hoax,iphone

foto: pixabay

“Wah, ada gamers yang menikahi anak Donald Trump. Share ah,” gumam Sibro sambil memencet tombol share. Dan, dalam sekejap, berita bohong tersebut menyebar di semua akun yang terkoneksi dengan Sibro.

Gamers, perlu kita sadari bahwa saat ini, seiring dengan perkembangan media daring yang makin masif, banyak sekali beredar informasi yang bisa kamu akses. Informasi tersebut tentu sangat berguna untuk mendukung aktivitas kita.

Sayangnya, di antara jutaan informasi yang beredar tiap hari, banyak pula informasi atau berita yang tak terbukti kebenarannya alias Hoax. Dalam arti harafiah, hoax (baca: hoks, bukan hoaks) berarti lelucon atau jokes.

Dalam pengertian sekarang, hoax dipahami sebagai berita tak benar atau kabar bohong. Dalam etika pemberitaan, hoax diartikan sebagai berita yang tak bisa dipertanggungjawabkan secara proporsional – dalam bahasa kerennya, tidak bisa diverifikasi dan difalsifikasi.

Salah satu peristiwa atau momentum yang paling banyak diwarnai berita hoax adalah pilkada DKI 2017 lalu. Jutaan berita yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan berseliweran seperti lalat di atas bangkai.

foto:pixabay

Pemberitaan yang tidak proporsional, menyudutkan salah satu pihak, dan bahkan memuat unsur fitnah begitu mudah kita akses melalui media sosial. Dengan mudah, orang pun membagikan hal yang belum tentu benar itu melalui akun media sosialnya.

Saking mudahnya tersebar, Harian New York Times mengistilahkan hoax sebagai “virus digital”. Tak hanya mudah tersebar, hoax juga dapat menyebabkan “penyakit masyarakat” berupa opini publik yang salah namun dapat menciptakan kegemparan, kegaduhan, bahkan class action.

Dua Faktor Penyebab
Menurut Rexus.id, kehebohan dan masifnya penyebaran berita hoax saat ini dipengaruhi oleh dua faktor utama. Faktor yang pertama adalah kemudahan teknologi yang membuat penyedia (provider) konten hoax membuat berita dan menyebarkan melalui situs kloningan yang seakan-akan terlihat valid.  Bisa jadi, provider konten hoax itu muncul karena ada permintaan (demand) dari sebuah instansi atas kepentingan tertentu.

foto: pixabay

Seperti dilansir dari kompas.com, menurut Sigit Widodo, COO Pengelola Nama Domain Indonesia (Pandi), peredaran situs web hoax dan scam marak karena tools untuk membuat situs web semacam itu tersedia lengkap dan mudah untuk digunakan.

Dia mencontohkan sebuah layanan yang bisa menjiplak tampilan sebuah website, hanya dengan memasukkan nama domain website yang ingin ditiru. Menurut Sigit, ada kesamaan antara situs-situs hoax dan scam di internet.

Akibatnya, pengguna berpikir bahwa situs web hoax atau scam itu benar-benar merupakan situs resmi, sehingga terpancing mengikuti jebakan (phising). Ada juga yang menyamar sebagai situs media sosial untuk membuat pengguna memasukkan username dan password.

Kecenderungan “Ngerumpi”
Faktor yang kedua adalah kondisi masyarakat sendiri sebagai penerima sekaligus mediator penyebaran hoax. Jika boleh disimpulkan, ada dua hal yang menyebabkan kondisi masyarakat kita masih gagap menghadapi serbuan berita bohong.

foto: pixabay

Pertama, faktor kemampuan masyarakat menerima informasi. Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) memandang munculnya fenomena penyebaran berita hoax lantaran masih rendahnya literasi informasi digital masyarakat negeri melalui internet.

Masyarakat kita cenderung suka menerima berita sepenggal yang dianggap menarik. Faktor kurangnya membaca berbagai referensi membuatnya mereka menilai bahwa informasi itu sebagai “satu-satunya” informasi yang benar. Kurangnya minat baca itulah yang menyebabkan minimnya faktor pembanding dalam pola pikir masyarakat kita.

Kedua, kecenderungan ngerumpi. Masyarakat Indonesia pada dasarnya adalah homo socius. Artinya, kita suka berinteraksi dengan orang lain. Dalam interaksi itu, mereka ingin mempunyai kesamaan bahan obrolan donk. Karenanya, mulailah diangkat tema menarik dari sebuah berita yang belum tentu kebenarannya untuk dijadikan bahan obrolan.

