Posts

Gamers, headset gaming terbaru Rexus, Thundervox HX 10, tampaknya menjadi idola baru di kalangan gamer, terutama pengguna produk Rexus. Setelah beberapa lama di-sounding melalui kanal sosial media Rexus, akhirnya headset ini pun dipasarkan.

Tanggapan konsumen tak main-main. Menurut keterangan pihak sales Rexus, penjualan headset ini termasuk tinggi. Bahkan, Capital Gaming, sebuah warnet di kawasan timur Jakarta, memutuskan untuk meminang puluhan headset ini untuk mengganti semua perangkat pengeras suara yang ada di warnetnya.

Sebagai pengguna produk Rexus dan pencinta audio, kami juga sangat tertarik untuk mencoba peranti ini. Rasa penasaran kami dimulai saat mendengar angka 10 yang disematkan dalam seri headset ini. Dalam urutan bilangan – dan penilaian dasar, angka 10 merupakan angka sempurna. Rexus tentu tak sembarangan menggunakan angka itu.

Setidaknya, mereka punya “beban moral” tinggi saat memilih angka 10. Mereka tentu takkan mengecawakan para konsumen. Rexus memang agak aneh dengan memilih seri angka 10 karena headset advanced mereka paling baru menggunakan seri “2”, HX2. Jika sekarang langsung lompat ke angka “10”, tentu bakal ada “wow experience” yang ditawarkan.

Ekspektasi para konsumen dengan angka 10 tentu adalah headset gaming yang sempurna dan ekspektasi ribuan konsumen itulah yang menjadi “beban” Rexus. Bagaimana jika ternyata HX10 tidak sesuai harapan? Bagaimana jika HX10 ternyata hanya headset kelas “kacang” yang biasa-biasa saja? Bagaimana jika para konsumen kecewa?

Headset Masif dalam Kemasan Eksklusif
Jangan Hanya Berandai-andai. Kini saatnya mencoba. Demi menjawab hasrat penasaran, kami ikhlas untuk merogoh kocek senilai Rp359.000, – untuk memboyong produk ini. Harga segini kami rasa masih masuk akal untuk sebuah headset gaming kelas menengah yang berkualitas. Harganya tak begitu jauh dengan pendahulunya, HX2.

Dan seperti biasa, proses pengiriman toko online Rexus tak pernah butuh waktu lama untuk menyampaikan paket ke depan pintu konsumen. Paket kemasan HX10 pun langsung kami dapatkan. Kemasannya berbeda dengan beberapa headset Rexus lainnya, lebih eksklusif. Ada label “Rexus Premium Gaming Quality” di kemasan luarnya. Ini menunjukkan bahwa produk ini masuk dalam jajaran produk premium Rexus.

Saat membuka kemasannya, tampaklah sebuah headset dengan kesan “macho” yang sangat kental. Dominasi warna hitam solid berpadu dengan model head-band atau bando kokoh yang berwarna hitam pula. Tak ada warna lain pada headset ini selain hitam. Bentuk dan warnanya memberi kesan solid dan masif pada headset ini.

Bentuk “Ora Neko-neko”, Utamakan Fungsional
Meski tampil sederhana, headset Rexus HX10 ini mengusung aspek fungsionalitas yang tinggi. Salah satunya tampak dengan dengan penggunaan bando atau head-band sebagai sebagai pendukung penyangga telinga.

Saat di mana banyak headset melupakan fungsi headband, dengan tampil hanya mengandalkan penyangga telinga yang diberi bantalan busa agar nyaman saat dikenakan di atas kepala, HX10 tetap mempertahankan penggunaan headband yang dilengkapi dengan besi penyangga yang kokoh nan fleksibel.

Apa keuntungannya? Jelas, headband tersebut akan mengikuti bentuk kepala tiap orang yang berbeda-beda bentuk dan ukurannnya. Alhasil, tentu saja model ini menjadi sangat nyaman digunakan, terutama dalam penggunaan jangka panjang.

Earcup, Donat Peredam Bising
Cukup membahas mengenai bentuk, kami pun tertarik dengan bentuk speaker dome atau earcup headset ini. Sepasang peranti ini merupakan peranti paling penting pada sebuah headset karena peranti inilah yang berfungsi untuk memproduksi suara sekaligus mengkondisikan telinga agar bisa mendengarkan suara semaksimal mungkin.

Jika kalian perhatian, bentuk earcup headset ini agak sedikit aneh. Apa yang aneh? Tebal dan berbentuk seperti donat. Ya, HX10 memang punya earcup dengan ketebalan di atas rata-rata. Ketebalan totalnya mencapai sekitar 6cm yang terdiri dari 2 cm ketebalan busa earpad dan 4 cm speaker dome.

Earpad headset ini masuk dalam golongan over ear earcup. Artinya, earcup-nya melingkupi telinga secara keseluruhan. Mode seperti ini tentu mempunyai beberapa keuntungan, yaitu nyaman digunakan untuk waktu yang lama dan efektif meredam suara.

Dengan diameter lingkar dalam 6cm, hampir semua ukuran telinga – kecuali telinga kaum Hobbit – bisa masuk secara sempurna. Nyaman banget. Busanya pun sangat nyaman, terlebih dilapisi dengan kulit sintetis PU leather yang lembut.

Dengan ketebalan busa 2cm, earpad ini juga sekaligus berfungsi untuk meredam suara dari luar. Inilah yang dinamakan sebagai teknologi passive noise reduction. Dengan cara ini, suara dari luar bakal tak terdengar, bahkan saat kalian belum menyalakan musik sama sekali.

Uniknya, earpad headset ini dapat dilepas-pasang sehingga dapat dibersihkan secara teratur dan diolesi dengan lotion agar tak mudah pecah-pecah dan sobek. Rexus juga menyediakan suku cadang earpad untuk tipe ini jika suatu saat nanti mengalami kerusakan. Pemasangannya sangat mudah.

Suara Apik, Rapi, Tertata, Manis Manja
Seperti biasa, kami takkan mengeluarkan hasil review tanpa mencobanya mendengarkan suaranya. Supaya lebih afdol dan fair, kami pun mencoba headset ini dalam dua fungsi, yaitu dalam mode audio dan mode game.

Dalam mode audio, kami memilih menggunakannya untuk mendengarkan musik bergenre EDM yang menyemburkan bass dengan beat yang cepat namun dituntut untuk tetap bisa mengeluarkan frekuensi suara dan treble secara bersamaan dan seimbang.

Lagu legendaris “Never Fade Away” kreasi John O’ Callaghan versi Andy Duguid pun kami geber. Tak tanggung-tanggung, kami pilh yang berformat FLAC. Hasilnya? Suara bas yang disemburkan terdengar menggelegar dan dalam. Suara bas tersebut tidak menutup keluaran frekuensi lainnya. Beberapa suara perkusi melodis yang bernada tinggi tetap terdengar sempurna.

Seperti jenis lagu progressive vocal trance, lagu itu menyajikan suara vocal yang berada di frekuensi mid-range. Hasilnya, featuring vocal milik Lo-Fi Sugar yang manis manja itu terasa tetap empuk terdengar di tengah dentuman bas yang ritmik rapi.

Efek Surround dengan Virtual 7.1
Biasanya, game headset “kurang” pada segmen nada rendah akibat mengutamakan efek surround-nya. Tapi, sepertinya HX10 ini tetap sadar dengan nada bawah meski mengusung efek surround. Seperti HX2, efek surround HX10 dipercayakan pada software yang berfungsi untuk “memanipulasi” suara stereo sehingga menjadi surround 7.1 secara virtual.

Virtual 7.1 menggunakan perangkat lunak yang akan mengolah suara sehingga memberikan kesan sinematik dan kedalaman. Hasilnya, pengguna headset 7.1 seakan-akan berada di dalam suasana yang ditampilkan dalam game. Untuk mendapatkan efek itu, unduh software-nya di rexus.id/dukungan dan instal di komputer.


Bas Tetap Menggelegar
Meski masuk dalam dimensi surround, produksi bas HX10 tetap tidak ketinggalan kok. Kita masih bisa mendengar efek nada rendah secara sempurna. Jika ditambah dengan vibrasi, efek itu akan menjadi makin sensasional.

Masih kurang yakin dengan kemampuan bas-nya? Kami pun mencobanya dengan aplikasi Ultimate Headphone Test yang diunggah oleh HiHAKER di laman Youtube-nya. Hasilnya, headset ini mencapai suara bas di angka sekitar 15 -16Hz. Angka ini tentu melebihi jangkauan kebanyakan headset yang rata-rata hanya mampu berkutat di frekuensi rendah sekitar 20Hz.

Bas yang besar itu tak lepas dari kapasitas driver. Dengan driver berdiameter 50mm dengan impedansi 32?, HX10 mempunyai potensi untuk dimaksimalkan power output-nya. Besarnya diameter driver itu, semakin besar membran yang bisa digerakkan oleh  kumparan dan magnet di dalamnya sehingga suara yang keluar bisa penuh daya.

Power besar memang tidak serta merta menentukan kualitas suara. Tapi, dalam headset ini, kualitas suara yang mumpuni dan ditambah dengan daya keluaran suara yang besar, maka akan menghadirkan pengalaman mendengarkan yang sensasional.

Getarannya Sampai ke Ubun-ubun

Nah, ini dia yang bikin kami makin jatuh cinta dengan headset HX10. Ya, fitur getar atau vibrasi yang bisa dikontrol.  Dengan  adanya fitur ini, suara bas jadi terasa sensasional karena tambahan fitur vibrasi yang membantu tendangan bas makin terasa ke telinga. Getarannya pun sampai ke ubuh-ubun. Geli-geli gimana gitu… .

Fitur ini tidak dimiliki oleh pendahulunya, HX2. Dan, yang lebih menyenangkan, vibrasi di headset ini dapat dikontrol seperti mengontrol volume. Tentu hal ini sangat membantu karena tanpa kontrol vibrasi, getaran yang tujuannya untuk menambah sensasi justru mengganggu dan membosankan.

Setelah mencoba dengan mode audio, kami pun mencobanya dalam mode game, sesuai takdirnya sebagai headset game. Gim yang kami pilih adalah Point Blank. Game tersebut menyajikan beragam suara yang membutuhkan perangkat dengar yang mumpuni untuk dapat memproduksinya secara sempurna.

Bagaimana hasilnya? Jika dinilai dalam skala 1 – 10, kami tak ragu memberi angka 8. Tembakan dan letusan senapan terasa menggelegar. Dengan karakteristik headset secara keseluruhan yang warm dan full bass, tentu suara ledakan bisa terakses secara sempurna. Tapi, untuk suara detil seperti tapak kaki, meski tetap terdengar, suara tapak kaki di HX10 sedikit tertutup oleh suara ledakan yang bombastis. Karakteristik ini sedikit berbeda dengan HX2 yang lebih clear dan bright.

Flexible Microphone Stick
Sebagai headset game, selain kualitas driver speaker, kualitas mikrofon pun harus tetap diperhitungkan. Nah, HX10 sudah dilengkapi dengan mikrofon kecil yang fleksibel dan dapat ditarik hingga ke samping mulut.

Dengan mikrofon yang focus-directional tersebut, suara pengguna akan terdengar secara jelas meski banyak teriakan di sekitarnya. Hal ini tentu akan sangat membantu gamer saat bermain di turnamen. Komunikasi antar tim pun akan mudah diterima oleh sesama anggota tim.

Dengan beragam fitur yang ada di dalamnya dan tentu saja, kualitas suara yang mendekati sempurna – tentu saja, tak ada yang sempurna di dunia ini – headset ini pantas untuk diajak berkompetisi di turnamen berkelas.

Setelah me-review-nya, kami bisa mengerti alasan Rexus Indonesia menyematkan angka 10 pada headset ini.

Gamers, secara garis besar, saat ini ada dua macam mode konektivitas headset (gaming) yang ada di pasaran, yaitu headset dengan konektivitas kabel dan headet nirkabel yang memanfaatkan teknologi Bluetooth.

Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebelum memilih salah satunya, yuk kita pelajari dahulu satu-satu berdasarkan beberapa aspek.

Aspek Kepraktisan
Jelas, juara dalam hal ini adalah headset nirkabel yang berbasis Bluetooth. Dengan dilengkapi teknologi Bluetooth, headset nirkabel mempunyai jangkauan hingga sekitar 10meter dari sumber suara tanpa menggunakan kabel.

Berbeda dengan headset kabel yang maksimal mempunyai kabel sepanjang 2 meter. Kabel juga membuat pergerakan kita jadi sedikit terbatasi.

Aspek Kemudahan dalam Aplikasi
Buat para gamer dan orang yang nge-“geek”, mengoneksikan antara headset nirkabel ke ponsel atau gawai lainnya tentu bukan hal yang sulit. Tapi, bagi orang yang “awam” dengan peralatan berteknologi tinggi hal itu bukannlah hal mudah.

Secara keseluruhan, headset kabel lebih sederhana pengaplikasiannya. Pengguna tinggal mencolokkan ke port yang biasanya berdiameter 3,5mm dan secara otomatis headset akan memproduksi suara yang keluar dari gawai.

