Posts

Gamers, ada beberapa hal penting yang menentukan kualitas gaming headset. Sebenarnya, kualitas tersebut dapat dilihat dalam spesifikasi produk elektronika pasti dituliskan agar memudahkan pengguna mengetahui karakteristik dan kualitas produk yang hendak dibelinya.

Buat kalian yang tidak terlalu paham dengan istilah teknis untuk sebuah gaming headset, jangan kuatir. Berikut beberapa istilah mudah yang bisa dan wajib kamu ketahui sebelum membeli headset.

1. Range frekuensi

Kemampuan driver headset untuk menangkap frekuensi, baik rendah maupun tinggi. Biasanya, gaming headset mempunyai range frekuensi 20Hz – 20.000HZ. Artinya, headset itu bisa menangkap suara rendah (bas) di kisaran frekuensi 20Hz dan suara tinggi (trebel) di 20 ribu Hertz. Untuk audio headset berkelas biasanya mempunyai range 16 – 20.000Hz. Bahkan, ada yang memiliki range 15 – 20.000Hz, yang dibanderol dengan harga relatif mahal.

2. Sensitivitas speaker

Ini merupakan ukuran sensitivitas driver pada headset untuk mengenali sinyal elektronik yang berguna untuk menggetarkan membran di dalamnya. Biasanya, sensitivitas ini diukur berdasarkan ukuran desibel (dB). Semakin tinggi nilai desibel-nya, semakin sensitif headset. Gaming headset Rexus seri Thundervox mempunyai sensitivitas hingga 120 dB.

3. Sensitivitas mikrofon

Perbedaan headphone dengan headset adalah mikrofon. Headset mempunyai microphone yang bisa digunakan untuk berkomunikasi antar pemain saat bermain gim online. Secara mudah, carilah headset dengan nilai sensitivitas tinggi. Itu bisa dilihat dari angka ukuran sensitivitas yang diukur dengan desibel (dB). Secara lebih lengkap, selain sensitivitas, kalian juga perlu mempertimbangkan mengenai keseimbangan antara level noiseclipping point, dan distorsi.

Headset dengan mikrofon yang dilengkapi fitur omni-directional microphone, seperti Rexus Thundervox f35 atau Vonix F22, biasanya mempunyai angka sensitivitas tinggi karena dimampukan untuk menerima suara dari berbagai sumber.

4. Impedansi

Dalam mekanisme sebuah driver, terdapat magnet yang dilengkapi resistor untuk menghambat arus listrik mikro yang masuk ke dalamnya. Itu diukur menggunakan ukuran Ohm (?). Semakin rendah nilai Ohm-nya, semakin besar arus listrik mikro yang mengalir ke magnet driver dan kemampuan volume headset pun makin kencang. Untuk headset gaming, rata-rata impedansinya berada di kisaran 32 Ohm.

5. Diameter speaker

Yang dimaksud diameter di sini adalah ukuran lingkar driver speaker, bukan ukuran dome earpad. Semakin lebar diameter speaker-nya, biasanya suara yang dihasilkan juga makin luas. Rata-rata gaming headset dilengkapi dengan speaker berdiameter 50mm, seperti produk Rexus Vonix F19, Thundervox F35, Thundervox HX1, ataupun Thundervox HX2.

6. Earcup

Jangan sepelekan soal busa bundar ini ya, Gaess. Ngga cuma untuk membuat kuping nyaman, earcup atau bantalan busa telinga juga berfungsi penting sebagai pembentuk suara dan peredam bising dari luar. Jadi, suara yang dihasilkan oleh headset membutuhkan ruang resonansi agar produksi suara terbentuk dengan sempurna. Nahearcup tersebut berfungsi sebagai “ruang resonansi” itu. Earcup juga berfungsi sebagai passive noise reduction system atau peredam bising berteknologi pasif yang akan menghambat suara dari luar masuk ke dalam kuping saat kamu mendengarkan musik atau bermain game.

 

Gamers, salah satu jenis headset yang paling cocok  untuk mendukung mobile gaming adalah jenis  headset wireless atau nirkabel. Jenis headset ini membenamkan teknologi Bluetooth di dalamnya agar bisa pairing dengan source divice dengan menggunakan frekuensi radio. Seperti kita ketahui, Bluetooth beroperasi dalam pita frekuensi barengan 2,4 GHz.

Seperti kita ketahui, tampaknya mobile gaming makin tak terbendung. Makin banyak penggemar gim yang mulai tertarik dengan permainan gim dengan menggunakan peranti ponsel pintar.  Bisa dimengerti sih karena banyak gamer yang “mobile” sehingga membutuhkan media permainan yang bisa dimainkan di manapun dan kapan pun.

Dengan makin banyaknya pemain mobile gaming, peralatan yang mendukung permainan tersebut pun makin beragam. Selain ponsel pintar dengan RAM dan OS yang mumpuni, bermain mobile gaming makin nyaman dengan menggunakan headset Bluetooth.

 

Alasan Menggunakan Headset Nirkabel: Praktis

Teknologi yang menggunakan frekuensi radio memang makin banyak digunakan dalam sistem konektivitas gadget atau gawai. Meski merupakan teknologi yang tak lagi baru, Bluetooth tetap salah satu teknologi koneksi yang masih banyak digunakan hingga saat ini.