Kecenderungan homo socius masyarakat Indonesia juga ditunjukkan dalam kecenderungan untuk saling berbagi, terutama dalam kelompok yang sama. Tak heran, kita lihat banyak orang berbagai kopi dalam cangkir yang sama, berbagi rokok dengan menghisap sebatang rokok yang sama, hingga berbagi berita yang dianggap menarik atau bermanfaat – kecuali berbagi pasangan atau pacar, tentunya. Semangat “berbagi” itu jugalah yang membuat berita hoax mudah tersebar.

Bagaimana Mengatasinya?
Maraknya berita hoax saat ini sudah sangat meresahkan dan merugikan. Karenanya, pemerintah Indonesia, terutama melalui instansi Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) dan Polisi RI, begitu gencar melakukan antisipasi penyebaran berita hoax di masyarakat. Kemenkominfo, contohnya, baru-baru ini mendatangkan mesin sensor pencari (crawling) konten negatif dan hoax.

Dilansir dari laman resmi kominfo.go.id, Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo, Samuel Abrijani Pangerapan mengatakan, mesin ini bekerja secara efektif dalam mengidentifikasi konten negatif. Dikatakan konten negatif bisa dilihat dari seberapa besar pengaruh (impact) dan tingkat keviralannya dalam dunia siber.

Begitu pula dengan Polri. Dengan landasan hukum UU Informasi dan Transaksi Elektronik No 11 tahun 28 Pasal 28 ayat 1 dan 2, Polri membentuk tim siber yang mengantisipasi penyebaran hoax. Perlu diketahui, dalam UU tersebut, penyebar berita hoax dan konten yang memuat kebencian dapat “dicyduk” dan dimintai pertanggungjawabannya secara hukum.

Sudah banyak orang yang tersandung masalah hukum akibat ikut menyebarkan konten yang tidak bisa dipertanggung jawabkan itu. Nah, agar kamu tidak termasuk salah satu dari orang tersebut, ada beberapa hal yang perlu kamu ketahui saat memeroleh berita yang kurang jelas di dalam akun media sosialmu.

1. Makin rajin baca, bung.
Baca dulu berita yang kamu terima dari sebuah laman atau media sosial secara seksama. Jangan buru-buru untuk menyebarkan ke akun teman-teman atau grup kamu.

2. Cari referensi lain.
Saat kamu menerima sebuah berita, cari informasi yang sama melalui mesin pencarian. Jika ada website resmi lain yang memang membuktikan bahwa sebuah berita itu benar, maka kamu bisa mulai mempercayai berita itu.

3. Waspadai judul provokatif.
Menurut Septiaji Eko Nugroho, Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax, berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya pun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax.

4. Cek nama domain

Menurut Sigit Widodo, COO PANDI, situs resmi pasti menggunakan domain sesuai nama perusahaan atau jasa. Apabila menggunakan domain umum seperti Blogspot, maka kesahihannya diragukan. Domain .id, seperti rexus.id, relatif lebih aman karena pemilik domain harus mendaftarkan diri dengan memakai kartu identitas dan alamat asli.

5. Cek informasi kontak
Website resmi biasanya selalu mencantumkan informasi kontak pengelola situs yang bersangkutan. Waspadai website yang tidak mencantumkan kontak.

6. Fitur “Whois”
Di internet ada berbagai tool “Whois” yang bisa digunakan untuk memperoleh informasi mengenai pengelola di balik sebuah domain website. Apabila sebuah situs tidak menampilkan identitas lengkap pengelola (di-protect), maka website tersebut perlu dicurigai kesahihannya.

7. Cek di daftar website resmi.
Kementerian Komunikasi dan Informatika menyediakan registrasi untuk para Penyelenggara Sistem Elektronik (termasuk website) di Indonesia yang bisa dikunjungi di alamat pse.kominfo.go.id.

8. Cek kebenaran foto yang digunakan.
Banyak hoax yang menyertakan foto. Untuk melihat kebenaran foto aslinya, kamu bisa memanfaatkan mesin pencarian Google atau fitur aplikasi di tineye.com.

9. Think before you share
Ini yang penting. Gunakan akal sehat dalam bermedia sosial, Bro. Jangan asal share atau ketik “like“. Satu sentuhan pada tombol itu dapat mempengaruhi masa depan seseorang. Sebagai contoh, dilansir dari huffingtonpost.com, sebuah berita hoax yang memberitakan Hillary Clinton melakukan pelecehan seksual di sebuah toko pizza di Washington DC, menyebabkan pemilik dan semua karyawan toko pizza itu mendapat ancaman pembunuhan!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *