Posts

Gamers, headset gaming terbaru Rexus, Thundervox HX 10, tampaknya menjadi idola baru di kalangan gamer, terutama pengguna produk Rexus. Setelah beberapa lama di-sounding melalui kanal sosial media Rexus, akhirnya headset ini pun dipasarkan.

Tanggapan konsumen tak main-main. Menurut keterangan pihak sales Rexus, penjualan headset ini termasuk tinggi. Bahkan, Capital Gaming, sebuah warnet di kawasan timur Jakarta, memutuskan untuk meminang puluhan headset ini untuk mengganti semua perangkat pengeras suara yang ada di warnetnya.

Sebagai pengguna produk Rexus dan pencinta audio, kami juga sangat tertarik untuk mencoba peranti ini. Rasa penasaran kami dimulai saat mendengar angka 10 yang disematkan dalam seri headset ini. Dalam urutan bilangan – dan penilaian dasar, angka 10 merupakan angka sempurna. Rexus tentu tak sembarangan menggunakan angka itu.

Setidaknya, mereka punya “beban moral” tinggi saat memilih angka 10. Mereka tentu takkan mengecawakan para konsumen. Rexus memang agak aneh dengan memilih seri angka 10 karena headset advanced mereka paling baru menggunakan seri “2”, HX2. Jika sekarang langsung lompat ke angka “10”, tentu bakal ada “wow experience” yang ditawarkan.

Ekspektasi para konsumen dengan angka 10 tentu adalah headset gaming yang sempurna dan ekspektasi ribuan konsumen itulah yang menjadi “beban” Rexus. Bagaimana jika ternyata HX10 tidak sesuai harapan? Bagaimana jika HX10 ternyata hanya headset kelas “kacang” yang biasa-biasa saja? Bagaimana jika para konsumen kecewa?

Headset Masif dalam Kemasan Eksklusif
Jangan Hanya Berandai-andai. Kini saatnya mencoba. Demi menjawab hasrat penasaran, kami ikhlas untuk merogoh kocek senilai Rp359.000, – untuk memboyong produk ini. Harga segini kami rasa masih masuk akal untuk sebuah headset gaming kelas menengah yang berkualitas. Harganya tak begitu jauh dengan pendahulunya, HX2.

Dan seperti biasa, proses pengiriman toko online Rexus tak pernah butuh waktu lama untuk menyampaikan paket ke depan pintu konsumen. Paket kemasan HX10 pun langsung kami dapatkan. Kemasannya berbeda dengan beberapa headset Rexus lainnya, lebih eksklusif. Ada label “Rexus Premium Gaming Quality” di kemasan luarnya. Ini menunjukkan bahwa produk ini masuk dalam jajaran produk premium Rexus.

Saat membuka kemasannya, tampaklah sebuah headset dengan kesan “macho” yang sangat kental. Dominasi warna hitam solid berpadu dengan model head-band atau bando kokoh yang berwarna hitam pula. Tak ada warna lain pada headset ini selain hitam. Bentuk dan warnanya memberi kesan solid dan masif pada headset ini.

Bentuk “Ora Neko-neko”, Utamakan Fungsional
Meski tampil sederhana, headset Rexus HX10 ini mengusung aspek fungsionalitas yang tinggi. Salah satunya tampak dengan dengan penggunaan bando atau head-band sebagai sebagai pendukung penyangga telinga.

Saat di mana banyak headset melupakan fungsi headband, dengan tampil hanya mengandalkan penyangga telinga yang diberi bantalan busa agar nyaman saat dikenakan di atas kepala, HX10 tetap mempertahankan penggunaan headband yang dilengkapi dengan besi penyangga yang kokoh nan fleksibel.

Apa keuntungannya? Jelas, headband tersebut akan mengikuti bentuk kepala tiap orang yang berbeda-beda bentuk dan ukurannnya. Alhasil, tentu saja model ini menjadi sangat nyaman digunakan, terutama dalam penggunaan jangka panjang.

Earcup, Donat Peredam Bising
Cukup membahas mengenai bentuk, kami pun tertarik dengan bentuk speaker dome atau earcup headset ini. Sepasang peranti ini merupakan peranti paling penting pada sebuah headset karena peranti inilah yang berfungsi untuk memproduksi suara sekaligus mengkondisikan telinga agar bisa mendengarkan suara semaksimal mungkin.

Jika kalian perhatian, bentuk earcup headset ini agak sedikit aneh. Apa yang aneh? Tebal dan berbentuk seperti donat. Ya, HX10 memang punya earcup dengan ketebalan di atas rata-rata. Ketebalan totalnya mencapai sekitar 6cm yang terdiri dari 2 cm ketebalan busa earpad dan 4 cm speaker dome.