Salah satu alasan kenapa banyak orang masih menggunakan teknologi si gigi biru ini adalah segi kepraktisannya. Dengan menggunakan frekuensi, kita tak perlu berurusan dengan kabel yang kerap kali membuat ribet, tak rapi, dan kurang sedap dilihat.

Untuk koneksi lokal dengan tingkat transfer data yang relatif rendah, Bluetooth bisa diandalkan. Transfer data besar pun tetap bisa dilayani oleh Bluetooth, meski dalam waktu yang tak cepat.  Untuk Bluetooth versi 4.0, rata-rata kecepatan transfer datanya adalah sekitar 25MB per detik.


Keterbatasan Umum Bluetooth: Delay

Bagaimana dengan aktivitas transfer data besar dan membutuhkan kecepatan “real time”? Apakah Bluetooth bisa dihandalkan? Pertanyaan ini sebenarnya mendasari permasalahan yang kerap terjadi saat kalian mengalami “delay” atau “lag” suara saat menggunakan headset Bluetooth saat bermain gim.

Delaying atau nge-lag kerap dialami oleh gamer yang menggunakan headset dengan konektivitas Bluetooth. Tidak hanya satu atau dua orang yang mengalaminya, kasus ini sudah dialami oleh sebagian besar gamer.  Delay itu menyebabkan suara yang keluar tidak “real time”, ada keterlambatan beberapa detik.

Selain delay, penggunaan koneksi Bluetooth untuk headset gaming juga terkadang menimbulkan sedikit suara “Nging” saat suara dari gim berhenti.  Bagi beberapa telinga pengguna yang peka, suara “nging” itu terasa mengganggu.

Bagaimana solusinya?

Dua masalah umum ini kerap terjadi pada headset dengan koneksi Bluetooth, terutama Bluetooth yang masih menggunakan teknologi A2DP (Advanced Audio Distribution Profle) yang tak diragukan lagi kemampuannya dalam menghantarkan sinyal audio, tapi masih agak terseok-seok saat berhadapan dengan sinyal audio yang dikombinasikan dengan suara mikrofon dan visual dengan grafis kelas dewa seperti dalam permainan gim.

Namun, sebelum menyalahkan headset Bluetooth kita, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yaitu:

  1. Pastikan saat bermain dengan menggunakan headset Bluetooth, tidak ada driver lain yang sedang aktif di ponsel kamu. Itu berpotensi menyebabkan crash atau corrupt yang berpengaruh pada suara
  2. Adakah kamu mengunduh perangkat lunak yang berpotensi memperberat beban RAM ponsel kamu? Jika ada, uninstall perangkat lunak tersebut.
  3. Pastikan RAM ponsel pintar kamu cukup besar untuk memainkan gim dengan permainan grafis yang butuh kerja keras dalam memprosesnya.
  4. Gunakan perangkat lunak terbaru yang dianjurkan. Untuk gim, kalian bisa meng-update versi terbaru dari gim yang kalian mainkan.
  5. Untuk menghindari suara “nging”, pastikan baterai headset dalam keadaan full saat digunakan.
  6. Seperti yang dilansir dari howtogeek.com, satu cara yang paling tepat adalah engan menggunakan headset yang sudah didukung teknologi APTX Bluetooth Protokol. Sayangnya, sangat jarang headset yang sudah menggunakan tipe Bluetooth ini. Jika headset kamu sudah mendukung teknologi Bluetooth APTX, maka software di ponsel atau komputer pun harus mendukung teknologi yang sama. Saat ini, Windows 10 dan Android Oreo 8.0 sudah mendukung fitur ini.


Solusi Akhir: Manfaatkan Kabel AUX
Jika solusi di atas masih terlalu sulit dipraktikkan, maka cara terakhir yang lebih sederhana adalah dengan menggunakan koneksi kabel AUX. Tak bisa dipungkiri, penggunaan koneksi kabel tetaplah yang paling paten dan terbukti stabil.

Menyadari hal itu, Rexus menyertakan kabel AUX dalam tiap headset wireless-nya, seperti dalam produk Rexus M1 keluaran baru, Rexus Thundervox FX1, dan Rexus S3 Pro. Kabel AUX yang disertakan pada produk wireless headset Rexus mendukung voice sehingga headset bisa digunakan juga untuk menelepon.

Gamers, headset gaming terbaru Rexus, Thundervox HX 10, tampaknya menjadi idola baru di kalangan gamer, terutama pengguna produk Rexus. Setelah beberapa lama di-sounding melalui kanal sosial media Rexus, akhirnya headset ini pun dipasarkan.

Tanggapan konsumen tak main-main. Menurut keterangan pihak sales Rexus, penjualan headset ini termasuk tinggi. Bahkan, Capital Gaming, sebuah warnet di kawasan timur Jakarta, memutuskan untuk meminang puluhan headset ini untuk mengganti semua perangkat pengeras suara yang ada di warnetnya.

Sebagai pengguna produk Rexus dan pencinta audio, kami juga sangat tertarik untuk mencoba peranti ini. Rasa penasaran kami dimulai saat mendengar angka 10 yang disematkan dalam seri headset ini. Dalam urutan bilangan – dan penilaian dasar, angka 10 merupakan angka sempurna. Rexus tentu tak sembarangan menggunakan angka itu.

Setidaknya, mereka punya “beban moral” tinggi saat memilih angka 10. Mereka tentu takkan mengecawakan para konsumen. Rexus memang agak aneh dengan memilih seri angka 10 karena headset advanced mereka paling baru menggunakan seri “2”, HX2. Jika sekarang langsung lompat ke angka “10”, tentu bakal ada “wow experience” yang ditawarkan.

