Posts

Gamers, secara garis besar, saat ini ada dua macam mode konektivitas headset (gaming) yang ada di pasaran, yaitu headset dengan konektivitas kabel dan headet nirkabel yang memanfaatkan teknologi Bluetooth.

Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebelum memilih salah satunya, yuk kita pelajari dahulu satu-satu berdasarkan beberapa aspek.

Aspek Kepraktisan
Jelas, juara dalam hal ini adalah headset nirkabel yang berbasis Bluetooth. Dengan dilengkapi teknologi Bluetooth, headset nirkabel mempunyai jangkauan hingga sekitar 10meter dari sumber suara tanpa menggunakan kabel.

Berbeda dengan headset kabel yang maksimal mempunyai kabel sepanjang 2 meter. Kabel juga membuat pergerakan kita jadi sedikit terbatasi.

Aspek Kemudahan dalam Aplikasi
Buat para gamer dan orang yang nge-“geek”, mengoneksikan antara headset nirkabel ke ponsel atau gawai lainnya tentu bukan hal yang sulit. Tapi, bagi orang yang “awam” dengan peralatan berteknologi tinggi hal itu bukannlah hal mudah.

Secara keseluruhan, headset kabel lebih sederhana pengaplikasiannya. Pengguna tinggal mencolokkan ke port yang biasanya berdiameter 3,5mm dan secara otomatis headset akan memproduksi suara yang keluar dari gawai.

Aspek Perkembangan Teknologi
Headset nirkabel yang berteknologi Bluetooth memiliki perkembangan teknologi yang lebih cepat. Pada tahap awal kehadiran Bluetooth, hanya ada fitur Advanced Audio Distribution Profile (A2DP) yang secara otomatis meng-compress file audio asli. Saat ini, teknologi Bluetooth sudah menggunakan teknologi baru yang dikembangkan oleh Qualcomm, yaitu aptX, teknologi penghantar sinyal audio dengan kecepatan dan kualitas semirip mungkin dengan file audio asli.

Aspek Kualitas Suara
Bagaimanapun, headset dengan kabel mempunyai daya hantar lebih bagus karena menggunakan media kabel sehingga kualitas suara yang dihasilkan oleh headset kabel lebih bagus dan stabil daripada menggunakan frekuensi radio layaknya Bluetooth.

Aspek Harga
Dari aspek harga, saat ini memang agak sulit dibandingkan keduanya, saking banyaknya jenis dan tipe headset dari berbagai tipe. Tapi, dari membandingankan sekilas, harga headset dengan Bluetooth lebih mahal dibandingkan produk lain sekelasnya. Itu disebabkan adanya penambahan komponen Bluetooth dan baterai lithium yang rechargeable.

Aspek Gangguan
Nah, ini yang kerap dirasakan oleh para pengguna headset ber-Bluetooth. Dengan mengandalkan frekuensi sinya, headset nirkabel lebih berpotensi terkena gangguan seperti distorsi “kresek-kresek”, suara dengung  yang keluar meski volume nol, rasa panas di kuping akibat baterai, dan banyak lain.

Gangguan yang dihadapi headset kabel lebih berkutat masalah kabel yang tidak rapi ataupun colokan jack yang sudah agak longgar sehingga harus beberapa dibenarkan posisinya.

Solusi: Dual Mode Connectivity Headset
Dengan makin banyaknya permintaan konsumen yang menginginkan produk headset yang praktis, ergonomis, mudah aplikasinya, punya suara berkualitas file audio asli, dan minim distorsi, maka produsen pun berlomba memproduksi headset dengan dual konektivitas, bisa menggunakan koneksi kabel ataupun nirkabel.

Rexus juga hadir dengan beberapa produk headset yang memiliki dual konektivitas, yaitu Rexus X1, Rexus M1, dan produk teranyar Rexus S3 Pro. Ketiga produk wireless ini memiliki port 3,5mm yang bisa dikoneksikan dengan kabel dengan jack 3,5mm sehingga pengguna dapat memilih mau menggunakan Bluetooth atau kabel.

Jadi, mana pilihanmu?

Baca juga: Review Rexus X1: Sorry, Ini Bukan Gaming Headset

Gamers, dalam artikel Apa yang Dimaksud dengan Gaming Headset 7.1, sudah dijelaskan arti dari gaming headset 7.1. Intinya, headset ini adalah perangkat pelantang suara yang menggunakan teknologi yang dapat mengeluarkan suara surround sehingga menampilkan suasana realistis gim yang dimainkan.

Dengan teknologi 7.1, terdapat kanalisasi frekuensi suara berdasarkan intensitas frekuensi, baik itu suara berfrekuensi rendah, menengah, ataupun tinggi. Kanalisasi itu terbagi dalam 7 (tujuh) titik suara yang menyemburkan suara frekuensi tinggi dan menengah, serta 1 (satu) suara berfrekuensi rendah atau bas.