Earpad headset ini masuk dalam golongan over ear earcup. Artinya, earcup-nya melingkupi telinga secara keseluruhan. Mode seperti ini tentu mempunyai beberapa keuntungan, yaitu nyaman digunakan untuk waktu yang lama dan efektif meredam suara.

Dengan diameter lingkar dalam 6cm, hampir semua ukuran telinga – kecuali telinga kaum Hobbit – bisa masuk secara sempurna. Nyaman banget. Busanya pun sangat nyaman, terlebih dilapisi dengan kulit sintetis PU leather yang lembut.

Dengan ketebalan busa 2cm, earpad ini juga sekaligus berfungsi untuk meredam suara dari luar. Inilah yang dinamakan sebagai teknologi passive noise reduction. Dengan cara ini, suara dari luar bakal tak terdengar, bahkan saat kalian belum menyalakan musik sama sekali.

Uniknya, earpad headset ini dapat dilepas-pasang sehingga dapat dibersihkan secara teratur dan diolesi dengan lotion agar tak mudah pecah-pecah dan sobek. Rexus juga menyediakan suku cadang earpad untuk tipe ini jika suatu saat nanti mengalami kerusakan. Pemasangannya sangat mudah.

Suara Apik, Rapi, Tertata, Manis Manja
Seperti biasa, kami takkan mengeluarkan hasil review tanpa mencobanya mendengarkan suaranya. Supaya lebih afdol dan fair, kami pun mencoba headset ini dalam dua fungsi, yaitu dalam mode audio dan mode game.

Dalam mode audio, kami memilih menggunakannya untuk mendengarkan musik bergenre EDM yang menyemburkan bass dengan beat yang cepat namun dituntut untuk tetap bisa mengeluarkan frekuensi suara dan treble secara bersamaan dan seimbang.

Lagu legendaris “Never Fade Away” kreasi John O’ Callaghan versi Andy Duguid pun kami geber. Tak tanggung-tanggung, kami pilh yang berformat FLAC. Hasilnya? Suara bas yang disemburkan terdengar menggelegar dan dalam. Suara bas tersebut tidak menutup keluaran frekuensi lainnya. Beberapa suara perkusi melodis yang bernada tinggi tetap terdengar sempurna.

Seperti jenis lagu progressive vocal trance, lagu itu menyajikan suara vocal yang berada di frekuensi mid-range. Hasilnya, featuring vocal milik Lo-Fi Sugar yang manis manja itu terasa tetap empuk terdengar di tengah dentuman bas yang ritmik rapi.

Efek Surround dengan Virtual 7.1
Biasanya, game headset “kurang” pada segmen nada rendah akibat mengutamakan efek surround-nya. Tapi, sepertinya HX10 ini tetap sadar dengan nada bawah meski mengusung efek surround. Seperti HX2, efek surround HX10 dipercayakan pada software yang berfungsi untuk “memanipulasi” suara stereo sehingga menjadi surround 7.1 secara virtual.

Virtual 7.1 menggunakan perangkat lunak yang akan mengolah suara sehingga memberikan kesan sinematik dan kedalaman. Hasilnya, pengguna headset 7.1 seakan-akan berada di dalam suasana yang ditampilkan dalam game. Untuk mendapatkan efek itu, unduh software-nya di rexus.id/dukungan dan instal di komputer.


Bas Tetap Menggelegar
Meski masuk dalam dimensi surround, produksi bas HX10 tetap tidak ketinggalan kok. Kita masih bisa mendengar efek nada rendah secara sempurna. Jika ditambah dengan vibrasi, efek itu akan menjadi makin sensasional.

Masih kurang yakin dengan kemampuan bas-nya? Kami pun mencobanya dengan aplikasi Ultimate Headphone Test yang diunggah oleh HiHAKER di laman Youtube-nya. Hasilnya, headset ini mencapai suara bas di angka sekitar 15 -16Hz. Angka ini tentu melebihi jangkauan kebanyakan headset yang rata-rata hanya mampu berkutat di frekuensi rendah sekitar 20Hz.

Bas yang besar itu tak lepas dari kapasitas driver. Dengan driver berdiameter 50mm dengan impedansi 32?, HX10 mempunyai potensi untuk dimaksimalkan power output-nya. Besarnya diameter driver itu, semakin besar membran yang bisa digerakkan oleh  kumparan dan magnet di dalamnya sehingga suara yang keluar bisa penuh daya.

Power besar memang tidak serta merta menentukan kualitas suara. Tapi, dalam headset ini, kualitas suara yang mumpuni dan ditambah dengan daya keluaran suara yang besar, maka akan menghadirkan pengalaman mendengarkan yang sensasional.

