang menggelegar.

Ada bagian pada headset yang disebut earpad. Peranti yang kebanyakan terbuat dari kulit imitasi ini memang tak bisa disepelekan fungsinya. Ada banyak fungsi earpad. Antara lain adalah sebagai alat peredam bising yang masuk dari luar, peranti untuk menjaga agar suara keluar dan didengar secara optimal, serta penyangga dome speaker agar lebih nyaman saat berada di telinga.

Seiring dengan lamanya penggunaan, earpad pun tentu mengalami penurunan fungsi dan kualitas. Bau yang tak sedap, busa yang mulai menipis, dan kulit imitasi yang mulai sobek-sobek adalah tiga masalah utama yang sangat kerap terjadi pada earpad. Masalah tersebut tentu membuat kamu tidak nyaman lagi untuk menggunakan earpad tersebut.

Jika sudah seperti itu, apa yang bakal kamu lakukan? Dibuang dan beli lagi? Sayang donk. Apalagi, keseluruhan mesin headphone masih berfungsi secara sempurna, hanya terkendala pada earpad. Selain itu, ada beberapa tipe headset berkualitas yang tak lagi diproduksi lagi sehingga kamu tidak bisa mencari penggantinya di pasaran. Beberapa tipe headset juga tidak disertai suku cadang sehingga kamu tak bisa mencari pengganti komponen earpad yang sudah rusak.

Nah, untuk mengatasi hal itu, langkah yang paling bijak untuk dilakukan adalah dengan merawat earpad selama menggunakan headset kesayangan kamu. Berikut ini adalah cara merawat sederhana merawat earpad kamu agar tetap awet dan berfungsi sempurna.

1. Hindarkan dari sinar matahari langsung dan suhu panas.
Earpad yang terbuat dari kulit imitasi sifatnya hampir sama dengan material kulit asli. Pembukus earpad itu akan mudah keras jika terkena sinar matahari langsung sehingga rentan menjadi keras dan akhirnya pecah-pecah.


2. Hindarkan dari kelembapan.

Kulit dan kulit imitasi sangat rentan terhadap kelembapan. Jika sudah lembap, maka kulit atau kulit imitasi pembungkus earpad akan menjadi media subur buat pertumbuhan jamur. Selain menjijikkan dan menjadi sumber penyakit, earpad yang jamuran akan memunculkan bau tak sedap dan akan terasa lengket saat digunakan.

3. Gunakan lotion untuk menjaga fleksibilitas earpad.
Seperti kamu menjaga agar jaket kulit kesayanganmu awet, gunakan lotion khusus kulit untuk menjaga kelembapan dan elastisitas kulit earpad kamu. Jika tidak ada produk lotion khusus kulit, kamu juga bisa menggunakan produk hand and body lotion.

Oleskan lotion ini tipis-tipis dan lap hingga bersih. Aplikasikan produk ini minimal sebulan sekali. Selain menjaga agar kulit earpad tetap fleksibel, lotion ini juga dapat menjaga earpad dari paparan jamur dan bau.

4. Bersihkan headset setelah digunakan.
Biasakan untuk membersihkan headset beserta earpad-nya setelah digunakan. Tujuannya adalah untuk membersihkan earpad dari minyak muka dan kotoran yang menempel. Gunakan lap lembut untuk menyeka permukaan kulitnya.

 

5. Simpan secara benar.
Karena headset adalah peranti yang penting maka perlakukan secara baik. Tersedia produk Rexus Bungee J1 yang berguna untuk menggantungkan headset secara sempurna sekaligus sebagai USB hub.

Menyimpan heaset dengan cara digantung adalah cara terbaik karena earpad akan terkena sirkulasi udara yang baik. Hindari menyimpan headset dengan cara digeletakkan karena akan membuat busa atau spon earpad tertekan sehingga mudah kempes.

headphones

Foto: pixabay

Gamers, agar bisa bermain game online secara maksimal, kamu membutuhkan tiga unsur wajib, yaitu jaringan internet yang yahud, komputer (dan monitor) yang mempunyai kinerja cemerlang, dan “senjata” yang terdiri dari keyboard, mouse, serta headset.

Ketiga “senjata” itu akan menyalurkan kecepatan gerakan indera pada tokoh yang sedang kamu mainkan. Kalah – menang tokoh tersebut dalam laga yang sedang dimainkan tergantung pada caramu memainkan gaming set tersebut.