Ekspektasi para konsumen dengan angka 10 tentu adalah headset gaming yang sempurna dan ekspektasi ribuan konsumen itulah yang menjadi “beban” Rexus. Bagaimana jika ternyata HX10 tidak sesuai harapan? Bagaimana jika HX10 ternyata hanya headset kelas “kacang” yang biasa-biasa saja? Bagaimana jika para konsumen kecewa?

Headset Masif dalam Kemasan Eksklusif
Jangan Hanya Berandai-andai. Kini saatnya mencoba. Demi menjawab hasrat penasaran, kami ikhlas untuk merogoh kocek senilai Rp359.000, – untuk memboyong produk ini. Harga segini kami rasa masih masuk akal untuk sebuah headset gaming kelas menengah yang berkualitas. Harganya tak begitu jauh dengan pendahulunya, HX2.

Dan seperti biasa, proses pengiriman toko online Rexus tak pernah butuh waktu lama untuk menyampaikan paket ke depan pintu konsumen. Paket kemasan HX10 pun langsung kami dapatkan. Kemasannya berbeda dengan beberapa headset Rexus lainnya, lebih eksklusif. Ada label “Rexus Premium Gaming Quality” di kemasan luarnya. Ini menunjukkan bahwa produk ini masuk dalam jajaran produk premium Rexus.

Saat membuka kemasannya, tampaklah sebuah headset dengan kesan “macho” yang sangat kental. Dominasi warna hitam solid berpadu dengan model head-band atau bando kokoh yang berwarna hitam pula. Tak ada warna lain pada headset ini selain hitam. Bentuk dan warnanya memberi kesan solid dan masif pada headset ini.

Bentuk “Ora Neko-neko”, Utamakan Fungsional
Meski tampil sederhana, headset Rexus HX10 ini mengusung aspek fungsionalitas yang tinggi. Salah satunya tampak dengan dengan penggunaan bando atau head-band sebagai sebagai pendukung penyangga telinga.

Saat di mana banyak headset melupakan fungsi headband, dengan tampil hanya mengandalkan penyangga telinga yang diberi bantalan busa agar nyaman saat dikenakan di atas kepala, HX10 tetap mempertahankan penggunaan headband yang dilengkapi dengan besi penyangga yang kokoh nan fleksibel.

Apa keuntungannya? Jelas, headband tersebut akan mengikuti bentuk kepala tiap orang yang berbeda-beda bentuk dan ukurannnya. Alhasil, tentu saja model ini menjadi sangat nyaman digunakan, terutama dalam penggunaan jangka panjang.

Earcup, Donat Peredam Bising
Cukup membahas mengenai bentuk, kami pun tertarik dengan bentuk speaker dome atau earcup headset ini. Sepasang peranti ini merupakan peranti paling penting pada sebuah headset karena peranti inilah yang berfungsi untuk memproduksi suara sekaligus mengkondisikan telinga agar bisa mendengarkan suara semaksimal mungkin.

Jika kalian perhatian, bentuk earcup headset ini agak sedikit aneh. Apa yang aneh? Tebal dan berbentuk seperti donat. Ya, HX10 memang punya earcup dengan ketebalan di atas rata-rata. Ketebalan totalnya mencapai sekitar 6cm yang terdiri dari 2 cm ketebalan busa earpad dan 4 cm speaker dome.

Earpad headset ini masuk dalam golongan over ear earcup. Artinya, earcup-nya melingkupi telinga secara keseluruhan. Mode seperti ini tentu mempunyai beberapa keuntungan, yaitu nyaman digunakan untuk waktu yang lama dan efektif meredam suara.

Dengan diameter lingkar dalam 6cm, hampir semua ukuran telinga – kecuali telinga kaum Hobbit – bisa masuk secara sempurna. Nyaman banget. Busanya pun sangat nyaman, terlebih dilapisi dengan kulit sintetis PU leather yang lembut.

Dengan ketebalan busa 2cm, earpad ini juga sekaligus berfungsi untuk meredam suara dari luar. Inilah yang dinamakan sebagai teknologi passive noise reduction. Dengan cara ini, suara dari luar bakal tak terdengar, bahkan saat kalian belum menyalakan musik sama sekali.

Uniknya, earpad headset ini dapat dilepas-pasang sehingga dapat dibersihkan secara teratur dan diolesi dengan lotion agar tak mudah pecah-pecah dan sobek. Rexus juga menyediakan suku cadang earpad untuk tipe ini jika suatu saat nanti mengalami kerusakan. Pemasangannya sangat mudah.

Suara Apik, Rapi, Tertata, Manis Manja
Seperti biasa, kami takkan mengeluarkan hasil review tanpa mencobanya mendengarkan suaranya. Supaya lebih afdol dan fair, kami pun mencoba headset ini dalam dua fungsi, yaitu dalam mode audio dan mode game.

Dalam mode audio, kami memilih menggunakannya untuk mendengarkan musik bergenre EDM yang menyemburkan bass dengan beat yang cepat namun dituntut untuk tetap bisa mengeluarkan frekuensi suara dan treble secara bersamaan dan seimbang.