Getarannya Sampai ke Ubun-ubun

Nah, ini dia yang bikin kami makin jatuh cinta dengan headset HX10. Ya, fitur getar atau vibrasi yang bisa dikontrol.  Dengan  adanya fitur ini, suara bas jadi terasa sensasional karena tambahan fitur vibrasi yang membantu tendangan bas makin terasa ke telinga. Getarannya pun sampai ke ubuh-ubun. Geli-geli gimana gitu… .

Fitur ini tidak dimiliki oleh pendahulunya, HX2. Dan, yang lebih menyenangkan, vibrasi di headset ini dapat dikontrol seperti mengontrol volume. Tentu hal ini sangat membantu karena tanpa kontrol vibrasi, getaran yang tujuannya untuk menambah sensasi justru mengganggu dan membosankan.

Setelah mencoba dengan mode audio, kami pun mencobanya dalam mode game, sesuai takdirnya sebagai headset game. Gim yang kami pilih adalah Point Blank. Game tersebut menyajikan beragam suara yang membutuhkan perangkat dengar yang mumpuni untuk dapat memproduksinya secara sempurna.

Bagaimana hasilnya? Jika dinilai dalam skala 1 – 10, kami tak ragu memberi angka 8. Tembakan dan letusan senapan terasa menggelegar. Dengan karakteristik headset secara keseluruhan yang warm dan full bass, tentu suara ledakan bisa terakses secara sempurna. Tapi, untuk suara detil seperti tapak kaki, meski tetap terdengar, suara tapak kaki di HX10 sedikit tertutup oleh suara ledakan yang bombastis. Karakteristik ini sedikit berbeda dengan HX2 yang lebih clear dan bright.

Flexible Microphone Stick
Sebagai headset game, selain kualitas driver speaker, kualitas mikrofon pun harus tetap diperhitungkan. Nah, HX10 sudah dilengkapi dengan mikrofon kecil yang fleksibel dan dapat ditarik hingga ke samping mulut.

Dengan mikrofon yang focus-directional tersebut, suara pengguna akan terdengar secara jelas meski banyak teriakan di sekitarnya. Hal ini tentu akan sangat membantu gamer saat bermain di turnamen. Komunikasi antar tim pun akan mudah diterima oleh sesama anggota tim.

Dengan beragam fitur yang ada di dalamnya dan tentu saja, kualitas suara yang mendekati sempurna – tentu saja, tak ada yang sempurna di dunia ini – headset ini pantas untuk diajak berkompetisi di turnamen berkelas.

Setelah me-review-nya, kami bisa mengerti alasan Rexus Indonesia menyematkan angka 10 pada headset ini.

Gamers, secara garis besar, saat ini ada dua macam mode konektivitas headset (gaming) yang ada di pasaran, yaitu headset dengan konektivitas kabel dan headet nirkabel yang memanfaatkan teknologi Bluetooth.

Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebelum memilih salah satunya, yuk kita pelajari dahulu satu-satu berdasarkan beberapa aspek.

Aspek Kepraktisan
Jelas, juara dalam hal ini adalah headset nirkabel yang berbasis Bluetooth. Dengan dilengkapi teknologi Bluetooth, headset nirkabel mempunyai jangkauan hingga sekitar 10meter dari sumber suara tanpa menggunakan kabel.

Berbeda dengan headset kabel yang maksimal mempunyai kabel sepanjang 2 meter. Kabel juga membuat pergerakan kita jadi sedikit terbatasi.

Aspek Kemudahan dalam Aplikasi
Buat para gamer dan orang yang nge-“geek”, mengoneksikan antara headset nirkabel ke ponsel atau gawai lainnya tentu bukan hal yang sulit. Tapi, bagi orang yang “awam” dengan peralatan berteknologi tinggi hal itu bukannlah hal mudah.

Secara keseluruhan, headset kabel lebih sederhana pengaplikasiannya. Pengguna tinggal mencolokkan ke port yang biasanya berdiameter 3,5mm dan secara otomatis headset akan memproduksi suara yang keluar dari gawai.

Aspek Perkembangan Teknologi
Headset nirkabel yang berteknologi Bluetooth memiliki perkembangan teknologi yang lebih cepat. Pada tahap awal kehadiran Bluetooth, hanya ada fitur Advanced Audio Distribution Profile (A2DP) yang secara otomatis meng-compress file audio asli. Saat ini, teknologi Bluetooth sudah menggunakan teknologi baru yang dikembangkan oleh Qualcomm, yaitu aptX, teknologi penghantar sinyal audio dengan kecepatan dan kualitas semirip mungkin dengan file audio asli.