Dengan kanalisasi atau pembagian jenis suara tersebut, maka telinga akan membedakan letak masing-masing suara. Suara yang dihasilkan pun lebih detil. Kita bisa mendengarkan derap kaki musuh yang mendekat, kokangan senjata, derit pintu yang dibuka, hingga ledakan senapan atau granat.

Saat ini, gaming headset mempunyai dua jenis teknologi surround 7.1, yaitu Virtual 7.1 dan Real 7.1. Kedua teknologi tersebut digunakan oleh produsen headset gaming.

Yuk, kita pahami teknologinya dan keuntungan serta kelemahannya.

 

Headset Virtual 7.1

 

Apa itu Headset Virtual 7.1?

Sesuai dengan namanya, “virtual”, headset ini sebenarnya adalah headset stereo yang memiliki dua driver speaker namun dengan bantuan perangkat lunak, dibuat seakan-akan mengeluarkan suara surround 7.1.

Apakah itu sebatasgimmick atau strategi produsen dalam menaikkan nilai jualannya? Tidak bisa dikategorikan seperti itu.

Virtual 7.1 bukan sekedar gimmick karena memang ada teknologi yang dapat “memanipulasi” sistem pendengaran dan otak manusia sehingga merasakan sensasi surround, seperti yang bisa kalian dapatkan saat bermain gim dengan mengenakan Rexus Thundervox HX-2.

Bagaimana cara kerja headset Virtual 7.1?

Menurut informasi yang dicuplik dari ign.comheadset virtual 7.1 membenamkan internal atau eksternal pre-amplifier atau berupa perangkat lunak untuk mengubah sinyal suara stereo menjadi sinyal suara surround.

Amplifier tersebut menggunakan script perintah algoritma untuk membagi kanal suara. Salah satu contoh pembagiannya adalah dengan men-delay suara rendah atau bas agar serasa berada di titik pusat ruangan. Sebaliknya, perangkat lunak itu akan menonjolkan suara mid-range dan high sehingga detil suara sangat terasa dari pinggir.

Karena di-delay, perangkat headset virtual 7.1 biasanya mempunyai kekurangan dalam menggelontorkan suara bas. Tapi, produsen tak kehilangan akal. Untuk meningkatkan sensasi getaran bass, dibenamkanlah fitur vibrasi sehingga saat suara bas muncul, headset akan bergetar.

Apa kekurangannya?

Tentu saja, karena menggunakan teknologi virtual, suara yang dihasilkan tentu kurang detil dibandingkan dengan produk headset Real 7.1.  Biasanya, kelemahan headset virtual 7.1 terletak pada kekuatan bas yang dihasilkan. Suara yang dihasilkan akan cenderung berupa suara dalam ruangan (hall atau cinematic).

Apa kelebihannya?

Tentu saja, soal harga. Dibandingkan dengan produk headset Real 7.1, headset ini jauh lebih ekonomis. Dengan harga yang sangat jauh berbeda, namun dengan sensasi yang 11-12, tentu menjadi pertimbangan utama buat pengguna. Selain itu, saat ini, banyak produsen yang menggunakan driver besar untuk mendongkrak kekuatan suara headset Virtual 7.1.

 

Headset Real 7.1

Apa itu Headset Real 7.1?
Headset ini menggunakan satelit speaker asli sesuai dengan jumlahnya. Dalam sebuah housing atau dome speaker, terdapat beberapa driver speaker yang masing-masing menyemburkan suara sesuai dengan kanal frekuensi yang sudah diatur.

Foto: howtogeek.com

Bagaimana cara kerjanya?

Headset real 7.1 mengadopsi prinsip kerja home theatre yang menempatkan beberapa speaker satelit di sekeliling pendengar agar menciptakan efek surround dengan tingkat keluasan maksimal. Dengan efek surround tersebut, pendengar serasa masuk dalam situasi nyata sebuah gim.

Biasanya, headset real 7.1 akan memposisikan speaker dengan driver terbesar di tengah untuk mengeluarkan suara bas yang empuk dan menempatkan speaker kecil-kecil di beberapa titik sehingga terdapat jarak antara satu suara dengan suara lain.

Apa kekurangannya?

Jelas, segi harga jadi pembeda headset ini dengan produk headset virtual. Dengan menggunakan 6 atau 8 speaker, tentu saja ongkos produksi headset real 7.1 tetap lebih tinggi.

Apa kelebihannya?

Kekuatan banyak driver speaker yang dijadikan satu tentu nyata. Bas yang dihasilkan juga lebih mantap karena menggunakan driver berdiameter besar dengan membran yang luas. Selain itu, detil suara yang tercipta juga lebih nyata.

Foto: gamezap

Kesimpulan?