Lagu legendaris “Never Fade Away” kreasi John O’ Callaghan versi Andy Duguid pun kami geber. Tak tanggung-tanggung, kami pilh yang berformat FLAC. Hasilnya? Suara bas yang disemburkan terdengar menggelegar dan dalam. Suara bas tersebut tidak menutup keluaran frekuensi lainnya. Beberapa suara perkusi melodis yang bernada tinggi tetap terdengar sempurna.

Seperti jenis lagu progressive vocal trance, lagu itu menyajikan suara vocal yang berada di frekuensi mid-range. Hasilnya, featuring vocal milik Lo-Fi Sugar yang manis manja itu terasa tetap empuk terdengar di tengah dentuman bas yang ritmik rapi.

Efek Surround dengan Virtual 7.1
Biasanya, game headset “kurang” pada segmen nada rendah akibat mengutamakan efek surround-nya. Tapi, sepertinya HX10 ini tetap sadar dengan nada bawah meski mengusung efek surround. Seperti HX2, efek surround HX10 dipercayakan pada software yang berfungsi untuk “memanipulasi” suara stereo sehingga menjadi surround 7.1 secara virtual.

Virtual 7.1 menggunakan perangkat lunak yang akan mengolah suara sehingga memberikan kesan sinematik dan kedalaman. Hasilnya, pengguna headset 7.1 seakan-akan berada di dalam suasana yang ditampilkan dalam game. Untuk mendapatkan efek itu, unduh software-nya di rexus.id/dukungan dan instal di komputer.


Bas Tetap Menggelegar
Meski masuk dalam dimensi surround, produksi bas HX10 tetap tidak ketinggalan kok. Kita masih bisa mendengar efek nada rendah secara sempurna. Jika ditambah dengan vibrasi, efek itu akan menjadi makin sensasional.

Masih kurang yakin dengan kemampuan bas-nya? Kami pun mencobanya dengan aplikasi Ultimate Headphone Test yang diunggah oleh HiHAKER di laman Youtube-nya. Hasilnya, headset ini mencapai suara bas di angka sekitar 15 -16Hz. Angka ini tentu melebihi jangkauan kebanyakan headset yang rata-rata hanya mampu berkutat di frekuensi rendah sekitar 20Hz.

Bas yang besar itu tak lepas dari kapasitas driver. Dengan driver berdiameter 50mm dengan impedansi 32?, HX10 mempunyai potensi untuk dimaksimalkan power output-nya. Besarnya diameter driver itu, semakin besar membran yang bisa digerakkan oleh  kumparan dan magnet di dalamnya sehingga suara yang keluar bisa penuh daya.

Power besar memang tidak serta merta menentukan kualitas suara. Tapi, dalam headset ini, kualitas suara yang mumpuni dan ditambah dengan daya keluaran suara yang besar, maka akan menghadirkan pengalaman mendengarkan yang sensasional.

Getarannya Sampai ke Ubun-ubun

Nah, ini dia yang bikin kami makin jatuh cinta dengan headset HX10. Ya, fitur getar atau vibrasi yang bisa dikontrol.  Dengan  adanya fitur ini, suara bas jadi terasa sensasional karena tambahan fitur vibrasi yang membantu tendangan bas makin terasa ke telinga. Getarannya pun sampai ke ubuh-ubun. Geli-geli gimana gitu… .

Fitur ini tidak dimiliki oleh pendahulunya, HX2. Dan, yang lebih menyenangkan, vibrasi di headset ini dapat dikontrol seperti mengontrol volume. Tentu hal ini sangat membantu karena tanpa kontrol vibrasi, getaran yang tujuannya untuk menambah sensasi justru mengganggu dan membosankan.

Setelah mencoba dengan mode audio, kami pun mencobanya dalam mode game, sesuai takdirnya sebagai headset game. Gim yang kami pilih adalah Point Blank. Game tersebut menyajikan beragam suara yang membutuhkan perangkat dengar yang mumpuni untuk dapat memproduksinya secara sempurna.

Bagaimana hasilnya? Jika dinilai dalam skala 1 – 10, kami tak ragu memberi angka 8. Tembakan dan letusan senapan terasa menggelegar. Dengan karakteristik headset secara keseluruhan yang warm dan full bass, tentu suara ledakan bisa terakses secara sempurna. Tapi, untuk suara detil seperti tapak kaki, meski tetap terdengar, suara tapak kaki di HX10 sedikit tertutup oleh suara ledakan yang bombastis. Karakteristik ini sedikit berbeda dengan HX2 yang lebih clear dan bright.

Flexible Microphone Stick
Sebagai headset game, selain kualitas driver speaker, kualitas mikrofon pun harus tetap diperhitungkan. Nah, HX10 sudah dilengkapi dengan mikrofon kecil yang fleksibel dan dapat ditarik hingga ke samping mulut.

Dengan mikrofon yang focus-directional tersebut, suara pengguna akan terdengar secara jelas meski banyak teriakan di sekitarnya. Hal ini tentu akan sangat membantu gamer saat bermain di turnamen. Komunikasi antar tim pun akan mudah diterima oleh sesama anggota tim.

Dengan beragam fitur yang ada di dalamnya dan tentu saja, kualitas suara yang mendekati sempurna – tentu saja, tak ada yang sempurna di dunia ini – headset ini pantas untuk diajak berkompetisi di turnamen berkelas.

Setelah me-review-nya, kami bisa mengerti alasan Rexus Indonesia menyematkan angka 10 pada headset ini.