Aspek Kualitas Suara
Bagaimanapun, headset dengan kabel mempunyai daya hantar lebih bagus karena menggunakan media kabel sehingga kualitas suara yang dihasilkan oleh headset kabel lebih bagus dan stabil daripada menggunakan frekuensi radio layaknya Bluetooth.

Aspek Harga
Dari aspek harga, saat ini memang agak sulit dibandingkan keduanya, saking banyaknya jenis dan tipe headset dari berbagai tipe. Tapi, dari membandingankan sekilas, harga headset dengan Bluetooth lebih mahal dibandingkan produk lain sekelasnya. Itu disebabkan adanya penambahan komponen Bluetooth dan baterai lithium yang rechargeable.

Aspek Gangguan
Nah, ini yang kerap dirasakan oleh para pengguna headset ber-Bluetooth. Dengan mengandalkan frekuensi sinya, headset nirkabel lebih berpotensi terkena gangguan seperti distorsi “kresek-kresek”, suara dengung  yang keluar meski volume nol, rasa panas di kuping akibat baterai, dan banyak lain.

Gangguan yang dihadapi headset kabel lebih berkutat masalah kabel yang tidak rapi ataupun colokan jack yang sudah agak longgar sehingga harus beberapa dibenarkan posisinya.

Solusi: Dual Mode Connectivity Headset
Dengan makin banyaknya permintaan konsumen yang menginginkan produk headset yang praktis, ergonomis, mudah aplikasinya, punya suara berkualitas file audio asli, dan minim distorsi, maka produsen pun berlomba memproduksi headset dengan dual konektivitas, bisa menggunakan koneksi kabel ataupun nirkabel.

Rexus juga hadir dengan beberapa produk headset yang memiliki dual konektivitas, yaitu Rexus X1, Rexus M1, dan produk teranyar Rexus S3 Pro. Ketiga produk wireless ini memiliki port 3,5mm yang bisa dikoneksikan dengan kabel dengan jack 3,5mm sehingga pengguna dapat memilih mau menggunakan Bluetooth atau kabel.

Jadi, mana pilihanmu?

Baca juga: Review Rexus X1: Sorry, Ini Bukan Gaming Headset

Gamers, bagi kalian yang mengenal atau bahkan menggunakan produk Rexus, tentu perhatian kalian pernah melipir atau justru jatuh pada  sebuah headset ikonik milik brand kepala robot ini. Ya, kalian tentu kenal dengan headset headset Rexus Vonix F19.

Headset tipe ini memang termasuk salah satu headset yang unik di jagat pengeras suara kepala. Keunikannya tak lepas dari bentuk dome speaker-nya yang beraksen goresan bergaya gotik. Kombinasi goresan gotik bersatu dengan logo robot Rexus.


Mencuri Perhatian

Tampilan headset ini akan makin mencolok saat lampu LED yang berada di dalam dome speaker menyala dan berpedar sehingga ornamen gotik itu makin mewah.

Entah sadar atau tidak, pengguna headset ini akan masuk dalam konsep branding yang turut mempromosikan merek Rexus saat menggunakannya, entah di warnet atau saat mengikuti turnamen.

Bagaimana tidak? Saat di ruangan warnet dan turnamen yang cenderung gelap, headset itu akan menyala terang sehingga mencuri perhatian para penikmat permainan yang hadir. Buat penggunanya, headset ini tentu akan menjadi sebuah “fashion signature” yang dapat meningkatkan kepercayaan diri.

 


Golongan Headset Sejuta Warnet

Headset ini banyak menghiasi ruang warnet seantero Nusantara. Selain Vonix F22, Vonix F19 ini memang telah menjadi produk headset langganan para pengelola headset. Apa alasannya?


Segi kualitas suara.

Vonix F19 memiliki kualitas yang bisa diadu. Meski tidak masuk dalam kelas “Advanced”, headset ini tak tanggung-tanggung membenamkan driver berukuran 50mm. Ukuran driver besar tersebut membuat power yang dihasilkan besar.

Tak hanya kualitas suara yang keluar. Suara yang masuk melalui mikrofon pun termasuk jernih. Bahkan, New Vonix F19 tampil dengan flexible stick microphone, mikrofon bertangkai yang fleksibel. Alhasil, suara pengguna akan makin fokus dan jernih karena mikrofon dapat langsung diarahkan ke depan mulut sehingga suara-suara di sekitar tidak masuk.

Nyaman dipakai.

Faktor ini tak bisa disepelekan. Meski suaranya bagus, tapi jika tidak nyaman, maka sebuah headset tidak akan mempuyai daya tarik. Vonix F19 menggunakan sistem headband konvensional dengan mengaplikasikan dual layer headband.