  1. Kemampuan telinga mendengar layaknya lidah saat mencecap masakan. Masing-masing orang punya kepekaan dan citarasa tersendiri dalam mencecap atau mendengarkan suara. Jadi, entah itu headset Real 7.1 ataupun Virtual, pastikan kamu membeli headset yang sesuai dengan selera pendengaran kamu.
  2. Keputusan ada di tangan para pecinta gim, mau menggunakan headset Real 7.1 atau Virtual 7.1. Sesuaikan dengan bujet, level, dan kebutuhan permainan. Jika kalian masih berada di level pemain semi pro atau bahkan baru belajar, maka headset Virtual 7.1 seperti Rexus Thundervox HX2, sudah dapat memenuhi kebutuhan bermain gim kamu.

Rexus Vonix F22

Hanya mendengar komentar dan review orang lain tanpa mencoba sendiri seperti makan es kepal tanpa topping: hambar. Seperti itu pulalah yang kami rasakan saat melihat dan mendengar banyak pendapat pengguna produk headset Rexus Vonix F22.

Beberapa youtuber me-review produk ini dengan tema yang sama: headset murah meriah, headset low budget, headset murah tapi mewah, dan lain sebagainya. Intinya jelas, headset ini merepresentasikan sebuah headset yang berkualitas namun dapat dimiliki hanya dengan sedikit Rupiah.

“Itu kata orang,” pikir kami. Padahal, sejujurnya, kata beragam kata orang tersebut membuat kami makin penasaran untuk mencoba produk Vonix F22 yang konon katanya sudah berkali-kali restock. Artinya, produk ini sangat laris sehingga harus didatangkan terus stoknya.

Setelah menunggu beberapa waktu karena menurut Admin Rexus, produk ini baru hadir sekitar akhir April lalu, akhirnya produk ini pun sampai juga di tangan kami.

Tak seperti produk headset gaming yang bisa “blink-blink” karena dilengkapi LED, F22 tampil sederhana dengan tanpa LED. Karenanya, headset ini tidak dilengkapi colokan USB. Hanya ada colokan microphone dan headphone.

Bentuk Paten
Untuk harga kurang dari Rp120.000, produk ini memang tak tampak murahan. Itu tampak dalam bentuknya yang paten. Kedua housing atau dome speaker-nya terbuat dari plastik keras yang berbentuk heksagonal memanjang sehingga menangkup kuping secara sempurna.

Meski terbuat dari plastik, housing speaker produk ini menggunakan plastik ABS yang keras. Sebagai gambaran saja, plastiknya mirip dengan plastik yang digunakan sebagai material lego.

Fungsi plastik keras tersebut adalah untuk menciptakan ruangan resonansi yang baik buat driver yang ada di dalamnya. Semakin keras material yang digunakan, resonansi atau gaung yang tercipta akan semakin baik. Tak heran, saat ini ada beberapa produsen in earphones menggunakan material keramik yang keras untuk menciptakan resonansi yang sempurna.

Bentuk paten lainnya juga tampak dalam headband-nya. Headband F22 terbuat dari plastik fleksibel yang kuat dan dilapisi dengan karet lembut. Saat kami menekuknya secara ekstrem, headband-nya akan kembali pada posisi semula.

Untuk mengaitkan kedua housing speaker, digunakanlah besi chrome anti karat yang kuat. Besi ini bisa naik turun sehingga berguna untuk mengatur lebar headset.

Washable Earcup
Saat digunakan, telinga kita akan masuk secara sempurna dalam cakupan earcup F22. Earpad produk ini memang banyak dipuji oleh beberapa orang. Selain karena awet dan nyaman digunakan, earpad ini juga dapat dilepas dan dicuci.

Saat mencucinya, pastikan mencuci secara lembut. Tak perlu digosok atau dikeringkan dengan menggunakan mesin cuci.

Tinggal direndam sebentar di air sabun, gosok pakai tangan sebentar, dan keringkan dengan cara diangin-anginkan. Cara ini akan membuat earcup F22 awet.

Keawetan produk headset F22 juga tampak bentuk kabelnya. Kabel sepanjang 2 meter produk ini dibungkus oleh dua selubung sekaligus. Untuk pembungkus dalamnya, digunakanlah serat nilon yang menyelebungi kabel, sedangkan untuk pembungkus luarnya, selang karet fleksibel membungkus erat.

Dua lapisan pembungkus kabel itu membuat headset F22 makin tangguh dan kuat. Inilah salah satu alasan mengapa banyak warnet yang menggunakan produk ini sebagai perangkat wajib usahanya.

Baca juga: Cara Merawat Earcup Headset

Coba Kinerjanya
Cukup untuk membahas kekuatan dan keawetan F22. Saatnya untuk mencoba kualitas suaranya, baik mikrofon maupun headphone-nya. Untuk mencobanya, kami pun menggunakan produk ini dalam permainan Battlefield 3. Kenapa gim itu? Kami ingin mencoba kedalaman surround yang dihasilkan oleh dua speaker berdiameter 40mm yang ada di dalamnya.

Buat kami, yang membedakan antara headset dan headphone adalah karakteristik suara yang dihasilkan. Jika audio headphone mengandalkan suara stereo yang keluar dari dua kanal, maka headset gaming yang baik hendaknya dapat mengakomodasi suara surround yang menciptakan kedalaman ruang.