Selain mouse dan keyboard, gaming headset berperan signifikan dalam bermain game. Tak hanya untuk mendengarkan suara yang keluar dari permainan, gaming headset juga berperan sebagai alat komunikasi antar tim, sekaligus membawa kamu ke nuansa audio yang dibuat semirip mungkin dengan kondisi atau adegan game.

Meski fungsinya sama, sebelum membeli headset, pastikan kamu mengetahui perbedaan antara headset untuk mendengarkan audio atau headset untuk bermain game. Sama-sama untuk mendengarkan audio, namun keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Biasanya, gaming headset mempunyai karakter surround untuk menciptakan nuasa tiga dimensi dan kedalaman.

Selain itu, gaming headset juga dilengkapi dengan microphone sehingga kamu pun harus memerhatikan kepekaan microphone headset. Semakin peka magnet yang ada dalam microphone headset pilihanmu, semakin jelas sinyal suara yang akan didengar.

Saat ini, banyak sekali macam gaming headset yang ada di pasaran. Jika kamu bingung untuk memilihnya, simak beberapa tips berikut.

1. Sesuaikan dengan bujet.

thundervox hx2

Iya donk, hal pertama yang perlu kamu perhatikan adalah bujet atau anggaran yang kamu miliki. Harga gaming headset beraneka ragam, dari yang berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah per buah. Semakin berkualitas material gaming headset, biasanya makin mahal harganya.

Tapi, kamu tak perlu kuatir. Ada kok gaming headset yang berkualitas namun terjangkau. Rexus Thundervox HX-2 adalah salah satu seri gaming headset Rexus yang mempunyai kualitas sebanding dengan headset kelas atas lainnya. Dengan harga berkisar 300 ribuan, gaming headset ini jadi pilihan ideal.

2. Sesuaikan kebutuhan.

Vonix F55

Ukur level keprofesionalan kamu dalam bermain game. Semakin profesional, tentunya semakin tinggi kebutuhan peralatan gaming kamu. Buat kamu yang masih berada di level amatir atau intermediate, pilih jenis gaming headset yang dapat kamu pakai untuk belajar main game.

Headset yang bandel, berkualitas, namun tetap terjangkau jadi pilihan tepat karena kamu takkan terlalu sayang saat menggunakannya. Rexus Seri Vonix, seperti Rexus Vonix F55, menjawab kebutuhanmu. Kamu cukup mengeluarkan bujet 200 ribuan untuk menggunakannya.

3. Ketahui spesifikasinya.

Foto: pixabay

 

Seperti halnya audio headset, gaming headset juga mempunyai spesifikasi tertentu. Spesifikasi headset tergantung dari kemampuan driver untuk mengubah sinyal elektrik menjadi semburan suara. Itu bisa kamu lihat dalam spesifikasinya yang diukur dalam beberapa hal pokok berikut:

Range frekuensi: Kemampuan driver headset untuk menangkap frekuensi, baik rendah maupun tinggi. Biasanya, gaming headset mempunyai range frekuensi 20Hz – 20.000HZ. Artinya, headset itu bisa menangkap suara rendah (bas) di kisaran frekuensi 20Hz dan suara tinggi (trebel) di 20 ribu Hertz. Untuk audio headset berkelas biasanya mempunyai range 18 – 20.000Hz. Bahkan, ada yang memiliki range 16 – 20.000Hz, yang dibanderol dengan harga relatif mahal.

– Sensitivitas: Ini merupakan ukuran sensitivitas driver pada headset untuk mengenali sinyal elektronik yang berguna untuk menggetarkan membran di dalamnya. Biasanya, sensitivitas ini diukur berdasarkan ukuran desibel (dB). Semakin tinggi nilai desibel-nya, semakin sensitif headset. Gaming headset Rexus seri Thundervox mempunyai sensitivitas hingga 120 dB.

– Impedansi: Dalam mekanisme sebuah driver, terdapat magnet yang dilengkapi resistor untuk menghambat arus listrik mikro yang masuk ke dalamnya. Itu diukur menggunakan ukuran ? (Ohm). Semakin rendah nilai Ohm-nya, semakin besar arus listrik mikro yang mengalir ke magnet driver dan kemampuan volume headset pun makin kencang. Untuk headset gaming, rata-rata impedansinya berada di kisaran 32?.