Gamers, secara garis besar, saat ini ada dua macam mode konektivitas headset (gaming) yang ada di pasaran, yaitu headset dengan konektivitas kabel dan headet nirkabel yang memanfaatkan teknologi Bluetooth.

Keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebelum memilih salah satunya, yuk kita pelajari dahulu satu-satu berdasarkan beberapa aspek.

Aspek Kepraktisan
Jelas, juara dalam hal ini adalah headset nirkabel yang berbasis Bluetooth. Dengan dilengkapi teknologi Bluetooth, headset nirkabel mempunyai jangkauan hingga sekitar 10meter dari sumber suara tanpa menggunakan kabel.

Berbeda dengan headset kabel yang maksimal mempunyai kabel sepanjang 2 meter. Kabel juga membuat pergerakan kita jadi sedikit terbatasi.

Aspek Kemudahan dalam Aplikasi
Buat para gamer dan orang yang nge-“geek”, mengoneksikan antara headset nirkabel ke ponsel atau gawai lainnya tentu bukan hal yang sulit. Tapi, bagi orang yang “awam” dengan peralatan berteknologi tinggi hal itu bukannlah hal mudah.

Secara keseluruhan, headset kabel lebih sederhana pengaplikasiannya. Pengguna tinggal mencolokkan ke port yang biasanya berdiameter 3,5mm dan secara otomatis headset akan memproduksi suara yang keluar dari gawai.

Aspek Perkembangan Teknologi
Headset nirkabel yang berteknologi Bluetooth memiliki perkembangan teknologi yang lebih cepat. Pada tahap awal kehadiran Bluetooth, hanya ada fitur Advanced Audio Distribution Profile (A2DP) yang secara otomatis meng-compress file audio asli. Saat ini, teknologi Bluetooth sudah menggunakan teknologi baru yang dikembangkan oleh Qualcomm, yaitu aptX, teknologi penghantar sinyal audio dengan kecepatan dan kualitas semirip mungkin dengan file audio asli.

Aspek Kualitas Suara
Bagaimanapun, headset dengan kabel mempunyai daya hantar lebih bagus karena menggunakan media kabel sehingga kualitas suara yang dihasilkan oleh headset kabel lebih bagus dan stabil daripada menggunakan frekuensi radio layaknya Bluetooth.

Aspek Harga
Dari aspek harga, saat ini memang agak sulit dibandingkan keduanya, saking banyaknya jenis dan tipe headset dari berbagai tipe. Tapi, dari membandingankan sekilas, harga headset dengan Bluetooth lebih mahal dibandingkan produk lain sekelasnya. Itu disebabkan adanya penambahan komponen Bluetooth dan baterai lithium yang rechargeable.

Aspek Gangguan
Nah, ini yang kerap dirasakan oleh para pengguna headset ber-Bluetooth. Dengan mengandalkan frekuensi sinya, headset nirkabel lebih berpotensi terkena gangguan seperti distorsi “kresek-kresek”, suara dengung  yang keluar meski volume nol, rasa panas di kuping akibat baterai, dan banyak lain.

Gangguan yang dihadapi headset kabel lebih berkutat masalah kabel yang tidak rapi ataupun colokan jack yang sudah agak longgar sehingga harus beberapa dibenarkan posisinya.

Solusi: Dual Mode Connectivity Headset
Dengan makin banyaknya permintaan konsumen yang menginginkan produk headset yang praktis, ergonomis, mudah aplikasinya, punya suara berkualitas file audio asli, dan minim distorsi, maka produsen pun berlomba memproduksi headset dengan dual konektivitas, bisa menggunakan koneksi kabel ataupun nirkabel.

Rexus juga hadir dengan beberapa produk headset yang memiliki dual konektivitas, yaitu Rexus X1, Rexus M1, dan produk teranyar Rexus S3 Pro. Ketiga produk wireless ini memiliki port 3,5mm yang bisa dikoneksikan dengan kabel dengan jack 3,5mm sehingga pengguna dapat memilih mau menggunakan Bluetooth atau kabel.

Jadi, mana pilihanmu?

Baca juga: Review Rexus X1: Sorry, Ini Bukan Gaming Headset

Gamers, seperti kalian ketahui, gaming headset didukung oleh beberapa model colokan konektor. Yang pertama adalah model konektor dengan tiga colokan yang terdiri dari colokan headphone (berwarna hijau), colokan untuk mikrofon (pink), dan colokan untuk daya (USB). Model ini dapat ditemukan di gaming headset Rexus seri Vonix, seperti Vonix F19, F22, F26, ataupun F55.

Yang kedua adalah model konektor USB yang bisa digunakan untuk ketiga fungsi di atas. Biasanya, headset keluaran terbaru sudah mengaplikasikan model ini, seperti pada Rexus Thundervox F35, HX1, HX2, ataupun HX10.

Saat menyambungkannya dengan komputer atau laptop, tentu colokan tersebut takkan membuat masalah yang memusingkan kepala. Komputer atau laptop memiliki port yang dapat sekaligus dapat disambungkan dengan masing-masing colokan bawaan headset.

Artikel terkait: Cara Koneksi Keyboard, Mouse, dan Gamepad Android

Kendala baru muncul saat kalian ingin mengoneksikan gaming headset ke ponsel, baik untuk bermain mobile gaming, mendengarkan musik, atau untuk menerima telepon, layaknya headset lainnya. Kenapa? Karena di pada ponsel hanya ada satu port audio 3,5mm dan colokan mikro USB.