Dalam gim Battlefield 3, headset F22 dapat menangkap suara derap kaki dengan baik. Suara kokangan dan tembakan senapan Tommy Gun pun terasa meletus secara detil.

Secara surround, headset Vonix F22 lumayan mengakomodir suara-suara frekuensi tinggi. Bagaimana dengan frekuensi rendah? Dengan ambitus frekuensi 20 – 20.000 Hz yang dimilikinya, kita memang tak tak bisa berharap banyak dengan permainan suara rendahnya. Itu terasa saat suara dentuman ledakan yang terdengar kurang tebal.

Selain suara bawahnya yang kurang tebal, Vonix F22 juga menggunakan impedansi atau hambatan yang besar, yaitu 32?. Konsekuensinya, suara yang dihasilkan kurang powerfull. Untuk mendapatkan suara yang keras, kita harus memaksimalkan tombol volume, baik yang ada di headset maupun level volume di komputer.

Mikrofon Minimalis yang Sensitif
Bagaimana dengan sensitivitas microphone-nya? Dengan ukuran Ø 6.0 x 5.0mm, magnet mikrofon headset ini lumayan detil. Sensivitasnya berada di kisaran -58dB ± 3Db, dalam kondisi tak ada suara lainnya. Tanpa teriak, suara kita akan terdengar jelas oleh pemain lain.

Hal itu karena teknologi omni directional microphone. Teknologi ini menempatkan driver microphone berada di ruang bebas sehingga memungkinkan membran mic menangkap suara dari berbagai arah.

Sayangnya, model mic seperti ini rentan distorsi sehingga gangguan suara yang di sekitar sumber suara berpotensi mengacaukan sinyal suara kita.

Meski demikian, hal ini dapat diatasi dengan sedikit keras sehingga sinyal suara yang masuk ke dalam mic lebih jelas dibanding suara sekitar. Toh, saat bermain gim, kita pun terbawa untuk berteriak, bukan?

Kesimpulan
Kami yakin bahwa para Youtuber tidak asal memberikan review. Apalagi review yang diberikan pun mempunyai kesamaan inti, yaitu headset Vonix F22 adalah headset berkualitas dengan harga yang sangat terjangkau.

Untuk menghadirkan nuansa permainan gim, kami rasa headset ini sudah mumpuni. Detil dan batasan suaranya jelas. Meski belum dilengkapi teknologi virtual 7.1 seperti Rexus Thundervox HX2, driver stereo headset ini dapat mengeluarkan sensasi surround yang luas dan detil.

Dengan desain yang simple dan kualitas material yang bandel, tak mengherankan, headset ini jadi salah satu pilihan para pengelola warnet. Kendala yang sering dikeluhkan para pemilik warnet adalah tidak adanya suku cadang earcup yang dijual bebas. Tapi, kami yakin, pihak Rexus akan segera menawarkan solusinya. Kita tunggu.

Pixabay.com

Gamers, sejak penembakan brutal yang terjadi pada 14 Februari 2018 lalu di Marjory Stoneman High School, Florida, AS, yang menewaskan 17 siswa sekolah tersebut, pemerintah Amerika mulai melakukan beberapa langkah penanggulangan. Selain memperketat pengamananan sekolah, pemerintah Donald Trump mempunyai wacana untuk melarang peredaran game yang bernuansa kekerasan, seperti CS:GO ataupun Grand Theft Auto.

Youtube.com

Dilansir dari theguardian.com, Trump sudah mengampanyekan hal ini sejak kejadian penembakan brutal tersebut berlangsung. Wacananya ini sudah mendapat dukungan dari beberapa anggota dari fraksi Republik. Salah satunya adalah Matt Bevin, gubernur negara bagian Kentucky.

Wacana presiden Amerika ini tentu menimbulkan pro dan kontra. Pihak yang setuju juga muncul dari Wayne LaPierre, kepala National Rifle Association (NRA). Seperti ungkapan yang pernah dilontarkannya pada 2012 sesaat setelah penembakan Sandy Hook, video game bernuansa kekerasan seperti Bulletstorm, Grand Theft Auto, Mortal Kombat, dan Splatterhouse merupakan beberapa game yang sangat memengaruhi perilaku kejam dan brutal.

Alasan pemblokiran video game sebagai bagian dari antisipasi penembakan brutal di sekolah juga pernah diwacanakan pada 1999. Waktu itu, juga terjadi penembakan brutal di sekolah Columbine 1999. Pelaku penembakan saat itu adalah Eric Harris dan Dylan Klebold, keduanya merupakan pemain game tembak-tembakan yang berjudul “Doom”

Di sisi lain, pihak yang tidak setuju juga bermunculan dari berbagai kalangan. Salah satunya dari kritikus game terkenal, Katherine Cross. Menurutnya, pendapat Trump dengan menyalahkan kekerasan hanya pada pengaruh game adalah tidak beralasan.