Sebagai penyangga, F19 memasangkan plat baja yang kuat  sehingga daya cengkramnya kuat sehingga dome speaker dapat mencengkeram kepala secara pas. Sebagai bando, headset ini mempercayakan pada kulit imitasi elastis yang dapat mengikuti bentuk dan ukuran kepala penggunanya.

Kualitas material.
Material standar headset digunakan headset ini, mulai dari busa earpad yang tak mudah kempes, plastik ABS yang keras, plat baja untuk penyangga, hingga lapisan kabel yang tebal sehingga takkan mudah putus saat tanpa sengaja tertarik.

Terjangkau
Siapa sih yang mau membeli sebuah barang dengan membayar lebih? Semua orang tentu ingin mendapatkan barang dengan harga yang terjangkau, dengan kualitas setara. Dengan harga sekitar Rp180 ribu Rupiah, kalian bisa membawa pulang headset keren ini.


Tampilan Baru, Harga Sama
Berita bagus buat kalian belum memiliki headset ini dan ingin memilikinya. Kenapa? Rexus Vonix F19 kini hadir dengan tampilan baru yang lebih keren dan fungsional, yaitu dengan menambahkan mikrofon tangkai yang fleksibel.

Di model yang lama, mikrofon F19 hanya berupa tonjolan yang menyatu dengan dome speaker sebelah kiri.

Memang, walaupun hanya  berupa tonjolan, mikrofon yang ada cukup sensitif untuk menangkap suara dari mulut pengguna karena menggunakan sistem multi-directional voice source.

Sayangnya, sistem suara dari segala arah tersebut juga menangkap suara-suara yang ada di sekitar pengguna. Akibatnya, pengguna harus teriak agar suaranya lebih menonjol dibanding suara yang lain.

Nah, dengan flexible stick microphone system ini, F19 tampil satu langkah lebih maju dan makin mumpuni saat digunakan untuk bermain gim. Tongkat mikrofon itu terbuat dari bahan yang kuat namun fleksibel sehingga dapat diarahkan ke berbagai arah, sesuai keinginan pengguna.

Dan, yang lebih mengejutkan, konsumen takkan dikenai charge tambahan atas fitur baru ini alias harganya tetap sama. Hal ini tentu menjadi daya tarik lebih buat F19.

Yuk, siapkan bujet dan jadikan Rexus Vonix F19 jadi salah satu koleksi headset kerenmu!

 

Gamers, pernahkah mendengar istilah “eargasm”? Istilah slang tersebut sering digunakan untuk melukiskan suatu kondisi saat seseorang merasa sangat puas karena indera pendengarannya memeroleh sensasi yang sangat menyenangkan.

Kami tidak tahu apakah pernyataan kami ini berlebihan atau tidak, tapi tampaknya kami juga merasakan sensasi “eargasm” saat mencoba produk headset Rexus Thundervox F35. Produk ini memang bukan produk unggulan dari merek produk gaming asli Indonesia itu.

Bahkan, sejauh pengamatan kami, produk ini kalah populer dibandingkan produk serumpunnya, Rexus Thundervox HX2, yang sudah digadang-gadang berfitur virtual 7.1. Tapi, kualitasnya dapat diadu dengan produk-produk lainnya.

Hadir hanya dengan satu pilihan warna, yaitu hitam, Thundervox F35 tampak tak semewah headset lainnya. Bentuknya simple dan memberikan aksen headset yang ortodok. Dome headset berbentuk bulat dengan sistem melingkupi seluruh telinga (over ear), penyangga kepala polos, dan tombol pengaturan volume masih dengan cara diputar jadi representasi begitu konservatifnya pelantang suara ini.

Model konvesional itu tentu membuat F35 justru lebih “nonjol” saat disandingkan dengan beberapa headset masa kini yang bentuknya futuristik dan didominasi dengan spasial heksagonal yang bentuk bersudut-sudut. Bandingkan saja dengan bentuk headset terbaru keluaran R**zer atau Strix punya A*us, yang membuat kamu seperti masuk dalam dunia robotik.


Bentuk Konvensional, Fungsi Maksimal

Thundervox F35

Meski tampil sederhana, headset Rexus F35 ini mengusung aspek fungsionalitas yang tinggi. Salah satunya tampak dengan dengan penggunaan bando atau headband sebagai sebagai pendukung penyangga telinga.

Saat di mana banyak headset melupakan fungsi headband, dengan tampil hanya mengandalkan penyangga telinga yang diberi bantalan busa agar nyaman saat dikenakan di atas kepala, F35 tetap mempertahankan penggunaan headband.