Aspek Perkembangan Teknologi
Headset nirkabel yang berteknologi Bluetooth memiliki perkembangan teknologi yang lebih cepat. Pada tahap awal kehadiran Bluetooth, hanya ada fitur Advanced Audio Distribution Profile (A2DP) yang secara otomatis meng-compress file audio asli. Saat ini, teknologi Bluetooth sudah menggunakan teknologi baru yang dikembangkan oleh Qualcomm, yaitu aptX, teknologi penghantar sinyal audio dengan kecepatan dan kualitas semirip mungkin dengan file audio asli.

Aspek Kualitas Suara
Bagaimanapun, headset dengan kabel mempunyai daya hantar lebih bagus karena menggunakan media kabel sehingga kualitas suara yang dihasilkan oleh headset kabel lebih bagus dan stabil daripada menggunakan frekuensi radio layaknya Bluetooth.

Aspek Harga
Dari aspek harga, saat ini memang agak sulit dibandingkan keduanya, saking banyaknya jenis dan tipe headset dari berbagai tipe. Tapi, dari membandingankan sekilas, harga headset dengan Bluetooth lebih mahal dibandingkan produk lain sekelasnya. Itu disebabkan adanya penambahan komponen Bluetooth dan baterai lithium yang rechargeable.

Aspek Gangguan
Nah, ini yang kerap dirasakan oleh para pengguna headset ber-Bluetooth. Dengan mengandalkan frekuensi sinya, headset nirkabel lebih berpotensi terkena gangguan seperti distorsi “kresek-kresek”, suara dengung  yang keluar meski volume nol, rasa panas di kuping akibat baterai, dan banyak lain.

Gangguan yang dihadapi headset kabel lebih berkutat masalah kabel yang tidak rapi ataupun colokan jack yang sudah agak longgar sehingga harus beberapa dibenarkan posisinya.

Solusi: Dual Mode Connectivity Headset
Dengan makin banyaknya permintaan konsumen yang menginginkan produk headset yang praktis, ergonomis, mudah aplikasinya, punya suara berkualitas file audio asli, dan minim distorsi, maka produsen pun berlomba memproduksi headset dengan dual konektivitas, bisa menggunakan koneksi kabel ataupun nirkabel.

Rexus juga hadir dengan beberapa produk headset yang memiliki dual konektivitas, yaitu Rexus X1, Rexus M1, dan produk teranyar Rexus S3 Pro. Ketiga produk wireless ini memiliki port 3,5mm yang bisa dikoneksikan dengan kabel dengan jack 3,5mm sehingga pengguna dapat memilih mau menggunakan Bluetooth atau kabel.

Jadi, mana pilihanmu?

Baca juga: Review Rexus X1: Sorry, Ini Bukan Gaming Headset

Gamers, saat hendak membeli gaming headset, kamu tidak bisa mengesampingkan perihal spesifikasi produk tersebut. Dalam tiap kemasan, spesifikasi produk elektronika pasti dituliskan agar memudahkan pengguna mengetahui karakteristik dan kualitas produk yang hendak dibelinya.

Buat kalian yang tidak terlalu paham dengan istilah teknis untuk sebuah gaming headset, jangan kuatir. Berikut beberapa istilah mudah yang bisa dan wajib kamu ketahui sebelum membeli headset.

1. Range frekuensi

Kemampuan driver headset untuk menangkap frekuensi, baik rendah maupun tinggi. Biasanya, gaming headset mempunyai range frekuensi 20Hz – 20.000HZ. Artinya, headset itu bisa menangkap suara rendah (bas) di kisaran frekuensi 20Hz dan suara tinggi (trebel) di 20 ribu Hertz. Untuk audio headset berkelas biasanya mempunyai range 16 – 20.000Hz. Bahkan, ada yang memiliki range 15 – 20.000Hz, yang dibanderol dengan harga relatif mahal.

2. Sensitivitas speaker

Ini merupakan ukuran sensitivitas driver pada headset untuk mengenali sinyal elektronik yang berguna untuk menggetarkan membran di dalamnya. Biasanya, sensitivitas ini diukur berdasarkan ukuran desibel (dB). Semakin tinggi nilai desibel-nya, semakin sensitif headset. Gaming headset Rexus seri Thundervox mempunyai sensitivitas hingga 120 dB.

3. Sensitivitas mikrofon

Perbedaan headphone dengan headset adalah mikrofon. Headset mempunyai microphone yang bisa digunakan untuk berkomunikasi antar pemain saat bermain gim online. Secara mudah, carilah headset dengan nilai sensitivitas tinggi. Itu bisa dilihat dari angka ukuran sensitivitas yang diukur dengan desibel (dB). Secara lebih lengkap, selain sensitivitas, kalian juga perlu mempertimbangkan mengenai keseimbangan antara level noise, clipping point, dan distorsi.

Headset dengan mikrofon yang dilengkapi fitur omni-directional microphone, seperti Rexus Thundervox f35 atau Vonix F22, biasanya mempunyai angka sensitivitas tinggi karena dimampukan untuk menerima suara dari berbagai sumber.


4. Impedansi

Dalam mekanisme sebuah driver, terdapat magnet yang dilengkapi resistor untuk menghambat arus listrik mikro yang masuk ke dalamnya. Itu diukur menggunakan ukuran Ohm. Semakin rendah nilai Ohm-nya, semakin besar arus listrik mikro yang mengalir ke magnet driver dan kemampuan volume headset pun makin kencang. Untuk headset gaming, rata-rata impedansinya berada di kisaran 32 Ohm.

5. Diameter speaker

Yang dimaksud diameter di sini adalah ukuran lingkar driver speaker, bukan ukuran dome earpad. Semakin lebar diameter speaker-nya, biasanya suara yang dihasilkan juga makin luas. Rata-rata gaming headset dilengkapi dengan speaker berdiameter 50mm, seperti produk Rexus Vonix F19, Thundervox F35, Thundervox HX1, ataupun Thundervox HX2.

Gamers, pernahkah mendengar istilah “eargasm”? Istilah slang tersebut sering digunakan untuk melukiskan suatu kondisi saat seseorang merasa sangat puas karena indera pendengarannya memeroleh sensasi yang sangat menyenangkan.

Kami tidak tahu apakah pernyataan kami ini berlebihan atau tidak, tapi tampaknya kami juga merasakan sensasi “eargasm” saat mencoba produk headset Rexus Thundervox F35. Produk ini memang bukan produk unggulan dari merek produk gaming asli Indonesia itu.

Bahkan, sejauh pengamatan kami, produk ini kalah populer dibandingkan produk serumpunnya, Rexus Thundervox HX2, yang sudah digadang-gadang berfitur virtual 7.1. Tapi, kualitasnya dapat diadu dengan produk-produk lainnya.

Hadir hanya dengan satu pilihan warna, yaitu hitam, Thundervox F35 tampak tak semewah headset lainnya. Bentuknya simple dan memberikan aksen headset yang ortodok. Dome headset berbentuk bulat dengan sistem melingkupi seluruh telinga (over ear), penyangga kepala polos, dan tombol pengaturan volume masih dengan cara diputar jadi representasi begitu konservatifnya pelantang suara ini.

Model konvesional itu tentu membuat F35 justru lebih “nonjol” saat disandingkan dengan beberapa headset masa kini yang bentuknya futuristik dan didominasi dengan spasial heksagonal yang bentuk bersudut-sudut. Bandingkan saja dengan bentuk headset terbaru keluaran R**zer atau Strix punya A*us, yang membuat kamu seperti masuk dalam dunia robotik.


Bentuk Konvensional, Fungsi Maksimal

Thundervox F35

Meski tampil sederhana, headset Rexus F35 ini mengusung aspek fungsionalitas yang tinggi. Salah satunya tampak dengan dengan penggunaan bando atau headband sebagai sebagai pendukung penyangga telinga.

Saat di mana banyak headset melupakan fungsi headband, dengan tampil hanya mengandalkan penyangga telinga yang diberi bantalan busa agar nyaman saat dikenakan di atas kepala, F35 tetap mempertahankan penggunaan headband.

Apa keuntungannya? Jelas, headband tersebut akan mengikuti bentuk kepala tiap orang yang berbeda-beda bentuk dan ukurannya. Alhasil, tentu saja model ini menjadi sangat nyaman digunakan, terutama dalam penggunaan jangka panjang. Selain itu, model ini membuat dome speaker dapat secara sempurna melingkupi telinga sehingga secara tidak langsung menjadi passive noise reduction feature.

 

Bas Menggelegar, Detil Tak Pudar

Kami takkan mengeluarkan hasil review tanpa mencobanya mendengarkan suaranya. Supaya lebih afdol dan fair, kami pun mencoba headset ini dalam dua fungsi, yaitu dalam mode audio dan mode game.