Youtube.com

Keberatan Cross berdasarkan pada fakta bahwa di Amerika, ijin kepemilikan senjata api begitu longgar. Saat ini, tercatat lebih dari 42% warga sipil Amerika memiliki senjata api. Ingat ya, warga sipil, bukan tentara ataupun polisi.

Dengan jumlah sebesar itu, peredaran senjata api di tengah warga sangatlah banyak. Bahkan, data menunjukkan bahwa kepemilikan senjata api bagi warga Amerika jauh lebih mudah dibandingkan ijin memiliki Surat Ijin Mengemudi atau bahkan memiliki kendaraan bermotor! Dengan fakta seperti itu, Cross mengatakan bahwa terlalu dini untuk melimpahkan kesalahan tragedi penembakan di sekolah-sekolah kepada industri video game.

Pendapat yang senada dengan Cross juga dilontarkan oleh Dan Hewitt dari The Entertainment Software Association, perusahaan yang menaungi Ubisoft, Nintendo, EA, dan Activision. Menurutnya, video game itu bersifat netral. Artinya, tindakan yang muncul pada orang yang gemar memainkan video game dipengaruhi oleh banyak faktor, bukan hanya video game.

Selain itu, Hewitt juga mempertanyakan, “Saat ini, video game dimainkan oleh hampir semua penduduk dunia, tetapi kenapa maraknya penembakan di sekolah-sekolah hanya terjadi di Amerika?” Nah, loh...

Meski wacananya menimbulkan polemik, Donald Trump tetap melanjutkan wacana tersebut dengan mengumpulkan para produsen game pada Kamis, 8 Maret 2018 lalu. Saat ini, keputusan sedang digodok oleh pemerintah Amerika dan akan disosialisasikan dalam waktu dekat ini. Jika memang wacana Donald Trump itu akhirnya terealisasi, maka beberapa game yang bernuansa kekerasan bakal akan sulit diakses.

Kamu setuju atau tidak dengan keputusan Orang Nomor Satu Amerika itu?

Gamers, salah satu keunggulan headset Rexus HX2 adalah driver sebesar 50mm. Saat ini, ukuran itu merupakan ukuran driver terbesar yang dibenamkan dalam sebuah headphone. Buat kalian yang termasuk golongan anak yang “audio banget”, tentu sudah tahu manfaat driver besar dalam sebuah headset ataupun headphone. Tapi, bagi kalian yang belum tahu, yuk kita dalami bersama.

Dalam sebuah headset, terdapat berbagai komponen, seperti kabel, mikrofon, earpad, dan rumah headphone atau yang juga sering disebut dome. Headset mempunyai sepasang dome. Dalam masing-masing dome, di dalamnya terdapat sebuah komponen penting yang menjadi pusat produksi suara. Komponen itu bernama driver.

headphonezone.in

Driver berfungsi untuk mengubah sinyal mikro elektrik menjadi getaran audio. Driver pun terdiri dari beberapa komponen pendukung, yaitu magnet, koil suara, dan membran (diafragma). Cara kerjanya adalah sinyal mikro elektrik yang masuk ke dalam driver akan diterima oleh magnet yang kemudian akan menggerakkan kumparan atau koil yang menempel pada dinding membran. Otomatis, membran atau diafragma akan akan bergetar sehingga menghasilkan suara.

Saat ini, ada beragam diameter driver, mulai dari yang paling kecil dengan ukuran beberapa milimeter hingga yang paling besar hingga ukuran beberapa inchi, seperti yang terdapat pada speaker audio. Untuk speaker perangkat headphone, baik in ear, on ear, ataupun over ear, diameternya mulai dari 8mm, 15mm, 20mm, dan 50mm.

Ukuran diameter driver menentukan kekuatan suara yang dihasilkan. Semakin besar diameter sebuah driver, semakin besar suara yang dihasilkan. Logikanya, semakin besar tambur, suara yang keluar saat ditabuh akan semakin besar.

Beragam Macam Driver
Seiring dengan perkembangan teknologi, ada beragam macam driver. Secara mudah, jenis driver pada speaker dibagi menjadi empat, yaitu;

Dynamic Driver
Ini adalah jenis driver yang paling lazim digunakan, terutama pada driver yang menggunakan membran atau diafragma lebar. Dalam tipe ini, membran ditempatkan di atas magnet sehingga mempunyai ruang getar yang tak terbatas. Tipe ini diyakini dapat menghasilkan suara rendah atau bass yang dalam dan luas tanpa membutuhkan daya yang besar.

Balanced Armatured Driver
Ukuran driver ini kecil tapi mempunyai spesifikasi suara yang sangat detil sehingga sangat banyak diaplikasikan pada in ear monitor (IEM).

Plannar Magnetic Driver
Tipe driver ini kerap diaplikasikan pada high-end headphone. Dalam tipe ini, diafragma atau membran diapit oleh sepasang magnet. Sinyal listrik pada kedua buah magnet akan menggerakkan membran dari dua arah sehingga menghasilkan gelombang suara yang stabil dan presisi.