Apa keuntungannya? Jelas, headband tersebut akan mengikuti bentuk kepala tiap orang yang berbeda-beda bentuk dan ukurannya. Alhasil, tentu saja model ini menjadi sangat nyaman digunakan, terutama dalam penggunaan jangka panjang. Selain itu, model ini membuat dome speaker dapat secara sempurna melingkupi telinga sehingga secara tidak langsung menjadi passive noise reduction feature.

 

Bas Menggelegar, Detil Tak Pudar

Kami takkan mengeluarkan hasil review tanpa mencobanya mendengarkan suaranya. Supaya lebih afdol dan fair, kami pun mencoba headset ini dalam dua fungsi, yaitu dalam mode audio dan mode game.

Dalam mode audio, kami memilih menggunakannya untuk mendengarkan musik bergenre EDM yang menyemburkan bas dengan beat yang cepat namun dituntut untuk tetap bisa mengeluarkan frekuensi suara dan treble secara bersamaan.

Lagu terbaru “Unlock” milik Charlie XCX pun kami putar. Kualitasnya pun sebatas MP3, bukan FLAC. Hasilnya? Suara bas yang disemburkan terdengar menggelegar dan dalam. Suara bas tersebut tidak menutup keluaran frekuensi lainnya. Beberapa suara perkusi bernada tinggi tetap terdengar sempurna.

Selain itu, suara bas jadi terasa sensasional karena tambahan fitur vibrasi yang membantu tendangan bas makin terasa ke telinga. Untuk mengaktifkannya, silahkan memencet tombol kecil di dekat corong mikrofon. Tempatnya agak aneh sih, karena banyak orang mengira tombol itu untuk mengaktifkan mikrofon.

Masih kurang yakin dengan kemampuan bas-nya? Kami pun mencobanya dengan aplikasi Ultimate Headphone Test yang diunggah oleh HiHAKER di laman Youtube-nya. Hasilnya, headset ini mencapai suara bas di angka sekitar 15 -16Hz. Angka ini tentu melebihi jangkauan kebanyakan headset yang rata-rata hanya mampu berkutat di frekuensi rendah sekitar 20Hz.


Cuitan Burung di CSGO Tetap Terdengar

Setelah mencoba dengan mode audio, kami pun mencobanya dalam mode game, sesuai takdirnya sebagai headset game. Gim yang kami pilih adalah CS:GO. Game tersebut menyajikan beragam suara yang membutuhkan perangkat dengar yang mumpuni untuk dapat memproduksinya secara sempurna.

Bagaimana hasilnya? Jika dinilai dalam skala 1 – 10, kami tak ragu memberi angka 8. Derap langkah dan kokangan senjata tentu masih mudah diakses oleh kebanyakan headset.

Tapi, bagaimana dengan cuitan burung, gonggongan anjing, ataupun ringkikan kuda yang ada saat kita mulai masuk ke dalam kota dalam sebuah suasana city war?

Ternyata, F35 masih mampu menyajikan suara-suara lirih itu untuk Anda. Suasana city war pun terasa makin realistis dan mencekam.

Sebagai headset game, selain kualitas driver speaker, kualitas mikrofon pun harus tetap diperhitungkan. Sayang seribu sayang, F35 hanya dilengkapi mikrofon kecil yang ada di samping pipi kiri. Meski mengklaim menggunakan fitur multidirectional microphone, suara yang masuk ke mikrofon kurang fokus.

Dengan fitur multi-directonal tersebut, suara yang masuk ke mikrofon jadi makin banyak. Akibatnya, saat digunakan untuk bermain dalam suasana gim yang ramai atau sebuah turnamen offline, pemain jadi agak kesulitan untuk mendengar suara dari rekan satu tim.  Tapi, jika turnamen diadakan secara online, kami yakin pemain takkan kesulitan berkomunikasi.

 

Daya Keluaran Besar

Dengan driver berdiameter 50mm dengan impedansi 32?, F35 mempunyai potensi untuk dimaksimalkan power output-nya. Besarnya diameter driver itu, semakin besar membran yang bisa digerakkan oleh  kumparan dan magnet di dalamnya sehingga suara yang keluar bisa penuh daya.

Power besar memang tidak serta merta menentukan kualitas suara. Tapi, dalam headset ini, kualitas suara yang mumpuni dan ditambah dengan daya keluaran suara yang besar, maka akan menghadirkan pengalaman mendengarkan yang sensasional.

Dibanderol seharga Rp250.000,- , kami rasa itu harga yang sesuai dengan “eargasm” yang bakal Anda rasakan. Dan, yang lebih penting, kami  yakin bahwa gamer professional takkan ragu untuk mengunakan headset ini saat turnamen…

Dengan catatan, gamer professional itu mengedepankan kualitas ya, bukan sekedar adu gengsi dan penampilan luar. Pernyataan itu bukannya tanpa dasar. Terbukti, salah satu tim juara 1 Nasional Turnamen League of Legends, memilih menggunakan produk ini dibandingkan produk yang lain.