Dalam mode audio, kami memilih menggunakannya untuk mendengarkan musik bergenre EDM yang menyemburkan bas dengan beat yang cepat namun dituntut untuk tetap bisa mengeluarkan frekuensi suara dan treble secara bersamaan.

Lagu terbaru “Unlock” milik Charlie XCX pun kami putar. Kualitasnya pun sebatas MP3, bukan FLAC. Hasilnya? Suara bas yang disemburkan terdengar menggelegar dan dalam. Suara bas tersebut tidak menutup keluaran frekuensi lainnya. Beberapa suara perkusi bernada tinggi tetap terdengar sempurna.

Selain itu, suara bas jadi terasa sensasional karena tambahan fitur vibrasi yang membantu tendangan bas makin terasa ke telinga. Untuk mengaktifkannya, silahkan memencet tombol kecil di dekat corong mikrofon. Tempatnya agak aneh sih, karena banyak orang mengira tombol itu untuk mengaktifkan mikrofon.

Masih kurang yakin dengan kemampuan bas-nya? Kami pun mencobanya dengan aplikasi Ultimate Headphone Test yang diunggah oleh HiHAKER di laman Youtube-nya. Hasilnya, headset ini mencapai suara bas di angka sekitar 15 -16Hz. Angka ini tentu melebihi jangkauan kebanyakan headset yang rata-rata hanya mampu berkutat di frekuensi rendah sekitar 20Hz.


Cuitan Burung di CSGO Tetap Terdengar

Setelah mencoba dengan mode audio, kami pun mencobanya dalam mode game, sesuai takdirnya sebagai headset game. Gim yang kami pilih adalah CS:GO. Game tersebut menyajikan beragam suara yang membutuhkan perangkat dengar yang mumpuni untuk dapat memproduksinya secara sempurna.

Bagaimana hasilnya? Jika dinilai dalam skala 1 – 10, kami tak ragu memberi angka 8. Derap langkah dan kokangan senjata tentu masih mudah diakses oleh kebanyakan headset.

Tapi, bagaimana dengan cuitan burung, gonggongan anjing, ataupun ringkikan kuda yang ada saat kita mulai masuk ke dalam kota dalam sebuah suasana city war?

Ternyata, F35 masih mampu menyajikan suara-suara lirih itu untuk Anda. Suasana city war pun terasa makin realistis dan mencekam.

Sebagai headset game, selain kualitas driver speaker, kualitas mikrofon pun harus tetap diperhitungkan. Sayang seribu sayang, F35 hanya dilengkapi mikrofon kecil yang ada di samping pipi kiri. Meski mengklaim menggunakan fitur multidirectional microphone, suara yang masuk ke mikrofon kurang fokus.

Dengan fitur multi-directonal tersebut, suara yang masuk ke mikrofon jadi makin banyak. Akibatnya, saat digunakan untuk bermain dalam suasana gim yang ramai atau sebuah turnamen offline, pemain jadi agak kesulitan untuk mendengar suara dari rekan satu tim.  Tapi, jika turnamen diadakan secara online, kami yakin pemain takkan kesulitan berkomunikasi.

 

Daya Keluaran Besar

Dengan driver berdiameter 50mm dengan impedansi 32?, F35 mempunyai potensi untuk dimaksimalkan power output-nya. Besarnya diameter driver itu, semakin besar membran yang bisa digerakkan oleh  kumparan dan magnet di dalamnya sehingga suara yang keluar bisa penuh daya.

Power besar memang tidak serta merta menentukan kualitas suara. Tapi, dalam headset ini, kualitas suara yang mumpuni dan ditambah dengan daya keluaran suara yang besar, maka akan menghadirkan pengalaman mendengarkan yang sensasional.

Dibanderol seharga Rp250.000,- , kami rasa itu harga yang sesuai dengan “eargasm” yang bakal Anda rasakan. Dan, yang lebih penting, kami  yakin bahwa gamer professional takkan ragu untuk mengunakan headset ini saat turnamen…

Dengan catatan, gamer professional itu mengedepankan kualitas ya, bukan sekedar adu gengsi dan penampilan luar. Pernyataan itu bukannya tanpa dasar. Terbukti, salah satu tim juara 1 Nasional Turnamen League of Legends, memilih menggunakan produk ini dibandingkan produk yang lain.

Jadi, apakah headset pilihanmu?