Electrostatic Driver
Jika sebagian besar headphone atau headset menggunakan getaran membran yang bergerak, maka dalam tipe driver ini, menggunakan mebran elektronik yang diletakkan di antara dua elektroda. Jenis driver ini sangat jarang digunakan, kalaupun ada, harganya relatif sangat mahal.

Kekuatan Suara VS Kualitas Suara
Memang benar, besarnya driver sebuah headphone atau headset memengaruhi kekuatan suara. Tapi, itu bukan berarti besarnya driver sebuah speaker otomatis berpengaruh pada kualitas suara. Kualitas suara dipengaruhi oleh banyak hal lain yang lebih kompleks, seperti jenis material, kualitas magnet, impedansi atau hambatan, dan lain sebagainya.

Meski demikian, biasanya speaker headset yang memiliki driver besar mempunyai kualitas suara yang cukup bagus karena untuk memproduksi driver berukuran besar, dibutuhkan magnet, koil, dan membran berkualitas tinggi.

O iya, kualitas dan kekuatan suara juga dipengaruhi oleh posisinya dari pusat pendengaran alias gendang telinga. Sebagai contoh, sebuah in earphones mempunyai driver dengan diameter kecil.Tapi, saat didengarkan besar dan kualitas suara tak kalah dengan on earphones atau over earphones.

thundervox hx2

Kenapa bisa begitu? Hal itu disebabkan karena meski kecil driver-nya, in earphone dimasukkan ke dalam lubang telinga sehingga semakin dekat dengan gendang telinga.

Selain itu, lubang telinga juga berfungsi sebagai dome resonansi sehingga suara terdengar besar, intens, dan dengan minimal noise.

Bagaimana dengan Driver di Rexus Thundervox HX2?
Rexus Thundervox HX2 menggunakan dynamic driver berdiameter 50mm sehingga mempunyai kekuatan suara yang besar. Ambitus atau jarak interval nada yang digelontorkan pun akan relatif lebih luas.

Dengan range frekuensi bawah yang diklaim hingga 15Hz, kamu bisa mendengarkan nada bawah alias bass secara lebih mantap, dalam, dan menggelegar.

Selain itu, Thundervox HX2 juga sudah dilengkapi dengan teknologi virtual 7.1 sehingga kamu bisa mengakses suara surround dan detil. Suara langkah tokoh game yang kamu mainkan dapat terdengar jelas. Kedetilan dan kualitas suara HX2 cukup mumpuni untuk membuat kalian merasa masuk dalam suasana game.

 

Gamers, untuk menjadi seorang yang benar-benar profesional dan menguasai bidang yang ditekuninya tentu membutuhkan totalitas. Seorang yang memilih menjadi penyanyi profesional harus berlatih vokal secara sungguh-sungguh. Seorang pebasket yang ingin menjadi atlet profesional pun harus mau berlatih berjam-jam untuk meningkatkan kemampuan dan staminanya bermain basket.

Begitu pula dengan seorang gamers profesional. Begitu kamu memilih untuk menjadi seorang gamer atau atlet esport profesional, kamu harus tahu konsekuensi yang harus dijalani. Apa itu? Ya, tentu saja latihan secara intensif. Hal itu juga yang dilakukan oleh para atlet esport yang tergabung dalam Team Liquid, sebuah tim profesional yang berlaga di League of Legends.

50 Jam Per Minggu
Dilansir dari bussinesinsider.com, para pemain Team Liquid harus berlatih minimal 50 jam per minggu. Artinya, dalam sehari, mereka rata-rata menghabiskan waktunya di depan komputer selama 7-8 jam.

liquipedia.net

Menurut Diego Ruiz, jika kita telah memilih untuk menjadi gamer profesional, kita harus total untuk menjalankan aktivitas kita sebagai pemain profesional.

Menurutnya, persaingan dalam dunia gamer sangatlah kompetitif, apalagi di kompetisi League of Legends yang terkenal sebagai salah satu jenis game yang sulit.

Dalam kompetisi League of Legends, dibutuhkan pengetahuan gaming yang luas, ketrampilan memainkan peranti mekanik, dan tentu saja kemampuan refleks dan koordinasi tubuh yang sangat prima.

Untuk melatihnya, jadwal latihan dibagi menjadi tiga periode, yaitu:

Pagi Hari
Para gamer yang tergabung di Team Liquid setiap pagi memulai berlatih dengan melakukan sparing atau latihan tanding dengan tim profesional yang selevel sehingga dapat meningkatkan kemampuan. Jika hanya berlatih dengan tim yang levelnya berada di bawah, maka tidak kemajuan yang bisa diperoleh. Sebelum berlatih tanding dengan tim lain, mereka berlatih dahulu dengan sesama anggota tim.