Jadi, apakah headset pilihanmu?

 

 

 

 

 

 

Rexus Vonix F22

Hanya mendengar komentar dan review orang lain tanpa mencoba sendiri seperti makan es kepal tanpa topping: hambar. Seperti itu pulalah yang kami rasakan saat melihat dan mendengar banyak pendapat pengguna produk headset Rexus Vonix F22.

Beberapa youtuber me-review produk ini dengan tema yang sama: headset murah meriah, headset low budget, headset murah tapi mewah, dan lain sebagainya. Intinya jelas, headset ini merepresentasikan sebuah headset yang berkualitas namun dapat dimiliki hanya dengan sedikit Rupiah.

“Itu kata orang,” pikir kami. Padahal, sejujurnya, kata beragam kata orang tersebut membuat kami makin penasaran untuk mencoba produk Vonix F22 yang konon katanya sudah berkali-kali restock. Artinya, produk ini sangat laris sehingga harus didatangkan terus stoknya.

Setelah menunggu beberapa waktu karena menurut Admin Rexus, produk ini baru hadir sekitar akhir April lalu, akhirnya produk ini pun sampai juga di tangan kami.

Tak seperti produk headset gaming yang bisa “blink-blink” karena dilengkapi LED, F22 tampil sederhana dengan tanpa LED. Karenanya, headset ini tidak dilengkapi colokan USB. Hanya ada colokan microphone dan headphone.

Bentuk Paten
Untuk harga kurang dari Rp120.000, produk ini memang tak tampak murahan. Itu tampak dalam bentuknya yang paten. Kedua housing atau dome speaker-nya terbuat dari plastik keras yang berbentuk heksagonal memanjang sehingga menangkup kuping secara sempurna.

Meski terbuat dari plastik, housing speaker produk ini menggunakan plastik ABS yang keras. Sebagai gambaran saja, plastiknya mirip dengan plastik yang digunakan sebagai material lego.

Fungsi plastik keras tersebut adalah untuk menciptakan ruangan resonansi yang baik buat driver yang ada di dalamnya. Semakin keras material yang digunakan, resonansi atau gaung yang tercipta akan semakin baik. Tak heran, saat ini ada beberapa produsen in earphones menggunakan material keramik yang keras untuk menciptakan resonansi yang sempurna.

Bentuk paten lainnya juga tampak dalam headband-nya. Headband F22 terbuat dari plastik fleksibel yang kuat dan dilapisi dengan karet lembut. Saat kami menekuknya secara ekstrem, headband-nya akan kembali pada posisi semula.

Untuk mengaitkan kedua housing speaker, digunakanlah besi chrome anti karat yang kuat. Besi ini bisa naik turun sehingga berguna untuk mengatur lebar headset.

Washable Earcup
Saat digunakan, telinga kita akan masuk secara sempurna dalam cakupan earcup F22. Earpad produk ini memang banyak dipuji oleh beberapa orang. Selain karena awet dan nyaman digunakan, earpad ini juga dapat dilepas dan dicuci.

Saat mencucinya, pastikan mencuci secara lembut. Tak perlu digosok atau dikeringkan dengan menggunakan mesin cuci.

Tinggal direndam sebentar di air sabun, gosok pakai tangan sebentar, dan keringkan dengan cara diangin-anginkan. Cara ini akan membuat earcup F22 awet.

Keawetan produk headset F22 juga tampak bentuk kabelnya. Kabel sepanjang 2 meter produk ini dibungkus oleh dua selubung sekaligus. Untuk pembungkus dalamnya, digunakanlah serat nilon yang menyelebungi kabel, sedangkan untuk pembungkus luarnya, selang karet fleksibel membungkus erat.

Dua lapisan pembungkus kabel itu membuat headset F22 makin tangguh dan kuat. Inilah salah satu alasan mengapa banyak warnet yang menggunakan produk ini sebagai perangkat wajib usahanya.

Baca juga: Cara Merawat Earcup Headset

Coba Kinerjanya
Cukup untuk membahas kekuatan dan keawetan F22. Saatnya untuk mencoba kualitas suaranya, baik mikrofon maupun headphone-nya. Untuk mencobanya, kami pun menggunakan produk ini dalam permainan Battlefield 3. Kenapa gim itu? Kami ingin mencoba kedalaman surround yang dihasilkan oleh dua speaker berdiameter 40mm yang ada di dalamnya.

Buat kami, yang membedakan antara headset dan headphone adalah karakteristik suara yang dihasilkan. Jika audio headphone mengandalkan suara stereo yang keluar dari dua kanal, maka headset gaming yang baik hendaknya dapat mengakomodasi suara surround yang menciptakan kedalaman ruang.

Dalam gim Battlefield 3, headset F22 dapat menangkap suara derap kaki dengan baik. Suara kokangan dan tembakan senapan Tommy Gun pun terasa meletus secara detil.

Secara surround, headset Vonix F22 lumayan mengakomodir suara-suara frekuensi tinggi. Bagaimana dengan frekuensi rendah? Dengan ambitus frekuensi 20 – 20.000 Hz yang dimilikinya, kita memang tak tak bisa berharap banyak dengan permainan suara rendahnya. Itu terasa saat suara dentuman ledakan yang terdengar kurang tebal.

Selain suara bawahnya yang kurang tebal, Vonix F22 juga menggunakan impedansi atau hambatan yang besar, yaitu 32?. Konsekuensinya, suara yang dihasilkan kurang powerfull. Untuk mendapatkan suara yang keras, kita harus memaksimalkan tombol volume, baik yang ada di headset maupun level volume di komputer.

Mikrofon Minimalis yang Sensitif
Bagaimana dengan sensitivitas microphone-nya? Dengan ukuran Ø 6.0 x 5.0mm, magnet mikrofon headset ini lumayan detil. Sensivitasnya berada di kisaran -58dB ± 3Db, dalam kondisi tak ada suara lainnya. Tanpa teriak, suara kita akan terdengar jelas oleh pemain lain.

Hal itu karena teknologi omni directional microphone. Teknologi ini menempatkan driver microphone berada di ruang bebas sehingga memungkinkan membran mic menangkap suara dari berbagai arah.

Sayangnya, model mic seperti ini rentan distorsi sehingga gangguan suara yang di sekitar sumber suara berpotensi mengacaukan sinyal suara kita.

Meski demikian, hal ini dapat diatasi dengan sedikit keras sehingga sinyal suara yang masuk ke dalam mic lebih jelas dibanding suara sekitar. Toh, saat bermain gim, kita pun terbawa untuk berteriak, bukan?

Kesimpulan
Kami yakin bahwa para Youtuber tidak asal memberikan review. Apalagi review yang diberikan pun mempunyai kesamaan inti, yaitu headset Vonix F22 adalah headset berkualitas dengan harga yang sangat terjangkau.

Untuk menghadirkan nuansa permainan gim, kami rasa headset ini sudah mumpuni. Detil dan batasan suaranya jelas. Meski belum dilengkapi teknologi virtual 7.1 seperti Rexus Thundervox HX2, driver stereo headset ini dapat mengeluarkan sensasi surround yang luas dan detil.

Dengan desain yang simple dan kualitas material yang bandel, tak mengherankan, headset ini jadi salah satu pilihan para pengelola warnet. Kendala yang sering dikeluhkan para pemilik warnet adalah tidak adanya suku cadang earcup yang dijual bebas. Tapi, kami yakin, pihak Rexus akan segera menawarkan solusinya. Kita tunggu.

pixabay.com

Gamers, seringkali kita melihat spesifikasi produk headset gaming yang disertai fitur 7.1. Headset Rexus Thundervox HX2 pun membenamkan fitur tersebut di dalamnya.

Jadi, sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan angka itu? 7.1 adalah fitur teknologi pengaturan suara yang membagi (channeling) suara menjadi delapan titik yang terdiri dari satu sumber suara bass dan tujuh titik suara lain (suara tinggi dan suara tengah). Dengan demikian, suara yang dihasilkan pun menjadi surround.

Suara surround akan menyajikan suara yang lebih detail, luas, dan memberi kesan kedalaman sehingga kamu akan serasa masuk dalam suasana game atau konser musik yang sesungguhnya.

thundervox hx2

Seperti yang dilansir dari howtogeek.com, dengan fitur 7.1, suara yang dihasilkan akan lebih realistis karena efek pembagian kanal frekuensi secara lebih baik.

Buat para gamer, headset 7.1 diyakini dapat mengeluarkan suara-suara kecil yang muncul dalam game, sepeti suara kaki, suara kokangan senjata, atau suara gerakan musuh yang berada di dalam kita. Kamu bisa menikmati fitur teknologi 7.1 dalam Rexus Thundervox HX2.

Dengan menggunakan teknologi virtual 7.1, Rexus Thundervox HX2 akan menghadirkan efek sinematis saat kamu bermain game. Kamu pun akan merasa seperti dalam medan perang yang sesungguhnya. Dengan harga yang terjangkau, pengguna dapat menikmati suara berkualitas yang disemburkan oleh headset ini. Layak untuk dicoba!