Bagaimana cara mengakalinya? Yuk, ikuti beberapa tips berikut.

  1. Gunakan converter 3,5mm

Buat gaming headset yang mempunyai tiga colokan, kamu bisa menggunakan audio mic converter. Converter tersebut banyak dijual di toko-toko elektronik. Murah, kok.

 

Tapi yang perlu diperhatikan adalah memilih audio mic converter, bukan sekedar audio converter, agar microfon headset tetap bisa berfungsi.

Apa yang membedakan?

  • Coverter audio stereo hanya mempunyai dua sekat.
  • Converter audio mikrofon mempunyai tiga sekat (lihat gambar).

Foto: Howtogeek

Kamu bisa memilih converter yang menggunakan kabel atau berupa dongle, sesuaikan dengan selera dan bujet kamu.

Catatan: Dengen menggunakan converter ini, kabel USB headset bisa dicolokkan atau tidak. Jika dicolokkan, lampu headset akan menyala. Untuk mencolokkannya, dibutuhkan converter USB.

  1. Konverter USB On The Go (0TG)

Buat kalian yang memiliki headset gaming yang punya single USB connector, maka agar bisa terhubung dengan ponsel adalah dengan menggunakan converter USB On The Go (OTG). Converter ini akan membuat tiga fungsi (headphone, mikrofon, ataupun sumber daya) bisa diaktifkan.

Syaratnya, ponsel kamu sudah mendukung fitur USB OTG dan USB 3.1. Saat ini, beberapa ponsel yang masih menggunakan USB 2.0 belum capable dengan konektivitas ini.

Buat ponsel yang mempunyai konektivitas USB Type C, maka cara di atas bisa digunakan. Bedanya, kalian harus membeli converter USB type C.

  1. Koneksi Bluetooth

Cara lain yang bisa digunakan untuk mengoneksikan headset gaming kalian dengan ponsel adalah dengan menggunakan koneksi Bluetooth. Syaratnya tentu headset gaming yang dimiliki harus tipe nirkabel dan punya konektivitas Bluetooth, seperti Rexus M1, Rexus X1, atau produk baru Rexus S3 Pro.

Dengan Bluetooth, fungsi mikrofon maupun audio dapat sekaligus aktif saat Bluetooth headset dengan ponsel terkoneksi.

Gamers, Steam Summer Sale memang menjadi kesempatan para gamer PC untuk mendapatkan game-game terbaru dengan harga diskon yang menarik. Diskonnya pun ngga main-main, ada yang mencapai 90%! Buat kalian yang baru mengetahui informasi ini, masih ada kesempatan seminggu untuk berburu gim karena Steam Summer Sale ini bakal ada hingga 6 Juli mendatang.

Memang, tidak semua gim yang didistribusikan Steam didiskon. Tapi, tak dipungkiri, banyak gim menarik yang masuk dalam daftar diskon gila-gilaan ini. Mau tahu apa saja gim yang disunat harganya? Ini dia daftarnya.

Foto: Istimewa

1. Dying Light (Diskon 60 – 67%)
Dalam gim ini, beberapa aksi seperti parkour ataupun crafting tersaji menantang. Makin menantang di tengah-tengah tugas pemain untuk membasmi zombie.

2. DARK SOULS™ III (Diskon 75%)
Gim ini mempunyai tingkat kesulitan yang termasuk tinggi. Ketrampilan dan strategi pemain sangat dibutuhkan.

3. Rust (Diskon 75%)
Gim survival mempunyai misi membangun kerajaan sendiri. Di sini, player dituntut untuk berinteraksi dengan banyak orang.

4. Left 4 Dead 2 (Diskon 90%)
Salah satu game zombie survival ini termasuk gim legendaris. Hebatnya, sampai saat ini gim ini masih laku. Kenapa? Pertama, karena gim ini terus dimodifikasi, meliputi senjatanya, tekstur karakter anime, hingga map buatan komunitas yang tentu menambah keseruan bermain multiplayer bersama-sama.

5. ARK: Survival Evolved (Diskon 67%)
Buat kalian pecinta petualangan, terutama yang suka dengan suasana pra sejarah, gim buatan Studio Wildcard ini akan menyajikan permainan grafis yang menarik. Tentu, dibutuhkan komputer yang mumpuni untuk mengakses gim ini.

6. PlayerUnknowns Battleground (Diskon 33%)
Gim yang turut menjadi pelopor era Battle Royale dunia ini menyajikan suasana realistis yang menarik.

7. Dead Cells (Diskon 40%)
Gim platformer ini memiliki gameplay yang sangat bagus dan juga konsep menarik. Gim ini memeroleh rating bagus di Steam dan Polygon 9/10.

Foto: Steam

8. Rise of the Tomb Rider (Diskon 70%)
Gim besutan Square Enix ini memang sudah jadi legenda di dunia gim, terlebih berkat ikon Tomb Raider. Segera dapatkan, mumpung diskonnya lagi gede banget.

9. Fallout: New Vegas (Diskon 67%)
Pengembang gim Bethesda boleh berbangga atas perolehan gim ini. Meski grafisnya kurang bagus jika dibandingkan dengan gim terbaru lain, gim ini tetap menarik untuk dimainkan.

10. Stardew Valley (Diskon 20%)
Stardew Valley memiliki story dan juga gameplay yang panjang. Menurut info, gim ini ini akan memiliki mode multiplayer.


Gamers
, kalian pasti sudah tak asing lagi dengan fitur yang satu ini pada sebuah headset ataupun headphone. Ya, noise reduction. Fitur ini memang tak lagi baru karena sudah lama, produsen headset atau peralatan audio membenamkannya dalam produk yang mereka buat.

Noise reduction dapat diartikan sebagai sebuah fitur yang berguna untuk mengurangi distorsi atau gangguan suara dari luar. Tujuan semua orang saat menggunakan headset ataupun headphone tentunya adalah mendengarkan musik atau suara yang muncul dari perangkat pemutar musiknya.

Nah, proses mendengar itu jadi terganggu saat suara dari luar masuk ke dalam telinga dan mengganggu musik yang sedang dinikmati. Agar hal tersebut dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan, digunakanlah fitur noise reduction itu.


Luruskan Pengertiannya

Saat ini, secara garis besar ada dua istilah yang digunakan untuk teknologi pengurang kebisingan itu. Apakah itu? Noise reduction dan noise cancelling. Keduanya mungkin mirip namanya, tapi secara teknologi, keduanya jauh berbeda.

Terminologi noise cancelling mengacu pada perangkat berteknologi mutakhir yang dibenamkan dalam sebuah headset atau headphone yang secara aktif berfungsi untuk meminimalkan atau bahkan menghilangkan suara bising dari luar.

Sedangkan noise reduction bekerja secara lebih sederhana. Sistem penahan bising ini bekerja secara paif untuk menghambat suara luar yang masuk ke dalam telinga saat menggunakan headset ataupun headphone.

Yuk, lebih kita rinci perbedaannya.


Active Noise Cancelling

Tak terbantahkan lagi, sistem active noise cancelling merupakan teknologi paling top untuk menghambat suara dari luar. Beberapa headphone atau headset memasukkan sebuah perangkat atau driver berteknologi tinggi di dalamnya.

Driver tersebut akan memproses suara sehingga suara lain selain suara musik yang diputar oleh perangkat musik akan di-delay atau ditahan.  Hasilnya, suara yang masuk ke telinga sudah difilterisasi dan bebas distorsi.

Sayangnya, tidak semua suara “pengganggu” bisa ditahan oleh fitur active noise cancelling. Secara umum, driver diprogram untuk mengenali frekuensi suara distorsi, seperti suara kendaraan bermotor atau pesawat. Tapi, untuk beberapa jenis suara di luar frekuensi tersebut, driver akan kesulitan mengenali dan menahannya.

Passive Noice Reduction

Nah, istilah noise reduction yang sering dipakai, seperti pada headset Rexus, merujuk pada teknologi passive noise reduction.

Istilah noise reduction sebenarnya sama dengan mengisolasi suara dengan membuat sekat yang rapat pada telinga sehingga suara dari luar tidak bisa masuk.

Jadi, headset atau headphone dengan fitur passive noise reduction mengandalkan kualitas earpad untuk “menyumbat” telinga agar suara dari luar tidak mengganggu suara yang dihasilkan oleh pemutar musik atau komputer. Dalam teknologi noise reduction, tidak diperlukan driver.

Dalam headphone atau headset, earpad yang berkualitas mampu menutup kuping secara sempurna. Sedangkan dalam in earphone, fungsi penyumbat suara diserahkan pada kemampuan lapisan silikon atau karet yang berfungsi sebagai earpad.


Mana yang Lebih Baik?
Teknologi tidak bisa bohong. Teknologi active noise cancelling tentu lebih bagus dalam menahan kebisingan. Tapi, untuk mendapatkan headset dengan fitur tersebut tentu kamu butuh bujet yang lumayan tinggi.

Selain itu, active cancelling membutuhkan sumber daya. Jika kalian menggunakan headset nirkabel dengan active noise cancelling, daya baterainya tentu relatif lebih boros.

Berbeda dengan passive noise reduction. Headset atau headphone dengan teknologi ini jauh lebih murah. Secara kualitas penurunan kebisingan pun sebenarnya tak jauh beda.

Sebagai contoh, meski menggunakan headset Rexus X1 yang notabene bersistem on ear dan passive noise reduction, suara dari luar tetap bisa terkurangi beberapa persen. Saat musik dinyalakan, suara luar pun secara otomatis makin tak terdengar.

Kesimpulannya, buat kalian yang punya bujet lebih, memilih headset dengan active noise cancelling adalah hal yang bisa dibenarkan. Tapi, buat penggemar musik atau gaming dengan common budgeting, fitur passive noise reduction tetap bisa diandalka

Gamers, dalam artikel Apa yang Dimaksud dengan Gaming Headset 7.1, sudah dijelaskan arti dari gaming headset 7.1. Intinya, headset ini adalah perangkat pelantang suara yang menggunakan teknologi yang dapat mengeluarkan suara surround sehingga menampilkan suasana realistis gim yang dimainkan.

Dengan teknologi 7.1, terdapat kanalisasi frekuensi suara berdasarkan intensitas frekuensi, baik itu suara berfrekuensi rendah, menengah, ataupun tinggi. Kanalisasi itu terbagi dalam 7 (tujuh) titik suara yang menyemburkan suara frekuensi tinggi dan menengah, serta 1 (satu) suara berfrekuensi rendah atau bas.

Dengan kanalisasi atau pembagian jenis suara tersebut, maka telinga akan membedakan letak masing-masing suara. Suara yang dihasilkan pun lebih detil. Kita bisa mendengarkan derap kaki musuh yang mendekat, kokangan senjata, derit pintu yang dibuka, hingga ledakan senapan atau granat.

Saat ini, gaming headset mempunyai dua jenis teknologi surround 7.1, yaitu Virtual 7.1 dan Real 7.1. Kedua teknologi tersebut digunakan oleh produsen headset gaming.

Yuk, kita pahami teknologinya dan keuntungan serta kelemahannya.

 

Headset Virtual 7.1

 

Apa itu Headset Virtual 7.1?

Sesuai dengan namanya, “virtual”, headset ini sebenarnya adalah headset stereo yang memiliki dua driver speaker namun dengan bantuan perangkat lunak, dibuat seakan-akan mengeluarkan suara surround 7.1.

Apakah itu sebatasgimmick atau strategi produsen dalam menaikkan nilai jualannya? Tidak bisa dikategorikan seperti itu.

Virtual 7.1 bukan sekedar gimmick karena memang ada teknologi yang dapat “memanipulasi” sistem pendengaran dan otak manusia sehingga merasakan sensasi surround, seperti yang bisa kalian dapatkan saat bermain gim dengan mengenakan Rexus Thundervox HX-2.

Bagaimana cara kerja headset Virtual 7.1?

Menurut informasi yang dicuplik dari ign.comheadset virtual 7.1 membenamkan internal atau eksternal pre-amplifier atau berupa perangkat lunak untuk mengubah sinyal suara stereo menjadi sinyal suara surround.

Amplifier tersebut menggunakan script perintah algoritma untuk membagi kanal suara. Salah satu contoh pembagiannya adalah dengan men-delay suara rendah atau bas agar serasa berada di titik pusat ruangan. Sebaliknya, perangkat lunak itu akan menonjolkan suara mid-range dan high sehingga detil suara sangat terasa dari pinggir.

Karena di-delay, perangkat headset virtual 7.1 biasanya mempunyai kekurangan dalam menggelontorkan suara bas. Tapi, produsen tak kehilangan akal. Untuk meningkatkan sensasi getaran bass, dibenamkanlah fitur vibrasi sehingga saat suara bas muncul, headset akan bergetar.

Apa kekurangannya?

Tentu saja, karena menggunakan teknologi virtual, suara yang dihasilkan tentu kurang detil dibandingkan dengan produk headset Real 7.1.  Biasanya, kelemahan headset virtual 7.1 terletak pada kekuatan bas yang dihasilkan. Suara yang dihasilkan akan cenderung berupa suara dalam ruangan (hall atau cinematic).

Apa kelebihannya?

Tentu saja, soal harga. Dibandingkan dengan produk headset Real 7.1, headset ini jauh lebih ekonomis. Dengan harga yang sangat jauh berbeda, namun dengan sensasi yang 11-12, tentu menjadi pertimbangan utama buat pengguna. Selain itu, saat ini, banyak produsen yang menggunakan driver besar untuk mendongkrak kekuatan suara headset Virtual 7.1.

 

Headset Real 7.1

Apa itu Headset Real 7.1?
Headset ini menggunakan satelit speaker asli sesuai dengan jumlahnya. Dalam sebuah housing atau dome speaker, terdapat beberapa driver speaker yang masing-masing menyemburkan suara sesuai dengan kanal frekuensi yang sudah diatur.

Foto: howtogeek.com

Bagaimana cara kerjanya?

Headset real 7.1 mengadopsi prinsip kerja home theatre yang menempatkan beberapa speaker satelit di sekeliling pendengar agar menciptakan efek surround dengan tingkat keluasan maksimal. Dengan efek surround tersebut, pendengar serasa masuk dalam situasi nyata sebuah gim.

Biasanya, headset real 7.1 akan memposisikan speaker dengan driver terbesar di tengah untuk mengeluarkan suara bas yang empuk dan menempatkan speaker kecil-kecil di beberapa titik sehingga terdapat jarak antara satu suara dengan suara lain.

Apa kekurangannya?

Jelas, segi harga jadi pembeda headset ini dengan produk headset virtual. Dengan menggunakan 6 atau 8 speaker, tentu saja ongkos produksi headset real 7.1 tetap lebih tinggi.

Apa kelebihannya?

Kekuatan banyak driver speaker yang dijadikan satu tentu nyata. Bas yang dihasilkan juga lebih mantap karena menggunakan driver berdiameter besar dengan membran yang luas. Selain itu, detil suara yang tercipta juga lebih nyata.

Foto: gamezap

Kesimpulan?

  1. Kemampuan telinga mendengar layaknya lidah saat mencecap masakan. Masing-masing orang punya kepekaan dan citarasa tersendiri dalam mencecap atau mendengarkan suara. Jadi, entah itu headset Real 7.1 ataupun Virtual, pastikan kamu membeli headset yang sesuai dengan selera pendengaran kamu.
  2. Keputusan ada di tangan para pecinta gim, mau menggunakan headset Real 7.1 atau Virtual 7.1. Sesuaikan dengan bujet, level, dan kebutuhan permainan. Jika kalian masih berada di level pemain semi pro atau bahkan baru belajar, maka headset Virtual 7.1 seperti Rexus Thundervox HX2, sudah dapat memenuhi kebutuhan bermain gim kamu.

Portfolio Items