Siang Hari
Sambil makan siang atau makan malam, mereka selalu mendiskusikan strategi game dan me-review video pertandingan sebelumnya atau video pertandingan tim lain untuk melihat peta kekuatan dan kelemahan lawan. Saat makan seperti ini juga digunakan untuk berdiskusi dengan pelatih.

Malam Hari
Saat pulang ke mess yang memang khusus disediakan untuk mereka di bilangan Santa Monica Office Park, para anggota Team Liquid tak lantas tidur – apalagi nonton sinetron. Mereka harus duduk kembali di kursi gaming pribadi dan bermain “Solo Queue”, sebuah model game yang bertujuan untuk melatih kemampuan personal para gamer.

Saat sedikit waktu luang, mereka diperbolehkan untuk menghubungi keluarga atau pacar mereka. Waktu santai itupun hanyalah sebentar. Setelahnya, mereka harus kembali berlatih game.

Jadwal Pemain Korea Lebih Gokil
Jadwal yang lebih berat dialami oleh teman satu tim Ruiz, yaitu Chae Gwan-Jin dan Kim Jae-hun. Kedua gamer asal Korea Selatan ini mengaku hanya tidur 4 jam dan menggunakan waktu sekitar 12 – 14 jam untuk berlatih. Buat para gamer Korea, jadwal seperti ini sudah biasa dilakukan oleh para gamer Korea.

Semangat berlatih para gamer di Korea memang menimbulkan kekaguman bagi para gamer di belahan dunia lainnya. Maklum, Korea merupakan pusat dan asal beragam kompetisi gaming sehingga seakan menjadi “kiblat” bagi semua kompetisi gaming lainnya.

Perbedaan jadwal ini kerap menjadi kendala. Banyak yang merasa bahwa pola latihan para atlet esport Korea sangat ekstrim. Untuk menyiasati luar biasa-nya jadwal latihan para atlet esport Korea, para gamer di belahan dunia lainnya, seperti di Amerika, mengutamakan sisi kualitas latihan.

Menurut Ruiz, cara yang dilakukan adalah dengan mengefektifkan latihan per game, dengan jeda istirahat yang hanya beberapa menit sebelum berlatih lagi. Cara ini dinilai bisa menyamakan level mereka dengan para gamer Korea.

Senin Adalah Waktu Istirahat
Pada musim kompetisi League Legends yang berlangsung dari Januari hingga Agustus, anggota tim berlatih dari hari Selasa hingga Jumat dan turun berlaga pada hari Sabtu dan Minggu. Hari Senin adalah hari yang ditunggu-tunggu karena mereka dapat kesempatan istirahat.

pixabay.com

Pada hari Senin, mereka juga mempunyai kesempatan untuk di-endorse oleh beragam sponsor. Di situlah mereka mendapatkan uang tambahan, selain dari gaji bulanan yang luar biasa besar.

Saat musim kompetisi berakhir dari Agustus hingga Desember, para pemain tetap berlatih rutin. Mengapa? Karena berhenti latihan seminggu saja, maka performa gaming kita langsung menurun.

Bagi gamer di luar Korea, periode rehat kompetisi ini justru digunakan untuk mengejar kemampuan para gamer Korea yang latihannya “gila-gilaan”.

Setelah mengetahui jadwal latihan para gamer profesional ini, apakah kalian makin bersemangat untuk menjadi atlet esport profesional? Ayo, kalian pasti bisa!

Rexus Gaming Chair RGC102

Gamers, setiap kali bermain game, peranti yang selalu kita ingat tentulah mouse, keyboard, dan headset. Adalah wajar karena ketiga hal tersebut memang langsung bisa kita rasakan pengaruhnya dalam permainan yang kita lakukan. Akui, kita sering melupakan peranti berupa kursi gaming, terutama buat kita yang terbiasa bermain di warnet yang menggunakan kursi seadanya.

Kursi gaming memang tak sepopuler ketiga “saudaranya” karena kita tak langsung merasakan manfaatnya saat bermain. Tapi, cobalah untuk bermain selama berjam-jam dengan menggunakan kursi duduk biasa, maka yang akan terjadi adalah kamu akan merasakan pegal yang luar biasa. Itu terjadi karena postur tubuh saat duduk akan tidak tersokong dengan baik.

Posisi Menentukan Prestasi
Frank Maas, ahli esports ergonomics dari The Sandbox, AS, sangat menekankan posisi duduk saat bermain game, terutama saat gamer bertanding selama berjam-jam. Menurutnya, posisi sangat menentukan kecepatan refleks, ketahanan stamina, dan menghindarkan kita dari potensi sakit punggung serta peradangan pada pangkal telapak tangan (carpal tunnel syndrome).

Menurut Frank Maas, duduk untuk waktu lama membutuhkan posisi yang tepat. Prinsipnya, posisi punggung harus tetap tegak lurus, namun tetap rileks.

Lumbar atau bantalan antar tulang belakang hendaknya disandarkan secara nyaman pada bantalan kursi yang mengikuti kontur atau posisi tulang belakang.