– Diameter: Yang dimaksud diameter di sini adalah ukuran lingkar driver speaker, bukan ukuran dome earpad. Semakin lebar diameter speakernya, biasanya suara yang dihasilkan juga makin luas. Rata-rata gaming headset dilengkapi dengan speaker berdiameter 50mm.

4. Kabel atau nirkabel?

Faktor lain yang perlu kamu perhatikan saat memilih headset gaming adalah soal kabel. Saat ini, ada dua jenis gaming headset, yaitu yang menggunakan kabel (wired) atau yang tidak (wireless) yang menggunakan Bluetooth sebagai konektivitas. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Wired Gaming Headset
Kelebihan: Mempunyai hantaran sinyal yang relatif stabil, cenderung lebih awet/bandel.
Kekurangan: Kurang praktis, tidak cocok untuk digunakan bermain game dari handphone.

Wireless Gaming Headset
Kelebihan: Praktis, ergonomis, lebih gaya
Kekurangan: Butuh waktu untuk charging, sinyal kadang kurang stabil.

5. Kemampuan mereduksi kebisingan dari luar.

headset

Foto: pixabay

Baik gaming headset maupun audio headset dilengkapi kemampuan untuk mereduksi atau mengisolasi kebisingan dari luar. Saat ini, ada dua fitur yang berguna untuk mereduksi kebisingan, yaitu:

– Noise Cancellation
Fitur ini mereduksi kebisingan dari luar dengan sistem elektronik yang dibenamkan pada chip driver headset. Headset dengan fitur ini membutuhkan banyak daya untuk mengaktifkan fitur noise cancellation.

– Noise Isolation
Fitur inilah yang lebih banyak diaplikasikan pada headset. Kemampuan ini diperoleh dari sistem dan material earpad yang bagus. Bentuk earpad yang dapat mereduksi kebisingan dari luar secara optimal biasanya berupa dome atau kubah yang melingkupi seluruh telinga. Selain itu, material yang terbuat dari busa yang berlapis kulis sintetis terbukti mampu meredam suara dari luar daripada material yang terbuat dari kassa atau semacam polyester.

6. Kualitas microphone.

thundervox hx2

Ini yang tak ada dalam audio headset. Gaming headset dilengkapi microphone yang berguna untuk berkomunikasi saat bermain game. Mikrofon yang bagus mempunyai nilai sensitivitas tinggi, sekitar 58dB. Selain itu faktor keterarahan juga jadi pertimbangan. Pilih gaming headset yang mempunyai mikrofon yang bisa menangkap suara dari beberapa arah, bukan hanya dari depan.

7. Memiliki penyangga kepala yang nyaman.

Foto: pixabay

Satu hal yang tak bisa dilupakan dalam memilih gaming headset adalah peranti penyangga kepala. Untuk bermain game berjam-jam, kamu butuh headset yang mempunyai sistem penyangga kepala yang nyaman, pas di kepala, tidak mudah goyang tapi juga tidak terlalu ketat. Gaming headset Rexus mempunyai sistem penyangga kepala yang dapat menyesuaikan bentuk dan ukuran kepala secara otomatis.

8. Tidak terlalu berat.

Foto: pixabay

 

Pilih gaming headset yang mempunyai bobot yang ringan, tak terlalu berat. Headset gaming yang berat akan membuat kepala dan leher cepat lelah.

 

9. Fitur tambahan.

Tentu akan lebih menarik jika kamu memilih gaming headset dengan beragam fitur tambahan yang membuat sensasi bermain game jadi lebih lebih menarik. Sebagai contoh, kamu bisa menemukan fitur efek getar pada Rexus Thundervox-HX1. Atau, di Rexus Thundervox-HX2, kamu bisa mengontrol suara dengan panel suara 7.1 yang dimilikinya.

 

10. Faktor purnajual

Foto: pixabay

Semua orang tentu ingin mempunyai barang yang bergaransi sehingga dapat mengklaim jika terjadi kerusakan. Semakin lama garansi yang diberikan, biasanya semakin berkualitas barang yang dijual. Jajaran gaming headset dari Rexus mempunyai garansi hingga satu tahun, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Dengan fasilitas tersebut, kamu tentu bakal tak ragu untuk memilih gaming headset dari Rexus dan menggunakannya “bertempur” di arena game.

Portfolio Items