Selain posisi tulang belakang, posisi kaki juga harus menapak sempurna di lantai, dengan posisi tulang paha vertikal sedikit menurun agar peredaran darah, baik dari jantung ke kaki ataupun sebaliknya, tetap lancar.

Sayangnya, saat ini, penyedia layanan warnet masih jarang yang menyediakan kursi gaming. Akibatnya, pengguna pun seenaknya duduk. Tak jarang, banyak gamer yang mengangkat kakinya ke kursi agar lebih nyaman. Jika hanya 1 -2 jam, hal itu tak jadi masalah. Tetapi, untuk waktu yang lama, hal itu tentu akan memengaruhi kesehatan.

Kursi Gaming, Adopsi Kursi Mobil Balap.
Karena kebutuhan kursi yang nyaman untuk esport, mulailah bermunculan produk kursi khusus gaming, sepeti Rexus Gaming Chair 101 dan Rexus Gaming Chair 102. Gaming chair ini makin banyak diminati oleh para pemain game profesional karena terbukti nyaman digunakan untuk bermain game.

Sekilas, kita akan langsung ingat akan sebuah kursi mobil balap saat melihat penampakan kursi gaming. Memang tak salah lagi, kursi gaming memang mengadopsi kursi balap mobil karena kursi balap mobil memungkinkan pengemudinya mengoperasikan mobil secara cepat dan memungkinan koordinasi tubuh bekerja maksimal saat duduk di atasnya.

Biasanya, jenis kursi mobil balap seperti ini digunakan dalam mobil yang mengikuti perlombaan ketahanan, seperti NASCAR, Rally, ataupun Le mans.

Pebalap mobil pada kejuaraan ketahanan harus tetap siaga dan fokus mengemudi untuk waktu yang lama, bahkan 24 jam penuh.

Itu pulalah yang terjadi pada pemain game. Mereka harus tetap fokus dan siaga dalam waktu yang lama. Karenanya, dibutuhkan kursi yang ergonomis dan nyaman.

Tak Cukup Hanya Nyaman
Kursi gaming yang ideal tak hanya sekedar memberi kenyamanan. Kalau cuma sekedar nyaman, bersandar di pundak pasangan kamu saja sudah nyaman…. (halah). Kriteria sebuah kursi gaming yang bagus harus meliputi beberapa hal berikut ini:

    1. Terbuat dari material berkualitas. Material itu terdiri dari besi rangka yang terbuat dari baja yang kuat, busa yang tak mudah kempes, kulit sintetis yang tak mudah sobek, dan material plastik yang kuat, terutama pada arm rest dan roda.
    2. Mempunyai sandaran tangan yang bisa disesuaikan. Panjang-pendek tangan gamer berbeda-beda sehingga kursi game yang baik adalah yagn mempunya arm rest yang bisa diatur posisinya. Rexus Gaming Chair 102 mempunyai arm rest 3D yang mempunyai posisi gerak tak terbatas dan bisa diatur maju-mundur.
    3. Mempunyai ruang duduk yang cukup lebar. Kursi gaming yang luas akan nyaman untuk diduduki, meski penggunanya berbadan relatif langsing. Gaming Chair Rexus 101 dan 102 mempunyai ukuran hingga XL sehingga dapat diduduki oleh orang dengan ukuran badan besar, maksimal 150 kilogram.
    4. Mempunyai sandaran punggung yang tinggi dan lebar. Ukuran sandaran punggung yang luas tersebut berfungsi untuk menyangga semakin banyak posisi tubuh belakang pemain. Bentuk yang ergonomis ini sangat dirasakan bagi para pembalap yang pasti akan terhentak ke belakang.
    5. Sandaran punggung yang bisa diatur. Biasanya, kursi gaming mempunyai 3 mode penganturan back rest, yaitu 90 derajat untuk mode kerja atau gaming, 130 derajat untuk mode membaca atau menonton, dan 170/180 derajat untuk bersantai, istirahat atau bahkan tidur.
    6. Mempunyai keseimbangan. Ini tak kalah penting. Kursi gaming yang bagus mempertimbangkan segi keseimbangan sehingga meski kita rebahan di atasnya, kursi ini takkan terbalik.
    7. Mempunyai bantalan leher. Tujuannya adalah untuk menyangga leher dan kepala agar tak mudah pegal atau salah urat.
    8. Penopang lumbar atau bantalan tulang punggung. Kursi gaming mempunyai strap yang berguna untuk mengikat bantal penopang yang bisa disesuaikan dengan tinggi posisi lengkungan tulang belakang.
    9. Terakhir dan tak boleh dilupakan, saat memilih kursi gaming, sesuaikan dengan bujet dan kebutuhan kamu. Banyak sekali merek kursi gaming di pasaran, mulai dari harga 2 jutaan hingga puluhan juta. Kursi berharga mahal pun tak menjamin kenyamanan saat digunakan. Pertimbangkan pula layanan purna jualnya, seperti garansi.